Connect with us

Kolom

Berhenti Melawan Hidup : Belajar dari Seorang Mantan Budak

Published

on

Spread the love

Oleh: Andi Ulfa Wulandari 

(Dosen Aqidah dan Filsafat UIN Alauddin)

Ada buku yang tidak hanya dibaca, tapi mengajak kita duduk lebih lama dengan diri sendiri dan merenung. STOIK: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci adalah buku seperti itu.

Tulisan saya ini sejatinya adalah sebuah review dari buku yang saya baca, yang telah saya sebutkan judulnya di atas. Buku dengan ketebalan 277 halaman yang ditulis oleh seorang profesor filsafat di New York. Pertama kali dicetak pada tahun 2022, namun buku yang saya pegang merupakan cetakan ke-9 yang diterbitkan Mei 2026 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama.

Stoikisme di tangan Pigliucci tidak disajikan sebagai ajaran kuno berdebu. Ia membongkarnya menjadi manual hidup: sederhana, praktis, dan menusuk. Bahasa yang digunakan Pigliucci pun seakan-akan sedang berkisah tentang dirinya dan orang-orang sekitarnya. Pada prolognya, Pigliucci menyampaikan bahwa buku yang cukup tebal ini sebenarnya terinspirasi dari Discourses karya Epictetus, seorang filsuf Stoik yang merupakan budak pada masanya. Sehingga tak heran jika hampir setiap bagian awal sub-bab dari buku ini terdapat kutipan dari “sang mantan budak” yang bijaksana.

Namun, sedikit ngilu ketika membaca bagaimana Pigliucci menyajikan tulisannya seakan sangat akrab dengan Epictetus, sesekali dia menyebut Epictetus sebagai “si tua”, pada kesempatan lain dia menyebut sebagai kawannya. Gaya bahasa yang seperti ini menjadikan buku filsafat ini tidak begitu kaku, karena disajikan dengan kelihaian penulis memainkan diksi.

Hanya saja, bagi orang-orang yang baru ingin mempelajari filsafat, buku ini bisa sangat menjenuhkan. Alasannya : Pertama, karena buku ini berukuran sedikit lebih besar, tebal, dan padat tulisan. Karena ini bukan buku ajar, maka untuk ukuran yang sebenarnya enak dibawa ke sana kemari sambali nyantai di cafe adalah ukuran A5. Kedua, karena terbitan GPU ini merupakan buku terjemahan atau telah di-alih bahasakan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, maka secara personal saya merasa pada beberapa bagian maknanya kurang sampai dan berbelit. Tapi, kritikan ini tentunya tidak mengurangi kebermanfaatan dan keluasan ide dalam buku ini.

Baiklah, saya melanjutkan. Pigluicci membagi tulisannya ini menjadi 3 disiplin utama yang sebenarnya adalah 3 pertanyaan paling dasar manusia:

1. Disiplin dalam Hal Hasrat: Apa yang patut kita inginkan, dan apa yang tidak?

2. Disiplin dalam Tindakan: Bagaimana kita berperilaku di dunia?

3. Disiplin dalam Niat: Bagaimana kita menanggapi situasi yang datang kepada kita?

Tiga pertanyaan ini dibedah dengan cerita maupun dialog, juga dengan latihan. Pigliucci mengingatkan kita pada kalimat penting: “Filsafat yang sejati merupakan perpaduan antara sedikit teori dan banyak praktik.” Dan di sinilah buku ini hidup, hingga saya sangat sepakat dengan statemen ini. Filsafat memang harus terlihat dalam kehidupan, bukan sekadar dalam teori yang kemudian diagung-agungkan dalam forum diskusi semata yang menjadi bumbu agar terlihat keren ketika berbicara.

Selain itu, saya ingin membagikan pesan menarik dari buku ini, anggap saja pesannya adalah: Menerima hidup seperti gandum yang dipanen. Bagian ini yang paling menggugah saya, dan ini dimasukkan ada pada pembahasan tentang kematian dan penerimaan, di mana Pigliucci mengutip analogi gandum:

“Mengapa setangkai gandum tumbuh? Bukankah karena ia akan menjadi masak di bawah sinar matahari? Dan bila bulirnya masak, tidakkah itu karena ia boleh dipanen?”

Seandainya gandum bisa merasa, akankah ia berdoa agar tidak dipanen?

