Festival Anak Makassar 2019: bermain, belajar dan tumbuh dalam keberagaman

WARNASULSEL.com – Saya berangkat menggunakan kendaraan roda dua.

Ketika ingin berkegiatan di seputar Makassar, Gowa dan sekitarnya saya selalu menggunakan moda roda dua. Tentu saja saya ingin menghindari macet jika harus menggunakan roda empat.

Saya tinggal di Gowa, jarak rumah saya menuju benteng Rotterdam sekitar 30 menit perjalanan.

Saya lewat jalan poros Sultan Hasanuddin, akhirnya saya mengambil lajur kiri menuju jalan Mallengkeri.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.15.

Akhirnya saya tiba 30 menit kemudian. Kendaraan saya parkir di tepi kiri. Saya lalu memasuki benteng Rotterdam.

Di sebelah kiri, saya melihat banyak orang berpakaian seragam merah. Rupanya sedang ada pelayanan langsung penerbitan akta kelahiran dan kartu identitas anak dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Makassar.

Kegiatan itu dalam rangka hari anak nasional 2019.

Anak anak bermain sambil belajar

Kartu Identitas Anak (KIA) berguna jika ada anak yang ingin masuk (mendaftar) ke sekolah, SMP. Sedangkan akta kelahiran merupakan hak anak yang paling mendasar.

Tapi mata saya merujuk kepada seorang Ibu yang duduk di tepi keramaian pengurusan akta dan kartu identitas anak.

Seketika saya mendekati sang Ibu dan mengajaknya berbincang. Di hadapannya ada meja kecil bertuliskan “Laminating dan pasang anti gores 10 ribu rupiah.” Sambil kuperhatikan, Ibu itu berteriak, “Amanmi kartunya anak ta’ pasangkan anti gores, tidak lecet lecet mi. Bisa bertahan sampai 5 tahun.”

Salah seorang pengunjung yang menggunakan jasa Ibu itu ikut saya wawancarai terkait layanan pengurusan akta kelahiran dan pembuatan kartu identitas anak oleh Disdukcapil Kota Makassar. Menurutnya ia puas dengan pelayanan yang diberikan.

“Saya mengurus akta, syaratnya cuma kartu keluarga, ya puasji dengan hasilnya,” katanya, “Tapi ada juga yang dobel.”

Ia mengatakan jika ada beberapa data yang sama. Akibatnya beberapa pengurusan tidak bisa dilanjutkan.

Saya kembali duduk di samping Ibu yang melakukan pekerjaan laminasi kartu.

Saya sedikit memperhatikannya. Tak butuh lama untuk laminasi sebuah kartu. Tangannya sangat lincah bagai robot. Tiap kartu diselesaikannya sekitar satu menit.

“Saya datang dari jam 7 pagi, biasanya saya ikut di mobil pembuatan sim keliling di jalan Abdul Kadir,” kata Ibu itu mulai perbincangan.

Ia sudah memulai usaha ini sejak satu tahun lalu bersama sang adik.

“Sudah sekitar 1 tahun, sama adek. Kalau adek di jalan Hertasning,” ujar Ibu yang tinggal di Galesong Kabupaten Takalar ini.

Hastuti (38 tahun) memiliki jadwal tertentu dan lokasi tertentu saat bekerja. Ia mengikuti jadwal di mana lokasi pembuatan sim keliling.

“Selasa, saya di Gatot Subroto, Kamis di Antang,” katanya, “Di Abd Kadir Senin, Rabu, Jumat, dan hari Sabtu di Barombong.”

Setelah mewawancarai Ibu Hastuti, saya kemudian berjalan ke tengah lapangan. Saya melihat ada stand PLN sedang menggelar lomba memasak.

Rupanya itu adalah sosialisasi dari PLN Makassar Utara.

PLN mengedukasi tentang penggunaan kompor listrik atau kompor induksi.

“Siapa bilang mahal? Kelebihan (kompor listrik) bisa masak di mana mana. Jadi ibu ibu tidak perlu repot,” kata petugas sosialisasi dari PLN di depan penonton.

“Fungsi kita aman. Bisa untuk anak anak. Aman. Ada waktunya juga. Bisa disetel. Nanti mati sendiri.”

Menurutnya harga kompor listrik ini harganya berkisar 700 ribu rupiah, Anda bisa mendapatkannyaa di toko elektronik.

Setelah itu saya kembali berjalan di beberapa stand. Acara Festival Anak Makassar memperingati Hari Anak Nasional ini diselenggarakan oleh Yayasan LemINA (Lembaga Mitra Ibu dan Anak). Acara yang digelar pada Minggu (21/07/2019) bertempat di benteng Rotterdam Makassar, merupakan kali ketiga sejak dimulai pada 2015 lalu.

Selanjutnya saya berjalan ke stand Save The Cildren. Programnya anak anak diajak untuk bermain ular tangga dan mewarnai dan terakhir ada juga kuis berhadiahnya. Hadiahnya tempat pensil dan celengan.

Anak anak bermain sambil belajar

Selanjutnya di sebelah stand itu saya melihat kerumunan anak anak sedang bermain pasir. Rupanya bukan sembarang pasir.

“Namanya pasir ajaib karena ya bisa dibentuk dan berwarna warni,” kata Sultan, penjaga stand pasir ajaib.

Terlihat beberapa anak mulai balita hingga SD ikut bermain di situ. Saya berkenalan dengan anak bernama Putra.

Putra yang sedang sibuk saya tanyai alasannya berada di stand pasir ajaib.

