Sudah sampai di mana hubungan kita sesama muslim

Ilustrasi MoteoO/pixabay

JANGAN dulu kita memikirkan soal toleransi antar umat beragama jika sesama agama saja masih terjadi intoleran. Sesama agama masih membesar-besarkan perbedaan, masih saling menghujat, bullying, hingga saling mengkafirkan.

Ada yang sebenarnya telah kita lupakan hari ini. Jika kita berada dalam sebuah kelompok, seolah kita menjadi kelompok yang terbaik. Lalu mengabaikan kelompok yang tidak sepaham dengan kita.

Kelompok bisa saja datang dari ketertarikan dalam sesuatu yang lebih besar seperti kelompok politik, sebuah organisasi, golongan atau bahkan klub sepakbola (suporter).

Terlalu fanatik pada sebuah organisasi dan golongan, terlalu bangga dengan partai politik (atau pilihan politik), dan rela mati demi mendukung pilihan klub sepakbola, hanya akan membutakan mata hati diri sendiri.

Kita bahkan lupa satu hal. Boleh jadi orang yang tidak sekelompok dengan kita adalah sesama muslim, misalnya. Tapi karena orang tersebut tidak sealiran/tidak sekelompok dengan kita atau paham kita berbeda, maka seolah-olah kita selalu menyalahkan kelompok/golongan itu.

Kita lupa, kita mempercayai Tuhan dan Nabi yang sama. Sumber hukum kita juga sama. Kita sama-sama percaya Al-Quran dan hadits sebagai sumber hukum Islam yang paling fundamental, tak satupun golongan dalam Islam yang menafikannya.

Saya selalu sedih ketika mendengar berita tentang terjadinya pembunuhan seorang atau sekelompok muslim karena diserang oleh aliran agama Islam sendiri.

Begitu pun sedihnya saya ketika mendengar dan melihat secara langsung perkelahian yang mengakibatkan hilangnya nyawa pada sebuah pertandingan sepak bola disebabkan karena suporter saling serang.

Masalah lain seperti saling hujat pilihan partai politik/tokoh politik sudah menjadi hal lumrah di sekitar kita. Baik skala lokal maupun nasional. Kita seolah terkotak-kotak. Mengabaikan kepentingan bersama dan jangka panjang demi kepentingan sesaat yang sesat.

Barangkali kita lupa satu hal. Paham kita yang terlalu tekstual, dan tak mau memahami kaidah atau patokan yang telah dajarkan oleh alim ulama terdahulu.

Memahami sebuah dalil dan hubungannya dengan peristiwa kita hari ini, kita perlu mengetahui kaidah atau aturan-aturannya. Salah satu kaidah yang penting dibahas dan menyangkut peristiwa beberapa hari terakhir adalah tentang pentingnya kaidah al-‘am.

​Al-‘am secara etimologi berarti merata, yang umum. Sedangkan secara terminologi atau istilah, Muhammad Adib Saleh mendefinisikan bahwa al-‘am adalah lafadz yang diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian tiap lafadz itu sendiri tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu. (Satria Effendi, M. Zein dalam kitab Ushul Fiqh, 2005).

Salah satu contoh al-‘am dalam hadits Nabi:

Kullu (al)-muslimi alal muslimi haramun damuhu, wamaluhu, wairduhu.

“Setiap muslim dengan muslim yang lain itu haram darahnya, hartanya, dan harga dirinya/kehormatannya.” (HR Muslim).

Hadis ini sudah jelas. Kata al-muslim alal muslim itu menunjukkan kata al-‘am yang artinya bermakna umum. Sehingga setiap muslim atau yang beragama Islam, sudah jelas masuk dalam tuntutan hadis tersebut.

Tidak membedakan satu sama lain.

Entah dari golongan apa, partai apa, dari suporter bola mana, kalau masih sesama muslim, maka dilarang saling menghujat, dilarang saling mencaci maki, dilarang saling membenci, dilarang saling mem-bully. Jadi semua yang masuk dalam al-muslim, bisa masuk dalam hukum itu.

Kaidah inilah yang dinamakan al-‘am. Dalam memahami sebuah dalil, semestinya kita paham juga akan istilah ushul fiqh dan istilah fiqh yang digunakan dalam dalil tersebut.

Sepatutnya, kita tidak boleh memahami dalil langsung dari artinya saja. Tidak asal memberi kesimpulan. Apalagi sampai memahami agama secara tekstual. Seperti yang banyak dilakukan oleh beberapa kelompok hari ini.

Ini baru satu contoh kaidah ushul fiqh, belum membahas macam-macam kaidah ushul dan kaidah fiqh yang tatkala penting lainnya. Sebut saja kaidah al-amru lil ujub (lafadz perintah asalnya menunjukkan akan wajibnya hal tersebut) atau kaidah al-ashlu fin-nahyii lit-tahriim (asal dari pelarangan adalah haram).

Atau kaidah seperti ad-dhararu yuzaalu (kemudharatan harus dihilangkan) atau dalam kesempatan lain diperoleh kesimpulan bahwa sesuatu yang sudah diyakini hukumnya maka dia tidak bisa dihilangkan karena adanya keraguan yang datang.

Setelah itu dibuatlah kaidah al-yaqinu laa yazuulu bisy syak (keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan). Dan banyak contoh kaidah-kaidah lainnya.

Mari kita mulai belajar lebih banyak. Belajar memahami hak sesama muslim dari kitab-kitab ushul fiqh dan fiqh. Jangan sampai kita yang selalu berteriak takbir di kelompok kita, tapi lupa apa sebenarnya fungsi takbir itu sendiri.

*Esai ini pertamakali diterbitkan di DNK.id

M. Galang Pratama @kampuspuisi

Jarang nulis, lebih sering di Jariah Publishing. Menyukai tantangan.

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

2 weeks ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

2 weeks ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

3 weeks ago