Kolom
Yes to Life : Catatan tentang Makna Hidup
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
(Dosen Filsafat UIN Alauddin)
“Kapan seseorang mulai membiarkan dirinya jatuh secara spiritual? Saat ia tidak lagi punya pegangan. Baik pegangan pada masa depan, maupun pegangan pada keabadian…”
Di balik tirai kamar rumah sakit, ungkapan dengan font tebal itu memberi saya jeda. Sinar matahari pagi yang mengintip melalui kaca jendela, seolah menemani permenungan tentang mental, spiritual, dan fisik. Viktor E. Frankl memang selalu menampar saya setiap membaca karyanya, bukan hanya seni yang ia gunakan dalam berbagi pengalaman dalam tulisannya Man’s Search for Meaning, namun juga kejujurannya dalam tulisan-tulisan yang pernah saya temui. Kutipan di atas tadi menjadi salah satu gagasan Frankl ketika saya menyeruput karyanya, Yes to Life (Katakan Ya pada Kehidupan).
Ketika menulisnya, Frankl mengakui terinspirasi dari lirik lagu yang sering ia nyanyikan di kamp konsentrasi (Nazi), sebagai seorang tawanan yang menikmati lirik lagu:
“… Whatever our future may hold: We still want say yes to life. Because one day the time will come. Then we will be free.”
Membayangkan bagaimana Frankl menyanyikan lagu Buchenwaldlied itu, dengan suara yang pelan agar tidak mengusik para penjaga di kamp konsentrasi. Namun, ini bukan tentang lagu, apalagi tentang suara Frankl yang dibuat ‘sotto voce’. Melainkan tentang kejernihan pikiran manusia yang masih berusaha menemukan makna di tengah kekacauan dan kehancuran sekalipun.
Hari kelima membersamai putri saya di rumah sakit, melihat bagaimana kegelisahan anak kecil karena merasakan ketidaknyamanan pada tubuhnya. Melihat bagaimana pasien-pasien lain bergelut dengan sakitnya masing-masing; anak bayi dengan tangisan yang memekik, orang dewasa yang mengeluh dan menjerit, hingga sirine ambulans yang tidak mengenal waktu. Semuanya memberikan tanda-tanda kehidupan, bahwa inilah yang dinamakan hidup, tempat pertarungan antara doa dan harapan.
Tidak ada yang benar-benar tahu kadar rasa sakit dan pertarungan di kepala orang-orang itu, semua sedang mempertaruhkan kenyamanannya.
Mengapa saya harus membuka tulisan ini dengan ungkapan Viktor Frankl?
Agaknya saya terkesan dan terpicu untuk lebih banyak membahas mengenai makna hidup. Alih-alih sebagai suatu teori filsafat yang dianggap klasik, pembahasan tentang makna hidup justru tidak pernah mengenal kata klasik dan akan terus relevan sepanjang masa, sepanjang hayat, bahkan saat manusia telah berhadapan dengan kematian, makna itu masih tetap penting.
Bukan hanya hidup saja yang mempunyai makna, tetapi juga penderitaan-penderitaan di dalamnya memiliki makna. Lalu, apakah penderitaan manusia dapat diukur atau dinilai dengan cara membandingkannya dengan penderitaan orang lain?
Perlu penegasan dalam hal ini, bahwa penderitaan manusia sama sekali tidak bisa diukur. Sesungguhnya ada perbedaan mendasar yang dialami setiap penderitanya, maka tidaklah etis untuk mengecilkan perasaan ‘derita’ orang lain untuk kemudian mengajarinya bersyukur karena masih banyak yang lebih menderita darinya. Pernyataan seperti ini tidak akan serta merta meningkatkan spiritualitas seseorang untuk bersyukur, namun malah berpotensi menggerogoti kondisi mental yang berujung pada kesakitan fisik. Saya menilai bahwa antara mental, spiritual, dan fisik adalah hal yang saling berkaitan. Sakit pada mental dapat menjadi sebab sekaligus akibat dari kondisi fisik, pun sebaliknya. Lalu mengapa saya harus menulis ‘spiritual’ di tengah-tengah keduanya? Inilah yang membuat saya tertarik pada ungkapan Frankl dan pada pengalaman-pengalaman orang yang selamat dari upaya bunuh diri.
Antara mental dan fisik seolah ada jembatan yang perlu dihadirkan, yang mampu menopang ketika seseorang sudah hampir terjun bebas. Tanpa jembatan itu, kekacauan, kehancuran, dan penderitaan bisa menjadi muatan berat yang membuat manusia jatuh terpuruk. Tanpa adanya harapan pada keabadian, manusia rentan mengalami kehampaan, serta menganggap ‘kematian segera’ sebagai jalan keluar dari derita. Betapa banyak manusia yang menganggap hidupnya tidak lagi berguna, namun saya juga mengetahui kenyataan bahwa orang yang sudah mati pun masih mampu memberikan makna sepeninggalnya, misalnya dengan penemuan baru di dunia kedokteran akibat penyakitnya, ada juga yang memberikan kontribusi organ tubuhnya untuk penelitian anatomi tubuh, sehingga ilmu pengetahuan itu bisa sampai dan digunakan saat ini.
Maka pada bagian manakah hidup ini tidak bermakna? Atau mungkin cara kita memandang hidup ini yang perlu direkonstruksi?
Langit-langit ruang dengan khidmat menunggu saya menyelesaikan refleksi ini. Lamat-lamat menatap putri saya yang di matanya terpancar harapan pada masa depan, sebagaimana yang disinggung Frankl tadi. Lima hari lalu dengan konsep penguasaan nafas, saya berusaha tenang. Menerobos kemacetan yang bersahut dengan kumandang azan Magrib menuju Unit Gawat Darurat, memacu harapan pada ‘keabadian’ bahwa semua akan baik-baik saja. Inilah yang mungkin dapat saya katakan sebagai jembatan antara mental dan fisik. Sebuah harapan yang lahir sebagai fitrah, tanpa tahu akan seperti apa yang terjadi, namun selama jembatan (spiritualitas) ini masih berdiri, manusia akan selalu menemukan jawaban-jawaban, bahkan dalam diamnya sekalipun.
Mulanya saya benar-benar tidak mengerti mengapa seorang filsuf menawarkan gagasan konyol tentang seni menderita, bahkan memberikan teori baru di dunia psikoterapi. Seakan-akan manusia diajak untuk bersikap apatis pada kehidupan. Namun, pikiran positif saya pada Frankl akhirnya mendorong suatu pemahaman baru, bahwa manusia memang memerlukan bantuan khusus untuk melalui hidup. Entah manusia itu mengubah nasibnya jika memang mungkin, atau secara sukarela ia menerimanya, jika memang perlu.
Terlepas dari kesulitan dan kematian, terlepas dari penderitaan secara mental maupun fisik, atau bahkan di bawah tekanan nasib, tetaplah katakan “Ya” pada hidup. Apapun yang terjadi. Tak peduli pada tingkatan penderitaan, tidak ada gunanya membicarakan perbedaan tingkat derita itu. Yang penting adalah perbedaan antara kebermaknaan dan ketidakbermaknaan atas derita itu.
Menyeduh pahitnya kopi tanpa gula atau matcha tanpa pemanis di saat-saat terpahit dalam hidup, sepertinya akan sangat cocok. Jika kepahitan saja dapat dinikmati, apalagi untuk hal-hal manis dalam hidup ini. Yes to Life…!