“Ya saya senang main main pasir,” kata Putra yang juga duduk di kelas 2 SD itu.

“Ada yang masih bayi ikut main juga,” kata Sultan yang ikut mengajari anak anak dalam membentuk pasir. Ada bentuk bintang, candi, dan lain lain.

Terlihat Ronald dan Fathur yang berusia 3 tahun juga serius main.

Di sampingnya lagi, ada stand melukis. Di tempat itu dijaga beberaapa orang. Salah satunya Perempuan bernama Herviana Kamaluddin atau yang akrab disapa Evhy.

Saya melihat Evhy sedang melukis sebuah tas kecil dari kain. Ia menggunakan cat air acrylic dibantu dengan kuas.

“Dicat di atasnya ini,” katanya sambil menunjukkan medium cat yang dipegangnya. “Ada gambar gambar, ada juga pembatas buku dan proch,” kata Evhy.

Rata rata stand dihadiri oleh anak balita dan yang seumuran SD.

Di stand yang lain, ada Sipatokkong. Sipatokkong merupakan salah satu komunitas yang terdiri dari beberapa anak muda. Komunitas ini memiliki kartu pintar yang bisa dijadikan oleh anak anak untuk bermain.

Selain berbentuk kartu mainannya juga berbentuk puzzle, ada gunting anak dengan bahan khusus untuk melatih sensor motorik anak dan lainnya.

“Jadi kita ada untuk anak yang berkebutuhan khusus. Sekret kami di jalan Onta Lama. Kami didatangi sama anak berkebutuhan khusus (ABK),” ujar Yayat, salah seorang pengelola Sipatokkong.

“Beberapa dari kami anak Fisioterapi dan anak dari jurusan SLB,” kata Yayat.

Selain stand bermain anak, saya juga melihat ada stand Kuliner seperti dari Warung Sosial, minuman Teh Botol Sosro, juga ada dari App Sinarmas.

Selanjutnya ada stand Fujifilm, dan stand Sophie Paris.

Saya kembali berjalan mengitari stand.

Saya melihat ada mobil baca yang terparkir di bagian belakang. Rupanya itu perpustakaan keliling atau Dongkel dari Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Lalu saya juga singgah di stand Makassar Berkebun.

Saya melihat beberapa bibit tanaman. Ada Mint, cabe, bibit kangkung, ada lidah buaya dan kaktus mini.

“Yang lain bisa dilihat di IG kami @mksberkebun,” kata salah seorang anggotanya.

Beberapa anggota Makassar Berkebun ini disatukan dengan hobi yang sama. Meski ia berasal dari jurusan atau kampus berbeda.

Ada yang dari jurusan Teknologi Pangan Unhas, angkatan 2015, ada juga dari Fakuktas Hukum Unhas.

Mereka adalah Rica, Fadiah, dan Noe, koordinator Makassar Berkebun. Selanjutnya ada Rina.

Anggota komunitas ini ada sekitar 30an khusus di Makassar.

“Kami disatukan sama Indonesia berkebun. Jadi ada juga Jogja Berkebun, dll,” kata Fadiah yang saat ini masih berstatus mahasiswa semester akhir.

Selanjutnya di tempat lain saya melihat ada stand dari SIGi Makassar.

Selain stand stand besar saya juga melihat beberapa booth yang ditempati oleh anak anak menyelesaikan tugas yang diberikan oleh panitia acara.

Tugas ini telah diberikan kepada anak anak untuk datang ke booth atau pojok tertentu dalam rangka mengenali booth tersebut.

Sesuai dengan temanya, “Bermain, Belajar dan Tumbuh dalam Keberagaman”, tiap anak menjadi sangat bersemangat.

Karena selain bermain, anak anak juga langsung dapat belajar.

Seperti di booth “Tahukah Kalian”.

“Ini pojok edukasi dari LemINA. Ada mitos dan fakta serta informasi penjelasannya,” kata Hikmah menjelaskan.

Selain Pojok Edukasi, ada juga Pojok Kreatif.

Pojok Edukasi berisi booth Aku Sayang Badanku, Pola Hidup Bersih dan Sehat, Tahukah Kalian? dan booth Reading Corner.

Adapun yang masuk dalam Pojok Kreatif yang didatangi oleh anak anak yaitu booth Bermain Kartu, Membuat Origami, Bermain Pasir Ajaib dan Melukis.

Acara dua tahunan yang bersifat gratis ini sangat diminati banyak anak di Kota Makassar.

Karena selain disediakan beberapa kegiatan yang saya tuliskan di atas ada juga panggung festival bagi anak, ada lomba ranking 1, konsultasi gizi dan lomba kekompakan orang tua dan anak.

Acara yang didukung oleh pemkot Makassar, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta dimeriahkan oleh partner komunitas yang ramah anak ini diharapkan dapat terus terlaksana di masa masa yang akan datang.

Itulah harapan dari panitia Festival Anak 2019 dalam program utama Sobat Lemina yang dikoordinatori oleh Dede Farsjad.

Festival Anak Makassar

M. Galang Pratama, Juli 2019 melaporkan dari Makassar.

M. Galang Pratama @kampuspuisi

Jarang nulis, lebih sering di Jariah Publishing. Menyukai tantangan.

View Comments

    Recent Posts

    • Daerah
    • Peristiwa

    FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

      WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

      WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

        WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

          WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

    2 weeks ago
    • Peristiwa

    Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

        WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

    2 weeks ago
    • Cawah
    • Uncategorized

    Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

    WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

    3 weeks ago