Connect with us

Sastra

[PUISI] Muhammad Asqalani eNeSTe ; Un Jour Viendra

Published

on

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe
Spread the love

Un Jour Viendra*

kafe yang 6 tahun lalu beraroma surga. kini runtuh, penuh bekas khuldi yang digigit. perempuan mati dengan ujung rambut terendam air dalam gelas. pekat.

ada 11 juta penonton datang setiap tahun ke kafe yang lebih mistik dari kuburan, lebih gaduh dari kerusuhan, juga jiwa-jiwa tak terampuni yang menangis di sini.

suatu petang, langit sedang oranye tua, hujan turun tanpa koma, cicit ular Titaniboa menjulur serupa patung lumpur.

tak ada yang lapuk di sini, dalam kembara ingatan orang jauh. ziarah demi ziarah telah jadi rambut beruban. bahwa cinta pada Iblis, juntai sejarah orang-orang bunian.

hantu hari ini, adalah perempuan yang berdiri di sebuah tiang, pakai rok span, tidak berbicara dalam bahasa manusia.

bisu.

Kubang Raya, 4 Februari 2023

*Judul lagu dari Johnny Hallyday

 

Utopia

astaga. kami yang mengangkang suatu masa. memuja ketidakadilan Tuhan pada manusia. akhirnya rebah di hamparan debu-debu.

melempar bintang-bintang padam dengan batu. ribuan kilometer dari lampu. terkubur dalam perasaan harapan hidup. dari udara dingin mengutuk hidung.

kesempurnaan. yang tergantung di sketsa akhir zaman. pikiran-pikiran banal. terperangkap pada lubang tak berongga.

astaga. matahari turun tanpa ampun. mata hati beku tertimbun. mata kami mata ikan mati.

Kubang Raya, 4 Februari 2023

 

Kami Dengar

kami dengar mereka menggali waktu pelan-pelan, seolah ‘kan temukan harta karun setelah tahun-tahun kesiaan. mereka yang tak pernah menyebut nama, kecuali pada para penimbun dosa.

kami dengar mereka tidak tertarik surga, sering bisik-bisik tentang neraka, diam-diam lukisan api terlihat jatuh setelah dikembarakan angin.

orang-orang beriman menyebut mereka golongan tanpa golongan, mereka tidak mengaku golongan mana pun. bahkan, kepada anjing yang menggonggong mereka ucapkan salam.

kami dengar mereka telah sampai kepada perbatasan diri sendiri, tempat segala garis berubah jadi penanda takdir yang sulit dikendali.

salam. salam. awan mulai meruntuhkan hujan. segala di bumi basah tiada dusta.

Kubang Raya, 4 Februari 2023

 

Romansa Batang Sosa

pada kembang jala ayah, bunga-bunga harap mengapung tabah, pada ikan tapah, belida, dan bariba.

kami anak kecil diayun ibu, di tepi Batang Sosa yang bening kehitaman. di atas cangga keras batang kopi, lagu-lagu lama lagi-lagi menggema.

ibu perempuan setia, setelah bertempur dengan takdir tanpa bunda. ia merawat kami serupa pusaka, turun dari langit di bawah purna purnama.

amis ikan tercium, ayah meletakkan senyum pada kulum, pada ikan sulum yang ranum, jika dibakar dengan cinta panas rangkum.

Kubang Raya, 1 Februari 2023

 

Kata Khatam Ibu

pada pindang inggit-inggit, yang hidang dalam mangkok cap ayam, kuning kenangan tercecap lagi.

ngiang masa lalu yang hilang. anak-anak mandi telanjang, di tepian bunga kenanga, di sekeliling tumbuh kopi dan tinggi durian.

kata katamu khatam ibu, tenggelam di lubuk salahku, ikan-ikan kebaikan terbang, dari kuali ke langit tinggi.

kini doa jejak ke bumi, bekas kakimu peta lagi, arah pulang yang jauh, kini mengarah kembali seinchi demi seinchi.

Kubang Raya, 1 Februari 2023

 

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Menulis sejak 2006. Mengajar English Acquisition di TK Islam Annur Bastari. Ia belajar Bahasa Spanyol secara otodidak. Sehari-hari menjadi Mentor Menulis Puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia terpilih mengikuti Residensi Seniman Riau 2023 kategori puisi. Youtube: Dunia Asqa. IG: @muhammadasqalanie.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *