Sastra
[Cerpen] Ramli Lahaping ; Pesan Nada
“Maukah kau menjadi kekasihku?” tanyaku padamu, dengan penuh kesungguhan, di hari ulang tahunmu setahun yang lalu, di sebuah kafe yang lengang.
Kau terdiam saja. Terkejut. Seolah tak menyangka kalau aku akan mengucapkan pernyataan semacam itu.
“Jawablah,” pintaku.
Akhirnya, kau pun menggeleng pelan. “Maaf.”
Aku sontak kelimpungan. “Kenapa? Berikan aku alasan.”
Kau lantas menunduk. Seperti enggan berterus terang. “Aku telah terikat hubungan dengan Dafi.”
Seketika, perasaanku tersentak. “Apa? Bagaimana bisa?”
Tanpa menjawab, kau lantas membuang wajah, kemudian beranjak pergi dariku.
Semenjak itu, aku pun terus berusaha untuk menerima kenyataan tentang kita. Kau telah terlibat hubungan spesial dengan Dafi, teman dekatku, dan aku harus mengatasi perasaanku sendiri. Hingga akhirnya, enam bulan setelahnya, aku pun mesti memusnahkan perasaanku, setelah kalian berdua menyatu di dalam ikatan pernikahan.
Pada waktu-waktu kemudian, sepanjang kebersamaan kalian, aku pun terus menjaga rahasia perasaanku dari pengetahuan Dafi. Aku tak ingin ia tahu bahwa aku pernah memiliki perasaan kepadamu. Aku tak ingin persahabatan kami bermasalah. Apalagi sebagai kerabat segrup musik bersama dua teman kami yang lain, tentu aku punya kepentingan untuk menjaga keharmonisan hubungan kami.
Seiring waktu berjalan, aku pun berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan masa lalu. Aku berupaya untuk mencari penggantimu demi meredakan perasaanku kepadamu. Aku tak ingin terus berada di dalam kekosongan yang akan membuatku selalu teringat kepadamu. Hingga akhirnya, tiga bulan yang lalu, aku pun mengikatkan diri dalam hubungan yang spesial dengan seorang perempuan yang kurencanakan akan menjadi istriku kelak.
Tetapi bersabahat dengan seseorang lelaki yang merupakan suamimu, akhirnya menjeratku dalam perkara-perkara yang dilematis. Aku jadi sering bertemu denganmu setiap kali aku memiliki kepentingan dengannya. Atau setidaknya, aku senantiasa mendengar dan mengetahui perihal tentangmu dari dirinya. Sampai akhirnya, aku pun memahami bahwa hubungan kalian semakin tidak harmonis. Bahkan aku tahu kalau kalian kerap terlibat pertengkaran.
Yang bisa kubaca, akar masalah di antara kalian adalah sikap Dafi yang mengabaikanmu. Kau bahkan mulai curiga dan cemburu. Aku tak paham jelas sebabnya, karena aku dan Dafi tak pernah mengobrolkan persoalan privat secara gamblang. Tetapi pada banyak kesempatan, ketika kami mengadakan konser, aku bisa menyaksikan bahwa posisi Dafi sebagai vokalis, memang membuatnya lekat dengan para wanita.
Keresahanmu kemudian memuncak dan berbuah petaka. Dua bulan yang lalu, kalian terlibat kecelakaan tunggal yang parah. Dari penuturan Dafi, aku pun tahu bahwa kecelakaan itu terjadi karena kalian bertengkar hebat di dalam mobil. Kau menudingnya telah berselingkuh dengan perempuan lain, dan ia berkeras menyangkal. Sampai akhirnya, di tengah peraduan kalian, ia pun kehilangan konsentrasi pada kemudi, lantas menabrak pohon di pinggir jalan.
Kejadian itu kemudian membawa kalian pada keadaan yang jauh berbeda. Kau mengalami kebutaan total, sedang Dafi mengalami permasalahan pada persendian pergelangan tangan kiri. Kau tak bisa lagi membaca gelagat mencurigakan pada sikapnya, sedang pada saat yang sama, ia mulai menginsafi dosa-dosanya kepadamu selama ini. Kau mulai mendapatkannya senantiasa berada di sampingmu, sedang pada saat yang sama, ia mulai benar-benar memerhatikanmu.
Sampai akhirnya, dua minggu yang lalu, di rumah kalian, saat kau masih dalam tahap penyembuhan di rumah sakit, ia pun menuturkan keluh kesahnya kepadaku, “Keadaan ini adalah azab untukku,” tuturnya, setelah ia mengakui dosa-dosanya secara umum terhadapmu. “Aku tak pernah menduga bahwa menjadi seorang musisi akan membuatku tersesat dan mengabaikan istriku sendiri,” sambungnya, sambil menatap jari-jari tangan kirinya yang kaku.
“Berhentilah mengutuki dirimu sendiri. Yang berlalu, biarlah berlalu. Yang penting kau benar-benar telah berubah dan terus berusaha untuk menjaga dan membahagiaan istrimu dalam keadaan apa pun,” tanggapku, bermaksud membesarkan hatinya.
Ia lantas mendengkus dengan raut muram. “Kau tahu, belakangan waktu, sebelum kecelakaan itu terjadi, rasa cemburunya semakin besar saja. Ia seakan-akan bisa membaca bahwa selama konser kita, aku telah bertindak menyeleweng darinya,” ungkapnya, dengan mata berkaca-kaca, seperti sangat bersedih. “Aku sungguh menyesal telah mengkhianatinya.”
