Di McDonald’s

Aku punya cerita. Jika Anda ingin baca, silakan, tak mau juga tidak apa apa. Jangan menyesal jika Anda tak mendapat apa apa setelah membaca ini.

Malam itu, orang orang melihatku dengan curiga. Aku yang jarang masuk ke tempat itu menjadi tontonan masyarakat sekitar. Aku tak tahu di mana tempat saus. Juga tak sadar ternyata tak ada pipet.

Sebelum itu semua, aku memesan menu lewat aplikasi. Tapi aku heran karena harga yang telah kubayar berbeda dengan harga di layar hp saya.

Barangkali lebihnya itu adalah pajak, aku mencoba berpikir positif. Pajaknya barangkali diambil tiap menu yang dipesan. Tiap orang mesti membayar pajak buat negara. Agar negara bisa bangun jalan yang bagus. Juga rumah sakit, juga sekolah juga jembatan.

Berita tentang jalan rusak, rumah sakit yang mahal juga jembatan putus mungkin jarang kita dengar.

Mungkin. Mungkin tidak.

Saya memesan menu: satu paket yang berisi ayam, nasi. Ditambah air bersoda. Yang digambar terlihat seperti teh. Tapi yang datang berwarna hitam. Dengan gelas bertuliskan Coca Cola.

Tapi bukan Coca Cola.

Saya tahu rasa Coca Cola. Terakhir saya coba, tahun lalu, saat hadir bersilaturahim di rumah teman dalam suasana idulfitri.

Saya kurang suka Coca Cola. Tapi bukan berarti tidak suka. Tapi saya tidak terlalu suka minuman bersoda. Tapi saya suka soda gembira. Tapi sekarang soda gembira sudah tidak saya minum. Kemasannya sudah berubah setelah 17 tahun.

Saat saya mulai makan, saya lihat orang sekitar. Saya lihat banyak orang yang makan. Sambil bersuka ria seolah olah meninggalkan rasa penat, sumpek dan pusing.

Mereka terlihat bahagia.

 

Di belakang saya ada sepasang kekasih menikmati es krim. Mereka terlihat romantis. Mereka sepertinya sedang jatuh cinta.

Cinta yang buta.

Di samping kanan saya ada satu keluarga. Mereka berlima. Eh tunggu dulu. Bukan, tapi, satu, dua, saya hitung kembali. Mereka berenam. Eh bukan. Iya, cocok. Mereka berlima. Masing masing juga makan ayam dan nasi. Dan minuman. Tapi minumannya berbeda dengan minuman saya. Gelasnya jauh lebih tinggi dari punyaku.

Tapi saya tidak cemburu.

Di depan saya, di seberang. Ada ruangan smoking. Saya hanya dibatasi kaca transparan. Ada banyak anak muda mudi yang juga makan di situ.

Tapi saya heran dibuatnya.

Saya lihat ada perempuan, dengan memasukkan sebuah benda ke dalam mulutnya. Lalu tiba tiba mulutnya mengeluarkan asap berkepul kepul. Tapi bukan rokok seperti yang dibeli paman di rumah.

Bapak saya juga merokok. Tapi pernah mencoba berhenti.

Tapi tidak bisa. Bukan tidak mau. Tapi susah. Bapak mau sehat. Begitu pun keluargaku. Ibuku sering memarahi bapak. Kalau bapak tetap merokok, ibu akan sembunyikan rokok bapak. Ibu kadang mengancam.

Baca juga: Rahasia Hamidah

Tapi saya pernah mendapati bapak mencari cari rokoknya. Bapak meminta kepada ibu agar mengeluarkan sebungkus rokoknya. Bapak mengira ibu sedang menyembunyikan amunisinya itu.

Ibu merasa, merokok hanya membuang buang uang. Tapi para perokok beranggapan lain. Katanya rokok adalah obat stres.

Kaum perokok memang pintar. Juga cerdas. Pintar cari logika agar orang orang menyetujui dan membenarkan perilakunya. Bahwa merokok itu baik.

Tapi saya tidak suka rokok. Sejak kecil. Tapi teman saya ada yang merokok. Dia bilang, kamu tidak usah merokok. Tidak usah coba.

Sampai sekarang saya masih biasa membeli rokok. Biasa disuruh oleh paman di rumah.

Di tempat ini, pikiran saya ke mana mana. Orang orang bahagia karena telah mengeluarkan banyak uang untuk makan makanan cepat saji. Mengapa ya tempat seperti ini ramai sekali dikunjungi. Apalagi pada akhir pekan.

 

Padahal di sini wifinya tidak bagus. Tidak bisa main internet. Eh, apa saya ke sini mau main internet atau mau makan? Kadang juga saya lupa, saya sedang bikin apa ya.

Ini saya sedang menulis, mengetik, main hp, atau mau makan, sih? Atau malah memikirkan orang orang di sekitar saya? Mengapa saya mesti pusing dengan mereka?

Sejak saat itu, saya akhiri tulisan ini.

Leave a Reply