Merayakan perbedaan

Oleh: Muhammad Musmulyadi*

Suhu politik semakin memanas dibuktikan dengan sejumlah pemberitaan media yang ramai berisi pembahasan mengenai politik—pemilu, pilpres, pileg, para capres—yang sebentar lagi akan dirayakan di TPS masing-masing.

 Hal ini turut menjadi bahan perbincangan oleh para penikmat kopi; di warkop/cafe, para pecandu gawai pintar di ruang virtual; di grup whatsapp dan berbagai media sosial. Diperbincangkan banyak  kalangan mulai dari anak remaja,pemuda,mahasiswa hingga orang dewasa ataupun yang tua semua dilanda demam pilpres dan kedua capres-cawapres merupakan topik yang paling hangat dibicarakan.

Para pendukung saling beradu argumen dalam perdebatan-perdebatan mulai dari yang  santai hingga urat leher dan jempol bersiteru tegang demi membela para paslon andalan masing-masing.

Politik Ekslusif

Fajar Riza Ul Haq dalam tulisannya bahwa Lembaga Survei Indonesia merekam tren kenaikan intoleransi politik sejak 2010 hingga 2017. Belakangan, isunya tak lagi sebatas memperhadapkan pemimpin “Muslim vs non-Muslim”, tetapi sudah menjerumus ke politik ekslusif seperti “Islam vs lebih Islam” dan “agamis vs lebih agamis”(Kompas, 15/02/2019).

Sebagai negara bertuhanan (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang terdiri dari berbagai agama dan juga keyakinan lalu islam sebagai agama mayoritas. Islam sebagai agama yang memiliki 200 juta lebih pemeluk yang mendominasi penduduk negara ini memiliki potensi suara yang sangat besar dalam setiap agenda pemilu; pilpres.

Potensi yang sedemikian besar tersebut mengundang banyak kepentingan untuk menarik satu persatu dari para pemilih muslim guna memberikan dukungan kepada kelompok politiknya atas dasar kesamaan agama. Namun bukan hal yang mudah ataupun susah untuk meraih banyak suara.

Sedemikian cara, mulai dari berlagak islami, terlihat agamis, menggunakan sentimen agama, berjuang mengatasnamakan umat juga memanfaatkan ghirah agama. Menjadi masalah ketika Tuhan dan agamanya sama maka akan terjadi pertarungan dua mazhab politik “Islam vs lebih Islam” dan “agamis vs lebih agamis” seperti yang dituliskan di atas.

Pertarungan Politik

Kiat dan strategi pun dilancarkan oleh para petarung-petarung politik yang akan berlaga agar bisa meraup suara terbanyak. Menawarkan jani-janji (manis) untuk kesejahteraan rakyat yang penuh harap. Menyampaikan gagasan lewat visi-misi. Kalau memungkinkan ‘blusukan’ ke pelosok daerah.

Tidak cukup sampai di situ, saling serang antar pendukung kubu kerap kali terjadi di mimbar rakyat maupun di mimbar maya yang hampir setiap saat terjadi perang kata-kata. Dilancarkan oleh para pendukung. Entahkah itu dengan melakukan negatif campaign(kampanye negatif) dengan mencari hal-hal yang buruk, negatif dan kelemahan dari lawannya.

Walaupun negatif campaign ini merupakan suatu hal yang tidak dilarang asalkan disampikan secara faktual tentang lawan politik, Seperti yang dituliskan Mahfud MD melalui twiternya. Tidak lain semua ini hanya untuk medapatkan simpati dari pemilih.

Tanpa terkecuali juga diikuti black campaign (kampanye hitam) terus-menerus bersiliweran di media sosial yang dipenuhi percekcokan yang sulit untuk dibendung arus kekacauannya. Kita dihadapkan dengan sekelumit persoalan yang terjadi di dunia maya maupun dunia nyata.

Mulai dari persoalan hoax, ujaran kebencian, provokasi, adu domba, saling caci maki, dan berbagai persoalan lainnya yang kita saksikan hingga hari ini dan sungguh hal ini amat tidak sehat untuk proses demokrasi dan persatuan kita.

Upaya kembali Bersatu

Negatif campaign dan black campaign ditambah sentimen agama, politik identitas yang sarat akan muatan provokatif, fitnah dan kebencian digunakan sebagai alat politik membuat bangsa ini semakin terpecah belah. Masing-masing menganggap kelompoknya paling nasionalis, islamis, agamis dan paling benar lalu tidak menerima mereka yang berbeda, bagi penganut paham ‘fanatisme’ politik. Termasuk dalam urusan menentukan pilihan politik.

Terlihat negatif campaign dan black campaign masih mendominasi keseruan sorak-sorak kampanyae politik jika dibadingkan dengan mengkampanyekan gagasan visi-misi kepada rakyat.

Melihat setiap datangnya pemilu seringkali terjadi gesekan antar setiap kubu mulai dari elite sampai ke bawah—para pendukung fanatik. Terjadi percekcokan seperti yang saya sampaikan pada poin di atas. Maka penting untuk membumikan nilai toleransi tapi tidak sebatas dalam keberagaman seperti yang biasa kita dengar akan tetapi dalam bentuk toleransi/tasamauh politik.

Kesiapan menerima kemudian menghargai perbedaan pilihan politik seseorang. Bersikap dewasa dalam menerima perbedaan. Berjuang tanpa harus menjatuhkan lawan dengan cara yang tidak sehat. Saya pikir kita semua tahu narasi-narasi seperti ini?

Dalam demokrasi perbedaan itu sangat biasa apalagi dalam sebuah bangsa yang multikultural.

Entahkah itu memilih nomor satu atau dua. Jelasnya salah satu dari mereka akan menang dan yang kalah akan tetap menjadi putera terbaik bangsa. Pertanyaan yang muncul—pasca pemilu—saya, kita, kalian, mereka dan lebih dari 250 juta penduduk Indonesia, maukah kita untuk bersatu kembali membangun negara dan bangsa, setelah ini?

*Pengurus Forum Lingkar Pena Ranting UINAM. Menulis opini dan Puisi. Tulisan-tulisannya telah dimuat di media cetak lokal dan online. Penulis dapat dikenal lebih jauh melalui akun Ig: @achmad_muze Fb: Muhammad MusmulyAdi. WA: 0853 4062 9920. Surel: muhammadmusmulyadi@gmail.com

Leave a Reply