“Perempuan memang susah dibohongi, dan sikap tubuh lelaki terlalu lugu untuk menyembunyikan kebohongan,” timpalku, sekenanya, lalu menepuk-nepuk pundaknya. “Tetapi sudahlah. Jangan bersedih begitu. Kau mesti bersemangat untuk membalas rasa bersalahmu kepadanya.”
Ia pun mengangguk-angguk, lalu kembali larut dalam menungan. Beberapa saat berselang, ia lantas menuturkan perihal yang lain tentangmu, “Oh, iya, belakangan waktu sebelum kecelakaan itu, ia juga selalu memintaku untuk membuatkannya sebuah lagu baru. Katanya, ia sudah terlalu bosan untuk mendengarkan lagu Keheningan Kita yang sekian lama menjadi favoritnya.”
Sontak saja, aku terkejut mendengar pernyataannya. Pasalnya, aku baru tahu bahwa kau menyukai satu lagu yang kuciptakan khusus untuk meluruhkan rahasia perasaanku kepadamu. Tetapi aku tak ingin berpikir macam-macam selain bahwa kau menyukai lagu itu hanya karena formulanya yang sendu, yang hanya berbalut instrumen gitar dan piano.
“Jadi, bagaimana? Apakah kau sudah punya materi lagu untuknya?” tanyaku, penasaran.
Ia pun mengangguk pelan, sambil tersenyum. “Aku sudah punya kerangkanya. Tetapi seperti biasa, aku tentu butuh bantuanmu untuk meramu lirik dan melodinya secara pas.”
Aku lantas mengangguk setuju.
Akhirnya, pada hari itu, dan beberapa hari setelahnya, kami pun berjibaku merampungkan sebuah lagu untukmu. Kami berbagi saran dan pendapat untuk membuat sebuah lagu yang semenyenangkan mungkin untukmu, sesuai dengan genre musik favoritmu selama ini.
Namun atas benih cintaku yang belum benar-benar sirna, aku pun tak bisa menghindari kecenderungan batinku untuk menyusupkan perasaanku ke dalam lagu itu. Aku seolah-olah berhasrat untuk menyampaikan pesan rahasiaku kepadamu. Tetapi atas kesadaranku tentang kalian, aku pun berusaha menawar ego dengan membiarkan Dafi menjadi penentu akhir pada setiap bentuk bagian lagu itu.
Setelah pergumulan panjang, akhirnya, satu lagu untukmu berhasil kami rampungkan. Sebuah lagu dengan satu judul yang kami sepakati bersama: Keabadian Kita. Dengan penuh percaya diri, kami pun sama-sama meyakini bahwa lagu itu pasti akan menjadi satu lagu kesukaanmu.
Hari ini, lima hari sekeluarmu dari rumah sakit dengan penglihatan yang telah lenyap, kami berdua pun bersepakat untuk memberikan kejutan untukmu. Lebih tepatnya, aku membantunya untuk memberikan kejutan untukmu di tengah ketidaktahuanmu bahwa ia tidak bisa lagi atau belum bisa memainkan gitar karena permasalahan tangan kirinya.
Sampai akhirnya, kita bertiga pun berhimpun di beranda belakang rumah kalian yang sejuk sebagai tempat favoritmu. Dafi duduk di depanmu dengan sikap ramah, dan aku duduk di samping kananmu tanpa sepengetahuanmu. Akulah yang akan memetik gitar ketika Dafi telah siap untuk menyuarakan lagu yang kami gubah untukmu.
“Sayang, hari ini, aku akan memenuhi janjiku,” tutur Dafi, seolah memberikan kata pengantar.
“Janji apa?” tanyamu, penasaran.
“Aku telah membuat lagu yang khusus untukmu. Aku yakin, kau pasti suka,” terang Dafi, dengan sikap antusias.
Kau pun tersenyum lebar. Tampak sangat senang. “Nyanyikanlah! Aku ingin mendengarnya sekarang juga!”
Atas aba-aba dari Dafi, aku mulai memainkan gitar. Seiring itu, ia pun menyanyikan lagu kami dengan penuh penghayatan.
Sepanjang alunan lagu itu, kau tampak menikmati dengan khidmat.
Beberapa saat kemudian, lagu itu pun tandas. Kau lantas memberikan tanggapan dengan raut bahagia, “Terima kasih. Aku sangat menyukainya,” katamu, lantas tiba-tiba merebahkan tubuh ke sisiku.
Sontak, aku memandang Dafi dengan perasaan bersalah, dengan ekspresi memohonan maaf.
Dengan raut tenang, Dafi malah mengisyaratkan ketidakberatannya atas sikap tubuh kita.
Perlahan-lahan, tangan kananmu lantas menyusuri leher gitarku, seperti sedang mencari jari-jariku.
Lagi-lagi, tanpa kuduga, Dafi memberi isyarat agar aku menuruti maumu.
Akhirnya, kita pun bergenggaman tangan di depannya.
“Maukah kau menyanyikan lagu Keheningan Kita untukku?” pintamu kemudian, dengan penuh harap.
Aku sontak tercenung mendengar permohonanmu itu.
Dafi lantas mengangguk kepadaku, seperti memberi isyarat persetujuan. “Tentu saja, Sayang,” jawabnya, untukmu.
Akhirnya, kau pun melepaskan genggamanmu dari tanganku. Dengan perasaan yang berwarna-warni, aku lantas kembali memainkan gitarku, sedang Dafi kembali menyenandungkan suaranya.***
Pengarang : Ramli Lahaping
Ramli Lahaping. Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi).

