Hidup memang cuma begini-gini saja

“Nikmati aja dulu, nanti kalau udah kerja, itu bakalan capek lho. Cuma Sabtu-Minggu kayak gini yang libur.”

Karyawan perusahaan pembuat pompa asal Jerman itu menyedot rokoknya kembali. Saya hanya bisa tersenyum. Lalu ketika dalam perjalanan menuju Cimahi malam itu, saya ulang kalimat itu pada abang sepupu saya yang sedang menyetir dalam kecepatan 120 km/jam.

“Iya nikmati kalau ada uang, kalau tak ada cemana?”

Kali ini saya tertawa, getir barangkali. Dari sekian banyak yang saya lakukan dan kerjakan selama hidup, terutama 12 tahun sekolah wajib ditambah 4 tahun kuliah, nyatanya dunia pekerjaan masih belum mau menerima saya.

Padahal saya tak bodoh-bodoh amat. Saya sering nulis––semacam ocehan, tapi ocehan yang serius––buat media cetak nasional, dan itu rupanya belum berarti apa-apa.

Memang begitulah dunia, kawan. Kejam, brutal sekaligus mencekam.

Baca juga : Bagaimana pendidikan kita menciptakan orang terpelajar

Beruntung saya orang beragama. Saya punya Tuhan yang saya sembah dan kitab suci sebagai acuan. Saya berprasangka baik saja terhadap-Nya.

Beberapa hari kemudian, di rumah abang sepupu yang tadi menyetir itu, saya “bertemu” dengan Leo Tolstoy dan Paulo Coelho. Leo menyodorkan ceritanya kepada saya Tuhan Maha Mengetahui, Tapi Dia Menunggu.

“Saya sudah pernah baca.”

“Bacalah lagi.” Bujuk Leo.

“Saya sudah hafal ceritanya. Mirip dengan Shawshank Redemption besutan Frank Darabont lho, yang bintangnya Tim Robbins dan Si Freeman.”

“Benarkah?”

“Ya, tapi kau tak perlu menuntutnya, Stephen King..”

“Stephen siapa?”

“Kau ini, kalimatku belum selesai sudah kau potong-potong. Si Stephen yang menulis novel Shawshank itu.”

Leo diam terpukau, lalu beranjak perlahan-lahan ke sudut. Sampulnya tak muram. Saya kasihan. Saya tak sampai hati tak membacanya. Maka saya membacanya, untuk kedua kalinya di tahun ini.

Setelah membacanya, saya merasa benar-benar haqqulyaqin bahwa takdir memang demikian hobi mengecoh.

Niat yang tulus tak selamanya berjalan mulus. Ada rintangan-rintangan yang tak tampak kasat mata, menerpa satu demi satu. Dalam agama, itu disebut ujian. Dan Tuhan tak akan memberikan ujian yang tak sanggup dihadapi oleh hamba-Nya.

Hidup memang begitu, kawan. Kemarin saya tes seleksi di sebuah perusahaan media raksasa. Towernya megah. Di dalamnya dingin bukan main!

Saya jadi teringat ketika Ikal dan Arai baru tiba di Eropa dan hampir mati kedinginan (baca: Sang Pemimpi karya Andrea Hirata).

Jam 7 pagi saya sudah bertengger di sana, setelah berdesak-desakan dalam KRL. Padahal tes psikotes dimulai jam 10, dan wawancara jam 1 di tempat berbeda pula, di Bursa Efek. Diterimakah saya? Belum––sebab sakit bila menyebutnya tidak.

Diterima atau tidak, saya tetap menulis sebenarnya. Beberapa media “memerlukan” saya atau jari-jari saya atau tepatnya lagi hasil karya perpaduan otak dan jari-jari saya.

Untuk menulis otak saya perlu gizi yang cukup. Kalau tidak, ya hasilnya berlepotan. Seperti tulisan yang Anda baca ini contohnya. Tapi baca sajalah, mungkin ada hal baik terselip di dalamnya.

Baca juga : Masa depan yang nyatanya tak sebahagia dengan yang kita idam-idamkan

Menulis sudah jadi kebutuhan bagi saya. Kalau tak menulis rasanya ada yang kurang, seperti makan nasi padang tanpa sambal.

Lalu mengapa saya mau melamar kerja di perusahaan? Sebab saya punya ibu (yang harus dibiayai) dan kekasih (yang harus dinikahi). Untuk mereka berdualah saya sekarang di Jakarta, terpencil bak zarrah di antara tower-tower menjulang dan kereta yang lalu lalang.

Anda tak percaya? Ah tak mengapa. Sekarang ini kawan, kepercayaan itu memang mahal sekali harganya.
Besok apa yang harus saya lakukan? Saya tak begitu yakin.

Umur saya 22 tahun 8 bulan. Saya punya banyak energi dan pemikiran yang memerlukan sarana. Tapi justru semua itu tak saya dapatkan secara layak. Bagi pemikiran mungkin tersalurkan lewat menulis, walau tak seluruhnya. Sebab saya suka bercerita atau berdiskusi sebenarnya.

Tapi teman saya minim sekali.

Beginilah saya, membakar hari-hari dengan rasa bosan, ah bukan. Saya tak bosan. Saya cuma butuh kegiatan yang lebih dari ini. Tapi apa, saya tak tahu. Tapi setelah saya pikir-pikir, bukankah hidup memang begini-gini saja?

Alhasil saya hanya bisa kembali membuka lipatan laptop sepupu saya, dan menuliskan ocehan ini. Kalau kiranya tak bermanfaat, maka sama seperti yang saya katakan kepada Tolstoy, janganlah menuntut.

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

2 weeks ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

3 weeks ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

3 weeks ago