[Wawancara] Syamsul Alam, pembangkit literasi dari Biringbulu

WARNASULSEL.com – Beberapa waktu lalu, saya berkomunikasi lewat WhatsApp dengan Syamsul Alam. Syamsul Alam merupakan penulis kelahiran Lauwa, Biringbulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Tiga judul bukunya terbit di tahun yang sama, di antaranya Aku Diminta Mengembalikan Seluruh Pelukan yang Pernah Jatuh ke dalam Tubuhku, Punggung Ingatan, dan Dadaku, Rumah Segala Musim. Semuanya buku Kumpulan Puisi.

Tak banyak berpikir, seketika saya kirimkan beberapa pertanyaan seputar hal kreatif  yang dilakukan Syamsul Alam di desanya.

Kapan pertama kali menulis?

Pertanyaan ini sangat sulit saya jawab. Bukan karena pertanyaannya susah, namun ingatan saya yang tidak mampu menangkap satu momen kapan saya mulai menulis.

Ini sama halnya ketika ditanya, kapan Anda mulai menendang bola? Yang jelas saya berusaha mendalami dunia kepenulisan pada saat kuliah.

Waktu itu saya bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP), tahunnya saja saya bahkan sudah lupa.

Setelah itu, menulis menjadi aktivitas yang cukup membantu saya dalam merekam berbagai hal yang ada di sekitar dan menjadi salah satu cara berkomunikasi dengan orang lain bahkan orang yang jauh di luar sana.

Apa alasan menerbitkan buku?

Saya sering menyampaikan kepada teman-teman bahwa tolak ukur seseorang dalam memahami dunia kepenulisan tidak bisa hanya dengan melihat seberapa mampu seseorang menerbitkan buku sebagai satu-satunya indikator objek penilaian.

Masih banyak item-item yang perlu dilibatkan. Masih banyak analisa yang perlu diperhatikan secara lebih mendalam. Dan masih banyak pembahasan yang perlu diperbincangkan.

Di luar sana, seseorang yang memiliki pengetahuan lebih mumpuni terkait dunia kepenulisan dibandingkan para penulis yang berhasil menerbitkan buku bukanlah sesuatu yang sangat langka untuk didapatkan.

Namun menerbitkan buku bisa menjadi sebuah cara untuk membuka satu pintu pengetahuan atau mungkin beberapa pintu.

Baca [Puisi] Syamsul alam; lelaki kepada perempuannya

Buku Punggung Ingatan

Waktu baru merasakan bangku perkuliahan, saya tidak pernah ada rencana untuk menerbitkan buku. Jangankan berencana, terlintas dalam pikiran pun tidak pernah.

Hingga suatu hari saya berkunjung ke perpustakaan kampus dan itulah pengalaman pertama saya melihat buku yang sangat banyak secara langsung serta pengalaman pertama memasuki perpustakaan yang lantainya lebih dari satu (maklum, saya berasal dari desa).

Saya seperti melihat tubuh saya sendiri dikelilingi oleh dunia yang asing, nama-nama yang Asing, kalimat-kalimat yang asing dan perasaan sangat kecil di antara banyak buku yang berjejer.

Akan tetapi, pada saat itu saya tidak memiliki banyak waktu untuk berkunjung ke perpustakaan karena menumpuknya tugas laporan yang harus selesai sebelum masuk praktikum di laboratorium.

Barulah ketika semester-semester lanjut, tugas laporan sudah berkurang dan saya mempunyai banyak waktu untuk merasakan duduk lebih lama di perpustakaan sembari membaca buku terutama buku-buku sastra.

Niat saya menerbitkan buku berawal dari seorang teman yang memperkenalkan novel “Lontara Rindu”, karya S. Gegge Mappangewa. Seorang penulis dari Kabupaten Sidrap-Sulawesi Selatan dan novel tersebut memperoleh penghargaan terbaik pertama pada “Lomba Menulis Novel Republika Tahun 2011”.

Darah Sulawesi Selatan saya mulai kepincut, menyadari bahwa dalam hal berkarya tidak ada pembatasan dari mana kita berasal. Sejak saat itulah saya mencoba belajar menulis, bukan menulis novel tapi lebih ke puisi.

Nah, ini dia pertanyaan intinya:

Apa yang menjadi alasan sehingga anda menerbitkan buku?

Saya menerbitkan buku sebagai upaya memperlebar dan memperpanjang ruang kepenulisan saya.

Sebab, jika kita ingin serius di dalam menekuni dunia kepenulisan, maka pengembangan apapun yang terkait dengannnya menjadi jalur yang mampu mempertajam dan memperluas daya jangkau.

Alhamdulillah, semenjak menerbitkan buku, saya seperti memiliki kendaraan untuk bertemu dengan penulis lainnya. Sehingga saya bisa berguru kepada mereka dalam memperbaiki kualitas ke depannya.

Sesekali juga saya diundang untuk saling berbagi cerita perihal dunia kepenulisan dalam berbagai acara yang tentunya selain mendapatkan pengalaman baru, juga dapat merawat motivasi menulis itu sendiri.

