Mengalami sesuatu yang tidak dipercaya

Oleh: Muhammad Husein Heikal

PERNAHKAH Anda tidak mempercayai suatu hal, yang dikatakan orang-orang bahwa itu benar adanya, tapi Anda ngotot mempertahankan ketidakpercayaan, dan suatu hari kemudian justru Anda sendirilah yang mengalaminya?

Hmm..ya, jelas itu bukan Anda. Itu saya. Saya tak percaya writer’s block itu ada. Walau para penulis terdahulu memastikan itu benar adanya. Namun sekarang saya tak punya pilihan lain selain untuk mempercayainya. Sebab saya kini tengah mengalaminya.

Dulu saya menganggap writer’s block hanyalah alasan para penulis yang malas untuk menulis lagi. Tentu saya harus buru-buru mengubah persepsi ini sekarang, karena tentunya saya tidak mau dicap sebagai “penulis yang malas”. Tapi ya, memang tak sesederhana itu menjabarkan writer’s block.

Kini yang saya rasakan begini: saya ingin menulis, ya, saya benar-benar ingin menulis, barangkali sebuah artikel atau cerita pendek. Akan tetapi ketika sudah berhadapan dengan kertas kosong, mendadak saya merasa tak memiliki apa-apa untuk dituliskan.

Kemana ide saya selama ini? Kemana pemikiran saya? Kemana imajinasi saya? Pertanyaan-pertanyaan ini cuma membentur dinding dalam kepala saya, tanpa menemukan jawaban.

Baca juga: Masa depan yang nyatanya tak sebahagia dengan yang kita idam-idamkan

Saya mencoba bereksperimen. Dulu, biasanya kalau sudah mandek untuk menulis, saya jogging. Keringat yang saya keluarkan menjadi energi positif untuk menulis. Hasilnya lumayan. Bedanya kini, saya sudah pindah rumah, yang tidak berdekatan dengan lapangan ataupun jogging track. Maka opsi ini saya tutup.

Saya coba bersepeda. Saya pinjam sepeda baru sepupu saya. Saya kebut 15 km dengan kurun satu jam. Minggu depannya 10 km. Minggu depannya lagi, saya tak syur lagi. Sebab tak ada perubahan. Saya tetap tak bisa menulis.

Saya coba pula jalan-jalan. Saya berangkat ke sebuah kota kecil yang terletak di pantai Sumatera bagian timur. Asyiklah. Apa yang saya lakukan disana? Tentu saja bukan menulis. Saya makan, makan, dan makan. Pulang dari sana, berat badan meroket, dan menulis tetap saja tak bisa. Aih!

Berbagai hal kecil lain saya coba. Bermacam-macam cara saya lakukan, yang saya anggap barangkali bisa menjadi daya ungkit menulis kembali. Nyatanya sampai sekarang tak berhasil juga. Lantas saya hendak bagaimana?

Honor tulisan yang terakhir saya terima ialah akhir tahun lalu. Ah ya, mungkin saya perlu memberitahu, kurun selama kuliah, saya hidup dari honor-honor tulisan saya, di samping beasiswa dari pemerintah. Lalu sejak saat itu hingga sekarang, darimana saya mendapatkan uang untuk hidup? Entahlah. Sebab kerja di masa sekarang ini jelas sulit. Tak ada lowongan. Kalau pun ada, mereka mencari sosok “maha sempurna” harus serba bisa ini-itu.

Baca juga: Bagaimana pendidikan kita menciptakan orang terpelajar

Ada kekhawatiran yang sesekali menyelinap: apakah saya sudah tak mampu menulis lagi? Meski kekhawatiran ini hadirnya sesekali, tapi sangat menyengat! Selama ini, selama ini…demikian mudah saya merangkai ribuan huruf, menjalin pemikiran, menangkap api imajinasi, ah…betapa mudahnya menjadikannya sebuah tulisan seharga Rp 500 ribu.

Tapi kini mengapa semua melenyap seolah tak pernah hinggap barang sejenak?

Tulisan yang Anda baca saat ini, sudah ingin saya tuliskan sejak tiga bulan lalu. Namun betapa sulitnya. Betapa susah rasanya. Saya seperti kehilangan 26 abjad alfabet. Padahal mereka selalu ada, bukan? Saya salah satu penyusunnya. Menyusun huruf-huruf itu menjadi kata, menjadi makna dan barangkali menjadi kebahagiaan bagi sebagian kecil pembaca.

Saya tahu tulisan-tulisan saya terdahulu banyak yang buruk, dan barangkali sempat memualkan pembaca. Saya menyesal mengapa menuliskan tulisan semacam itu. Tapi saya beranggapan, mungkin memang sudah demikian takdirnya. Sebagian kecil orang dilahirkan untuk menulis, dan sebagian besar untuk menjadi pembaca. Dan sebagian kecil dari sebagian kecil penulis itu, ialah penulis yang buruk. Mungkin begitu.

Hmm, sudahlah. Barangkali cuma ini yang bisa saya tuliskan. Kan saya sedang writer’s block, ya? Jadi tulisan ini sekadar ocehan seorang yang sedang dilanda writer’s block. Oh ya, saya takut writer’s block ini bukan hanya terjadi satu-dua tahun, melainkan selama-lamanyaaaaa!

Kalau demikian, oh, itulah hukuman buat saya, karena: tidak mempercayai suatu hal, yang dikatakan orang-orang bahwa itu benar adanya, tapi saya ngotot mempertahankan ketidakpercayaan, dan suatu hari kemudian justru saya sendirilah yang mengalaminya.(*)

Baca juga: 

Leave a Reply