Sastra
[Cerpen] Ainun Jariah; Passampo Siri’
ANGIN bertiup kencang menerbangkan dedaun yang sedang tertidur di atas tanah. Awan mulai menghitam menjatuhkan hujan dan mengundang petir.
Cuaca semakin dingin. Tampaknya alam sedang memainkan perannya.
Dari dalam rumah Pak Harwin terdengar sebuah keributan, tapi samar-samar sebab diselingi oleh suara seng dari atap rumah yang sedang sekarat.
“Kamu sudah mempermalukan keluarga, Sari. Mau dibawa kemana harga diri Bapakmu ini? Apa kata tetangga nanti?” ujar Pak Harwin dengan muka merah padam.
Sari menangis tersedu-sedu dengan wajah yang dirayapi penyesalan. Ia baru sadar setelah berbuat kesalahan besar. Rahmat, lelaki yang telah membuatnya berbadan dua hilang tanpa jejak setelah mengetahui kalau Sari sedang mengandung anaknya.
Jadilah Sari menjadi bulan-bulanan keluarganya sendiri.
“Sudahlah, Pak. Ini semua adalah salah kita juga. Kita gagal mendidik anak semata wayang kita. Selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memberikan perhatian dan mengawasi pergaulan Sari,” ujar Bu Hanida pasrah.
***


Pingback: Kisah di balik buku karya narapidana wanita rutan kelas 1 Makassar bertajuk Suara Perempuan: Cerita dari Balik Jeruji