Harapan saya untuk bisa menerbitkan buku sangat lama baru bisa terwujud. Barulah di tahun 2019 buku perdana saya terbit dan saya merasa tahun 2019 adalah tahun terbaik bagi saya karena di tahun tersebut saya berhasil menerbitkan 3 buku sekaligus.

Sepertinya pencapaian itu akan sangat sulit saya lampaui di tahun-tahun berikutnya.

Intinya, menerbitkan buku bukanlah jaminan seseorang akan menjadi penulis hebat. Akan tetapi, usaha sekecil apapun yang kita lakukan untuk mencapai tujuan akan membuka satu kemungkinan di antara kemungkinan lainnya.

Ceritakan tentang buku pertama

Dadaku Rumah Segala Musim | Foto Syamsul Alam

Buku pertama dari setiap manusia barangkali adalah dunia ini sendiri. Kita lahir lalu membaca apa yang ada di sekitar. Dunia menjadi semacam episentrum bagi ribuan gagasan, imajinasi dan dan berbagai hal yang lahir dari analisa.

Sangat keliru jika ada seorang penulis yang beranggapan bahwa dia telah berhasil menyelesaikan sebuah buku tanpa melibatkan apapun dari dunia ini.

“Dadaku, Rumah Segala Musim” merupakan buku kumpulan puisi perdana saya yang terbit pada tahun lalu, 2019.

Saya memilih judul tersebut karena merasa bahwa dada memang diciptakan sebagai rumah untuk menampung berbagai perasaan yang dimiliki manusia di manapun dia berada dan berapapun jumlah musim yang dilewatinya.

Pada sampul belakang, ada sebuah endorsment dari kak Anis Kurniawan yang saya rasa berhasil menyentuh apa yang ingin saya sampaikan kepada pembaca:

“Manusia menaruh segala kepahitan dalam kenangannya, semua dalam dada. Dada adalah rumah paradoks sebab menyimpan derita dan gembira sekaligus. Tetapi juga merenggutnya dalam-dalam hingga tubuh dan jiwa tersakiti. Puisi ini menuturkan rasa dan emosi pengarangnya, menjadikan dadanya selayaknya yang berdaya tahan kuat pada segala musim dan derita.”

Ada 63 puisi di buku tersebut juga disertai dengan ilustrasi dari Achmad Chrisbianto Sachran. Seorang sahabat yang banyak saya repotkan dengan imbalan yang tidak seberapa. Terima kasih.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa, semua tulisan di buku tersebut layaknya hanyalah seperti makanan yang dijual di pinggir jalan ataukah di pasar tradisional: Murah dan tentu saja memiliki kualitas yang di bawah rata-rata.

Akan tetapi kehidupan telah mengajarkan saya untuk berkunjung kepada orang lain, jika tidak bisa secara langsung maka barangkali cukup dengan kata sebab bukankah tak ada yang bisa tiba jika tak beranjak dari tempat kau ingin memulai langkah.

Puisi adalah langkah, adalah perjalanan, adalah sesuatu yang beranjak padamu: pembaca.

Siapa penulis dan judul buku yang menginspirasi dalam menulis?

Sampai saat ini saya masih betah dengan M. Aan Mansyur.

Beliau menjadi penulis yang paling banyak memotivasi saya dalam hal berkarya. Walaupun kami tidak pernah bertemu secara langsung karena saya sekarang kebanyakan menggunakan waktu di kampung, namun karya-karya beliau telah sangat berpengaruh di dalam gaya kepenulisan saya.

Mengenai buku yang menginspirasi saya dalam menulis, tentunya juga tidak terlepas dari buku-buku M. Aan Mansyur seperti: Melihat Api Bekerja, Perjalanan Lain Menuju Bulan, Tidak Ada New York Hari Ini, Cinta yang Marah, Sebelum Sendiri, dan lain-lain.

Saya melihat buku-buku M. Aan Mansyur adalah sebuah karya yang berusaha berbicara kepada orang lain melalui fragmen-fragmen yang halus dan kadang menunjukkan kesalahan kita dalam kehidupan namun tak melahirkan kemarahan sedikitpun.

Apa saran buat orang sekitar terkait pemanfaatan teknologi di tengah perkembangan literasi?

Syamsul Alam

Dalam hal memberi saran, saya bukanlah orang yang memiliki sebuah power besar untuk mempengaruhi orang dari apa yang saya ucapkan.

Di rumah saya kurang banyak bicara. Di luar rumah mental saya untuk berkomunikasi kepada orang lain sangatlah buruk.

Bahkan beberapa puisi yang saya tuliskan cendrung lebih memilih menempatkan seseorang sebagai korban dari yang barangkali saya anggap sebagai sesuatu yang salah.

Tujuannya cukup sederhana tapi menyimpan harapan besar kepada setiap manusia termasuk saya: “Lihatlah penderitaan yang kau buat untuk orang lain, bagaimana kabar manusiamu?”

