Rahasia Hamidah

WAJAH Sanusi terlihat berseri-seri. Ia sudah lama duduk di teras rumahnya, menanti sang kekasih turun dari mobil yang siap menyuguhkan senyumnya. Bagaimana tidak, hari ini istrinya, Hamidah sedang dalam perjalanan pulang dari kampung sebelah.

Sudah tiga bulan Sanusi tak bertemu istrinya. Hamidah baru saja pulang dari kampung orang. Tiga bulan lalu, ia meminta izin kepada suaminya untuk pergi memperdalam ilmu agama. Berbekal dukungan suaminya yang membuat Hamidah berani berangkat.

Setelah menunggu lama, sebuah mobil kijang berhenti di depan rumahnya. Sanusi langsung lompat dari tempat duduknya. Ia yakin dari atas mobil itu akan turun seorang perempuan yang akan melemparkan senyum ke arahnya.

Benar, itu adalah Hamidah. Senyum perempuan itu membuat Sanusi lebih mempercepat langkah demi menjemputnya di pinggir jalan. Setelah menyalami suaminya, Hamidah langsung memeluk Sanusi. Menggugurkan kerinduan yang telah bertumpuk di dada mereka.


BEBERAPA hari telah berlalu. Tak ada yang berubah dari Hamidah. Hanya wajahnya yang semakin terlihat cantik di mata Sanusi.

“Bagaimana di sana, Midah? Belajarmu bagus?” Tanya Sanusi kepada istrinya saat mereka sedang bersantai di ruang tamu.

“Baik, Mas, di sana menyenangkan,” ujar Hamidah singkat.

“Jadi bagaimana sawah kita, Mas. Apa tikus masih banyak berkeliaran di sana?” Tanya Hamidah mencoba mengalihkan topik.

“Semuanya baik-baik saja, cuma beberapa tikus nakal yang biasa tertangkap.”

Sanusi mengerutkan dahi. Ini kali ke tiga ia mencoba menanyakan perihal ilmu yang Hamidah dapatkan dari kampung sebelah. Namun selalu saja Hamidah seolah-olah menghindar dari pertanyaan lanjutan yang akan dilontarkan oleh Sanusi.

Akan tetapi, Sanusi berusaha berpikiran positif pada istrinya. Mungkin saja istrinya masih lelah setelah melakukan perjalanan jauh.

Uap kopi masih mengepul di atas gelas. Belum tersentuh sama sekali oleh Sanusi. Pikirannya masih khawatir, meski ia sendiri belum tahu apa yang harus dikhawatirkan.


SATU bulan telah berlalu. Sanusi mulai merasakan ada yang ganjil dengan tingkah laku istrinya. Hamidah lebih sering tidur terpisah dengan dirinya. Atau biasa juga saat ia bangun tengah malam, Hamidah tidak berada lagi di sebelahnya.

Termasuk malam ini ia tidak mendapati Hamidah di sampingnya. Karena penasaran, Sanusi memutuskan untuk mencari istrinya di dapur dan di kamar mandi. Tapi Sanusi tidak mendapati wajah istrinya di sana.

Pikirannya mulai kusut. Ia mulai memikirkan hal-hal aneh tentang istrinya. Tetapi masih ada satu ruangan yang belum ia periksa. Kamar yang berada di dekat gudang rumahnya. Biasanya ia mendapati Hamidah di kamar itu sedang tertidur.

Dengan lincah, Sanusi menuju kamar itu. Saat Sanusi membuka pintu kamar, ia melihat tubuh istrinya sedang tertutupi kain putih dan bergerak.

Sanusi bernapas lega. Ternyata istrinya melakukan salat tahajjud. Sanusi langsung menepis pikiran kotornya terhadap istrinya dan bergegas mengambil air wudu.

“Astaghfirullah, mengapa pikiran saya bisa sejahat ini?” Gumamnya.


KEESOKAN harinya tersiar kabar duka dari penduduk. Seorang anak ditemukan tewas di pinggir sungai. Di lehernya terdapat bekas gigitan. Belum diputuskan makhluk apa yang telah menggigitnya, yang jelas makhluk itu berhasil membuat bulu kuduk Sanusi berdiri.

“Midah, kamu dengar berita duka dari kampung sebelah? Katanya anak dari salah satu penduduknya meninggal karena digigit makhluk aneh.”

“Ah.. Serius, Mas?”

“Iya, aku serius,” jawab Sanusi meyakinkan Hamidah.

“Mungkin saja itu gigitan anjing. Mas tahu sendirilah di sini kan banyak anjing.”

“Iya juga sih, kamu ada benarnya juga.”

“Ah sudahlah, Mas. Tidak usah berpikiran yang aneh-aneh. Sekarang lebih baik sarapan dulu, nanti makanannya keburu dingin.”

Sanusi menuruti permintaan istrinya. Ia menyingkirkan rasa penasarannya lalu mengambil makanan dari atas meja.


SATU bulan telah berlalu sejak terdengar kabar meninggalnya Adit, anak kampung sebelah yang ditemukan tewas di pinggiran sungai dengan luka gigitan di lehernya.

Bulan telah membundar. Malam semakin larut. Suara lolongan anjing mulai terdengar ramai. Entah mengapa Sanusi sangat gelisah malam itu. Ia terbangun di tengah malam. Ia kembali tidak menemukan istrinya di sampingnya. Tapi kali ini ia tidak lagi khawatir. Ia sudah tahu kalau istrinya pasti sedang berada di kamar yang satu sedang mendirikan salat tahajjud.

Ia pun ikut bergegas menyusul istrinya. Ia ke kamar mandi dan mengambil air wudu lalu diam-diam mengintip istrinya dari luar pintu kamar. Tapi kali ini ia tidak menemukan siapa-siapa di kamar itu. Tidak ada Hamidah di sana.

Dahinya terlipat.

Ia melihat ada tangga di kamar itu. Tangga yang dapat menghubungkannya dengan loteng rumahnya. Karena penasaran, Sanusi masuk lalu memanjat tangga itu dan segera naik ke loteng. Sudah lama ia tidak naik ke sana. Sarang laba-laba terlihat di mana-mana.

Alangkah kagetnya Sanusi ketika melihat sebuah baskom di hadapannya. Ia ingin muntah dibuatnya. Organ tubuh manusia terletak di sana. Entah mengapa Sanusi mengambil air panas lalu menyiram organ tubuh itu.

Sanusi bertambah syok saat melihat istrinya dengan kepala dan badan yang terpisah. Sanusi tidak tahu jika yang ia siram itu adalah organ tubuh milik istrinya. Setelah melihat jelas wajah perempuan itu, Sanusi seketika tumbang. Samar-samar terdengar permintaan maaf dari istrinya. Tubuh Hamidah yang tidak bisa kembali lagi menjadi organ utuh, akhirnya meninggal.(*)

Ainun Jariah @Jariahs1

Senang berimajinasi. Menyukai musik dan puisi. Sesekali menulis esai di media massa, seringkali tahu cara membahagiakan suaminya dengan masakan.

View Comments

    Recent Posts

    • Daerah
    • Peristiwa

    FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

      WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

    2 weeks ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

      WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

    2 weeks ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

        WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

    2 weeks ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

          WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

    2 weeks ago
    • Peristiwa

    Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

        WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

    3 weeks ago
    • Cawah
    • Uncategorized

    Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

    WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

    3 weeks ago