[Cerpen] Ainun Jariah; Passampo Siri’

ANGIN bertiup kencang menerbangkan dedaun yang sedang tertidur di atas tanah. Awan mulai menghitam menjatuhkan hujan dan mengundang petir.

Cuaca semakin dingin. Tampaknya alam sedang memainkan perannya.

Dari dalam rumah Pak Harwin terdengar sebuah keributan, tapi samar-samar sebab diselingi oleh suara seng dari atap rumah yang sedang sekarat.

“Kamu sudah mempermalukan keluarga, Sari. Mau dibawa kemana harga diri Bapakmu ini? Apa kata tetangga nanti?” ujar Pak Harwin dengan muka merah padam.

Sari menangis tersedu-sedu dengan wajah yang dirayapi penyesalan. Ia baru sadar setelah berbuat kesalahan besar. Rahmat, lelaki yang telah membuatnya berbadan dua hilang tanpa jejak setelah mengetahui kalau Sari sedang mengandung anaknya.

Jadilah Sari menjadi bulan-bulanan keluarganya sendiri.

“Sudahlah, Pak. Ini semua adalah salah kita juga. Kita gagal mendidik anak semata wayang kita. Selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memberikan perhatian dan mengawasi pergaulan Sari,” ujar Bu Hanida pasrah.

***

“Halo Ilham, kamu di mana, Nak?”

“Di kampus, Pak. Saya sedang kuliah.”

“Kau harus pulang, Nak. Hari ini juga. Ada yang ingin Bapak sampaikan.”

“Iya, Pak. Sore ini juga Ilham akan pulang ke Jeneponto.” Ilham menutup telepon dengan perasaan yang ditimpa lusinan pertanyaan.

“Tidak biasanya Bapak menyuruhku pulang saat tahu kalau aku sedang kuliah.” Bisiknya dalam hati.

Tapi karena ini perintah Bapaknya, ia tidak mungkin menolak dan mengecewakannya. Ia sangat menyayangi keluarganya.

Keluarga yang telah bersedia membesarkannya dan menyekolahkannya dengan baik sampai saat ini.

Sore itu juga selepas kuliahnya selesai, Ilham langsung melajukan motornya menuju Jeneponto. Hanya butuh dua jam perjalanan untuk sampai. Karena jarak antara Makassar dan Jeneponto berkisar 85 kilometer.

Sesampai di rumah, semua tanda tanya yang sedari tadi berkeliaran di kepalanya akhirnya terjawab.

“Sari, adikmu itu telah melempar kotoran di wajah Bapakmu ini Ilham. Dia hamil di luar nikah.”

Ilham tergagap mendengar berita itu. Hatinya perih dan marah.

“Siapa laki-laki yang berani menyentuh Adikku Sari, Pak? Beritahu anakmu ini. Akan kuseret dia ke hadapan Bapak.”

“Rahmat namanya. Dia anak dari Daeng Rewa. Rumahnya berada di kampung sebelah. Pamanmu sudah datang ke rumahnya. Tapi, Rahmat sudah tidak ada. Daeng Rewa, Bapaknya juga telah ia paka siri’. Ia lari dari rumah membawa sejumlah uang dan perhiasan orangtuanya.”

“Tidak, Bapak. Demi adikku Sari, akan kuruntuhkan Gunung Bawakaraeng jika perlu. Ilham akan mencari laki-laki itu,” ujar Ilham marah.

Setelah beristirahat sebentar, Ilham berangkat mencari Rahmat bermodalkan ingatan dan foto pemberian Sari.

Dulu ia pernah sempat melihat wajah laki-laki itu ketika tempo hari Rahmat mengantar Sari pulang. Hanya sekilas. Tapi, Ilham yakin ia akan mendapatkan lelaki itu.

Ilham mendatangi satu persatu rumah teman Rahmat. Memasuki semua tempat yang memiliki kemungkinan menjadi tempat persembunyian Rahmat.

***

INI adalah minggu ketiga Ilham mencari Rahmat. Akan tetapi, setiap kali Ilham telah yakin mendapatkan tempat persembunyian Rahmat, Rahmat keburu kabur. Ilham dibuat gemas karenanya.

“Ilham, ini sudah minggu ketiga kamu mencari Rahmat, Nak. Tapi, belum juga membuahkan hasil. Sementara usia kehamilan Sari sudah memasuki tiga bulan. Berita kehamilannya juga sudah mulai tercium oleh tetangga. Kita harus bagaimana, Ilham?” Ujar Bu Hanida ketika mereka semua berkumpul di ruang keluarga.

Ilham termenung. Larut dengan pikirannya. Ilham tidak menyerah untuk menemukan Rahmat. Ia hanya kalut karena usia kehamilan Sari yang kian hari kian membesar.

Ia tidak ingin keluarganya menjadi bahan cibiran para tetangga. Ia juga tidak mau kalau keponakannya kelak akan mendapatkan cap sebagai anak haram.

Masalah ini benar-benar membuat kepalanya mengeras.

***

SUARA gendang pernikahan akhirnya terdengar dari rumah Pak Harwin. Sari akhirnya menikah. Bersanding dengan lelaki yang akan menjadi Ayah dari anaknya. Ilham, anak angkat dari Pak Harwin dan Bu Hanida memutuskan untuk mengubah statusnya menjadi anak menantu mereka.*

Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen Kisah Kita Terbatas karya Ainun Jariah. Jika Anda ingin mendapatkannya silakan klik tautan ini.

Baca juga cerpen Ainun Jariah lainnya :

Rahasia Hamidah

Kisah Kita Terbatas

Kekuatan Jiwa

Leave a Reply