Lewat analogi sederhana itu, Stoikisme mengajarkan kita untuk berhenti melawan kodrat. Ada hal-hal yang di luar kendali kita. Tugas kita bukan bernegosiasi dengan kenyataan, tapi menyesuaikan niat kita dengannya. Inilah yang disebut Pigliucci sebagai dikotomi pengendalian, salah satu dari 3 prinsip utama Stoik yang juga dirangkum oleh penulis yaitu: Kebajikan adalah hal utama, mengikuti alam, dan memahami apa yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan.

Sejujurnya, dari ketiga bab dalam buku ini, bab ketiga-lah yang membuat saya banyak berefleksi. Pada bagian ketiga tepatnya dalam sub-bab Persahabatan dan Cinta, Pigliucci mengkritik halus kata “love” dalam bahasa Inggris. Secara gamblang mungkin satu kata itu terlalu “miskin” untuk menampung banyaknya jenis cinta dalam filsafat. Dia menyinggung setidaknya empat jenis cinta :

– Agape, yaitu cinta tanpa pamrih seperti cinta Tuhan atau orang tua, setidaknya demikian yang dijelaskan filsuf abad pertengahan, Thomas Aquinas.

– Eros, yaitu daya tarik dan gairah yang lebih mengarah pada ketertarikan seksual. Namun belakangan Plato dalam Symposium mengatakan bahwa Eros berkembang menjadi bentuk penghargaan terhadap keindahan seseorang.

– Philia, yaitu cinta persahabatan;

– Storge, cinta pada negara atau komunitas, sama seperti kecintaan pada tim sepak bola pada piala dunia yang baru saja berlalu.

Cukup rasional Pigliucci mengatakan itu, padahal dia tinggal di New York yang notabenenya berbahasa Inggris, namun dia mengemukakan (meski halus) bahwa kata “love” tidak menampung keseluruhan jenis-jenis cinta yang sudah dimaksud di atas tadi.

Kita memang butuh membedakan. Karena memperlakukan semua cinta dengan cara yang sama adalah suatu hal yang keliru. Hal menarik lainnya, Pigliucci membahas tentang kesendirian dan kesepian pada bab ini. Memang demikian, para filsuf Stoik pun akan sepakat bahwa kesendirian adalah penjelasan faktual, sedangkan kesepian adalah penilaian yang kita tumpangkan pada ‘kesendirian’.

Kesendirian sebagai fakta, seperti sendiri di kamar. Sementara kesepian adalah penilaian yang kita tumpangkan di atas fakta itu. “Aku kesepian.” Padahal faktanya hanya “aku sendiri”. Penilaian itulah yang membuat kita menderita. Sekali lagi, Stoikisme mengajak kita kembali ke dalam, denganmeluruskan penilaian, bukan mengubah dunia. Sehingga ada sebuah jargon sekaligus candaan yang sering saya lontarkan untuk membalas ledekan terhadap kondisi “kesendirian” yang kerap dialami, cukup dengan membalas mereka : “Yes, alone but not lonely.”

Lalu, untuk siapa buku ini?

STOIK: Apa dan Bagaimana bukan buku untuk membuat kita kebal perasaan atau pun apatis. Justru sebaliknya. Ia mengajari untuk merasakan sepenuhnya, tapi tidak tenggelam. Ia tidak meminta kita menjadi patung. Ia meminta kita menjadi manusia yang memilih, memilih kebajikan di atas kenyamanan, memilih tindakan selaras alam di atas reaksi gegabah, memilih niat yang jernih di atas drama.

Di tengah zaman notifikasi, ajaran ini seperti jeda. Ia tidak menawarkan kebahagiaan instan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih sulit dan lebih jujur yaitu ketenangan yang lahir dari pengertian.

Jika kita lelah mengejar hal-hal di luar kendali, jika kita ingin belajar mencintai tanpa menuntut, kehilangan tanpa hancur, dan hidup tanpa terus-menerus melawan arus, maka bacalah tentang filsafat Stoik lebih banyak lagi. Pelan-pelan, dan praktikkan. Jangan berhenti di buku ini saja.

“Karena filsafat terbaik adalah filsafat yang bisa dijalani saat kita mencuci piring, saat kita ditolak, dan saat kita harus melepas.”