Mengapa kita harus pintar?

Oleh: Muhammad Husein Heikal

SAAT mengikuti serial Young Sheldon, selepas episode lima musim pertama, sebuah pertanyaan mengelus-elus kepala saya. Mengapa kita harus pintar?

Semalam saya tengok pula iklan media cetak: tabung wawasan dengan membaca. Apa sebenarnya guna kepintaran dalam kehidupan ini? Saya ingin menanyakan hal ini kepada ibu saya, namun saya ragu. Saya takut dianggap tidak pintar.

Nah, mengapa saya tidak mau dianggap tidak pintar? Apa karena tidak mau dianggap tidak pintar itu, maka saya harus jadi pintar?

Mari kita pikirkan sejenak. Bisa jadi itu salah satu alasannya. Ya, alasan mengapa saya harus pintar. Alasan lainnya apalagi? Mungkin, kalau Anda pintar, Anda tidak mudah ditipu orang.

Baca juga: Mengapa saya harus menulis?

Misal Anda ingin berlibur ke Adelaide. Kalau Anda pintar Anda pasti membandingkan harga tiket pesawat antar situs penjual. Anda mencari yang termurah tentunya. Tapi karena Anda pintar, Anda tahu pelayanan awak pesawat pada harga tiket termurah tidak akan baik. Bisa delay berjam-jam.

Maka, karena Anda pintar, Anda tidak mau berisiko menunggu berjam-jam. Anda pun membeli tiket yang sedikit mahal. Satu hal beres.

Kemudian di Adelaide, Anda akan berkunjung kemana saja? Naik apa? Bagaimana caranya? Dan lainnya?

Tentunya, kalau Anda pintar, Anda menghitung semua itu dengan perkiraan yang rinci plus dengan persiapan atas kejadian atau biaya yang tak terduga. Begitukan? Anda harus mencari transportasi apa yang mudah dan murah di Adelaide. Itu harus Anda cari sebelum berangkat.

Intinya, karena Anda pintar, setelah semua Anda persiapkan dengan sebaik-baiknya, lantas apakah mungkin terjadi hal di luar kendali atau perencanaan Anda? Tentu saja ada!

Baca juga: Mengalami sesuatu yang tidak dipercaya

Seberapa pintar pun kita, ada hal-hal yang tidak dapat kita prediksi kehadirannya. Ada hal-hal yang terjadi di luar kehendak kita. Siapa yang mengatur itu semua. Kita bisa menyebut takdir atau Tuhan. Jadi kalau begitu, kalau ternyata yang kita rencanakan sebaik-baiknya justru tak bisa berjalan dengan lancar, buat apa kita harus pintar?

Ada orang yang sejak kecil memang terlihat kepintarannya. Misal di SD dia selalu mendapat ponten seratus untuk mata pelajaran tertentu. Apalagi dia meraih ranking satu. Tapi ada juga orang yang belajar hingga menjadi pintar. Di SD dia biasa-biasa saja. Tapi ketika SMP ia baru mendapat ranking yang bagus.

Intinya bermacam-macam cara orang untuk bisa pintar. Ada yang sekolah hingga ratusan juta, ada yang kursus hingga larut malam, ada yang terus menekuri buku pelajaran hingga terukir garis di keningnya.

Sadarkah kita bahwa sejak umur 6 tahun kita sudah disuruh belajar agar pintar? Tahun demi tahun, kelas demi kelas yang dilalui, sayangnya itu tak membuat semua dari kita menjadi pintar. Tengok saja, selalu ada murid bodoh dan murid pintar.

Terjadi pengelompokan oleh guru atau wali kelas, bahwa si A pintar, si B bodoh, si C tak terlalu pintar, si D bodoh tapi rajin, dan seterusnya.

Dalam satu kelas, misalnya 30 orang murid di dalamnya, memiliki karakteristik dan kadar kepintaran atau kebodohan yang beragam. Namun bagi para guru, murid yang pintar ialah murid yang selalu meraih nilai tertinggi di kelas. Dan murid yang meraih nilai terendah adalah murid terbodoh.

Tapi siapa sangka, dalam kehidupan, justru yang terjadi sebaliknya. Mengapa bisa demikian? Sebab sang guru menilai murid dari nilai atau prestasi akademiknya di sekolah. Di luar sekolah, siapa yang tahu?

Jadi kepintaran itu bukan sekadar perkara nilai atau academic orientation. Pintar Matematika, belum tentu pintar memperbaiki sepeda sendiri.

Baca juga: Catatan kecil perihal cinta

Kepintaran itu ternyata beragam. Kita selama ini dijejali dengan perspektif bahwa pintar itu cuma dapat dilihat dari sisi akademik belaka. Ya kan? Itu pun kita mengesampingkan berbagai kecurangan dan kejahatan yang sudah jadi rahasia umum.

Berbondong-bondong anak-anak kita bersekolah. Terkadang saya merasa sedih, saat menemui seorang anak berpakaian merah putih duduk terkantuk-kantuk di angkot. Betapa besar perjuangan untuk menjadi pintar itu! Walau pada faktanya di sekolah, kita sama tahu, tak semua orang bisa menjadi pintar––pintar dalam academic perspective.

Namun jangan kecil hati, di kehidupan yang serba luas ini, kita bisa menjadi orang pintar. Pintar apa saja! Pintar menuliskan kata-kata bijak, pintar berpidato, pintar membuat kaligrafi, pintar memperbaiki kipas angin, pintar mengubah background foto, pintar menyimpan arsip, pintar membersihkan rumah. Yap, bagi saya itu semua adalah kepintaran.

Bahkan orang yang memanipulasi ATM, adalah orang pintar. Para koruptor juga orang pintar. Koruptor yang tidak pintar adalah koruptor yang tertangkap.

Jadi, kepintaran itu sebenarnya kita miliki dalam diri masing-masing. Tapi tak semua dari kita menyadarinya.

Saat menjahit sendiri baju yang koyak kita tersentak menyadari bahwa sebenarnya kita bisa menjahit sendiri. Saat menggiling kacang di batu gilingan, selama ini saya selalu minder tak bisa menggiling, tapi ketika saya coba ternyata saya bisa. Eureka! Saya merasa terlambat selama ini menyadari kepintaran saya bisa menggiling.

Yeah, sama seperti saat menuliskan tulisan ini, saya mendapat pencerahan dari diri saya sendiri. Tepatnya dari saya untuk saya dan pembaca. Ah, saya ternyata pintar untuk bisa menuliskan hal semacam ini.

Saya kagum pada diri saya. Tak sangka, bahwa ternyata saya pintar.

Begitu juga dengan kalian, Kamerad!

Carilah kepintaran Anda yang mungkin belum Anda temukan. Anda bisa memulainya dengan hal-hal di sekeliling Anda.

Punya kipas angin yang rusak? Coba perbaiki sendiri. Pintu kamar mandi copot? Coba pasang saja sendiri. Mari kita temukan kepintaran demi kepintaran yang tersimpan di dalam diri kita.(*)

Baca juga: 

Leave a Reply