Penggunaan teknologi mungkin seperti sebuah batu yang berada dalam genggaman. Baik atau tidaknya batu tersebut tergantung ke mana kita akan mengarahkan.

Mengenai bagaimana memakai teknologi agar bisa bermanfaat, saya rasa teman-teman sudah lebih dulu memahami sebelum saya.

Beberapa hari lalu, seorang remaja perempuan yang baru tamat di bangku SLTP mengirimkan karya tulisan novelnya kepada saya. Isinya lebih dari 100 halaman dan ceritanya belum selesai.

Dia mengirimkannya kepada saya untuk dibaca dan dimintai tanggapan. Hanya ada satu kata, keren.

Saya tidak ingin menanggapi bagaimana alur ceritanya, bagaimana diksinya, ataupun seberapa banyak kesalahan katanya akan tetapi saya kagum akan usaha dia untuk menulis di umur yang terbilang masih sangat muda.

Ketika saya di umur yang demikian, jangankan menulis novel, membuat karya tulisan satu halaman buku saja saya tidak pernah.

Ketika saya tanya: “Kamu ketiknya memakai apa?”, lalu dia menjawab “pakai Handphone”.

Tentu ini menjadi semacam pengingat bagi kita, bahwa teknologi telah banyak menyediakan kepada kita sebuah wadah untuk menulis.

Bahkan hal di atas bukanlah pertama kali terjadi, di sini sudah ada beberapa orang yang berkarya lewat tulisan dengan memanfaatkan handphone-nya.

Ada yang sudah selesai dan katanya tinggal direvisi. Ada yang sementara saya atur layout-nya. Ada yang sementara akan menyalinnya ke word, karena tulisannya ada di akun wattpad dan hasil yang lebih nyata adalah sudah ada beberapa orang yang telah menerbitkannya dalam bentuk buku.

Semuanya dengan memanfaatkan apa yang berada di genggamannya.

Jadi, apa kabar kita? Apa yang sudah kita tulis hari ini ataukah kemarin? Ayo ambil handphone-nya, tulis sesuatu!

Bagaimana perkembangan dan tantangan pengembangan literasi di kampung Anda?

Saya percaya setiap tempat akan ada tantangan tersendiri yang dihadapi untuk mewujudkan sesuatu, tidak terkecuali pengembangan literasi.

Yang paling terasa saya rasakan selama ini adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kegiatan literasi itu adalah sesuatu yang penting untuk mendapatkan ruang dan bagaimana penulis diapresiasi dengan baik.

Sebab, selama ini banyak orangtua yang tidak terlalu mendukung anaknya untuk menjadi penulis.

Alasannya sederhana: menjadi penulis adalah pekerjaan yang tidak menguntungkan.

Padahal, saya yakin jika para generasi muda banyak berkecimpung di kegiatan literasi, maka kita akan memperoleh generasi emas ke depannya.

Meskipun demikian, tapi saya tidak menganggap bahwa literasi di sini sangat tertinggal, terutama untuk generasi muda.

Baca Adela, Buku, Biringbulu

Dalam 2 tahun terakhir, sudah ada sekitar 10 orang lebih yang telah berhasil menerbitkan buku. Lebih membanggakan lagi bahwa sepuluh orang lebih tersebut, dimonopoli oleh kaum pelajar. Bahkan 2 orang di antaranya menerbitkan buku dengan status masih duduk di bangku SLTP.

Saya tidak tahu apakah di Kabupaten Gowa ada satu kecamatan yang melampaui pencapaian ini atau belum. Kalau ada, saya mohon infonya.

Walaupun lagi-lagi saya katakan bahwa keberhasilan literasi tidak boleh hanya melihat telah seberapa banyak yang menerbitkan buku namun hal ini telah berusaha membantu dalam pengembangan literasi.

Oh iya, saya lupa memperkenalkan kampung saya. Saya tinggal di kelurahan Lauwa Kec. Biringbulu, Gowa. Jika ada di antara teman-teman yang belum tahu, silakan masukkan di list daerah yang akan teman-teman kunjungi nanti setelah pandemi covid-19 telah reda.

Berapa buku yang telah Anda baca? Ada penulis dari luar, Siapa?

Waduh, saya tidak tahu berapa buku yang telah saya baca, yang jelas tidaklah terlalu banyak. Hehe.

Beberapa buku yang saya baca ada juga dari luar, meskipun saya akan bilang lagi bahwa tidak terlalu banyak. Salah satu di antara penulis dari luar yang saya suka karyanya adalah Nizar Qabbani. Puisi beliau cukup membuat saya tersenyum-senyum sendiri ketika membacanya.

Berikan motivasi mengenai menulis buku dan menulis puisi

Menulis juga adalah pekerjaan yang melelahkan tapi pengenangan orang terhadap karya Anda akan selalu lebih panjang dari semua waktu yang anda gunakan untuk menulis.

Untuk teman-teman. Barangkali menulis puisi itu sangatlah sulit dan tentu akan jelas terbukti sulit ketika Anda percaya terhadap apa yang saya katakan.(*)

[mgp]

 

Leave a Reply