Mengapa saya harus menulis?

Oleh: Muhammad Husein Heikal

 

Mengapa saya harus menulis?

Apakah ada artinya?

Apa manfaatnya buat saya atau buat orang lain?

Benarkah ini perlu saya tuliskan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seringkali membentur kepala saya tepat ketika saya hendak bangkit ingin mulai menulis. Akibatnya saya lebih suka mengundurkan diri sebelum bertarung.

Oya, menulis ada pertarungan bagi saya. Bagi kalian, tidak? Terserah saja. Tapi bagi saya menulis itu tidak bisa disebut mudah. Saya berupaya tak membandingkan menulis dengan proses pekerjaan lainnya. Mengapa saya menganggap menulis sebagai pertarungan?

Proses menulis saya begini.

Pertama saya mencari atau menemukan (itu adalah dua kata yang berbeda) apa permasalahan yang sedap untuk ditarik menjadi perbincangan menarik. Kedua, saya mulai mencari bahan referensi atau literatur yang dapat menjadi penuntun (bukan acuan) untuk kerangka untuk berpikir. Lalu saya dekatkan antara hal pertama dan kedua. Hasilnya saya langsung mengambil kertas putih dan mulai menuliskannya.

Saya suka membuka tulisan dengan pertanyaan lugas dan kalau bisa menohok, pertanyaan yang ingin diungkapkan banyak pembaca kita namun tak kuasa mengubahnya menjadi tulisan (pada momen seperti ini, saya merasa menjadi seorang medium). Media juga sepertinya suka pada cara semacam ini.

Jadi tulisan saya, biasanya dibuka dengan beberapa kata diakhiri yang tanda tanya, kemudian di bawahnya, seluruhnya adalah jawaban dari pertanyaan tersebut.

Terlihat sederhana bukan? Ibarat mengerjakan soal ujian saat kuliah. Seribu jawaban untuk satu pertanyaan.

Kalian pasti menganggap itu mudah untuk saya lakukan, bahkan dalam sekedipan mata, bukan? Ho-ho.

Kalian pasti memasang raut sinis seraya berkata dalam hati bahwa saya berlebihan (apalagi saat mengatakan bahwa menulis adalah pertarungan). Saya tahu kalian mengejek saya. Tapi ketahuilah, apa yang saya katakan jujur di atas adanya. Saya tak berminat berbohong, baik secara langsung maupun lewat tulisan. Saya berupaya jujur di setiap keadaan.

Bila saya tak bisa berkata jujur, maka saya lebih memilih diam, daripada berbohong. Maka saya harap kita saling menghormati dalam hal ini. Menulis adalah pertarungan, itu adalah kejujuran saya.

Apa kejujuran kalian? Cobalah renungkan selagi membaca tulisan ini hingga selesai.

Baca juga: Hidup memang cuma begini-gini saja

Saya akan bercerita sedikit.

Saya menulis ketika berumur 17 tahun. Apa yang pertama saya tulis? Puisi. Saya membuka laptop dan menghadap ke jendela rumah kontrakan kami yang pecah dan melihat daun-daun keladi yang lebar membelukar.

Saya cobalah membayangkan daun-daun keladi itu dengan hal alami yang lebih indah. Saya bayangkan bunga-bunga, pepohonan, angin, alunan nada ringan. Dan kemudian terdengar oleh saya kicauan burung yang melintas. Hanya beberapa menit jadilah tiga puisi. Saya terpana. Semudah inikah? Saya merasa ini bukan diri saya. Saya terpukau pada apa yang saya tulis.

Tak menyangka alangkah bisa ternyata saya menulis.

Bertahun-tahun kemudian, proses semacam itu tak lagi berhasil diterapkan. Entah mengapa sebabnya. Kini, saya benar-benar kesulitan menulis puisi.

Metode menulis yang saya sebutkan di atas tadi berlaku untuk tulisan esai, artikel dan cerpen. Bagi puisi saya coba menjajal berbagai cara dan metode yang terus saja berganti-ganti.

Memang saya merasa menulis puisi adalah proses tanpa henti. Maksudnya puisi demi puisi yang saya tulis akan memiliki bentuknya masing-masing, sesuai dengan kadar emosi dan keahlian metafora saya dalam menuliskannya. Saya selalu menganggap puisi-puisi saya buruk pada akhirnya.

Padahal ketika menuliskan puisi tersebut saya selalu berupaya memilih diksi setepat mungkin. Saat itu saya merasa puisi itu sudah bagus. Namun bertahun-tahun kemudian tersentaklah saya, alangkah buruknya puisi yang saya tulis itu.

Timbul semacam penyesalan dan perasaan malu pada diri sendiri. Anggapan paling sering saya rasakan terhadap diri sendiri ialah saya penulis yang buruk. Anggapan ini satu sisi membuat saya mencoba berhenti menulis atau berhenti menjadi seorang penulis, tepatnya.

Sayang di sisi lain, seberapa keras saya berusaha, saya selalu kembali menulis. Saya kesal tentu saja. Mengapa menulis menjadi kewajiban bagi saya? Siapa yang merancang semua jadi begini? Saya bertanya pada diri saya, tapi justru diri saya bertanya kembali pada saya.

Semakin kuat saya berusaha untuk tidak menulis, semakin kuat dorongan (entah dari mana) yang menyuruh saya untuk menulis. Keparat betul. Saya jadi merasa diperintah entah oleh siapa. Meski saya coba terus menahannya, tapi ya pada akhirnya saya menyerah juga. Kertas putih harus riuh oleh tinta. Mengapa saya harus menyerah? Begini.

Saat saya lagi berbaring misalnya, mendadak saya teringat pada suatu hal atau saya menemukan satu pemaknaan hidup yang menarik, maka syaraf-syaraf (saya tak yakin sepenuhnya itu ulah syaraf saya) saya seolah berontak, “Tuliskan, tuliskan, lekas tuliskan itu!”

Saya merasa tubuh saya didorong-dorong oleh gerakan halus untuk bangkit dan mengambil kertas. Saya coba emoh. Saya alih-alihkan pikiran ke hal lain. Tapi tetap saja kekuatan-yang-tak-terlihat itu mendorong saya semakin keras. Saya merasa ini tak adil. Saya (sedang) tak ingin menulis.

Lain waktu kan bisa, begitu saya coba berunding dengan kekuatan yang-tak-terlihat tapi memaksa itu. Ada masanya kekuatan-yang-tak-terlihat itu melunak, namun ada masanya ia tak mau mengalah.

Tentu saja saya cukup tersiksa pada kondisi semacam ini. Saya belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Berselang waktu, diterpa kondisi semacam itu, saya coba mengikuti kehendak kekuatan-yang-tak-terlihat itu. Eh, bukannya malah merasa tambah baik, justru saya semakin beringas dalam menulis. Segala-galanya jadi ingin saya tuliskan.

Segala yang terlihat, segala yang terdengar, segala yang dialami, bahkan segala apapun itu, rasanya seluruhnya hendak saya tuliskan.

Begini. Saya beberapa kali dinasihati kekasih saya, “Jangan selalu mengharapkan hasil atas apa pun yang dikerjakan. Cobalah untuk melakukan suatu hal tanpa mengharapkan hasil.”

Nah, jadi kekasih saya menganggap saya sebagai manusia yang senantiasa berorientasi pada hasil atau hasil-oriented. Saya tak memungkiri hal ini. Saya memang merasa demikian, kok. Nah, parahnya lagi, semakin saya menulis, semakin saya mengharapkan hasil.

Setiap apa pun yang saya tulis saya berharap itu bisa menghasilkan. Menghasilkan apa, misalnya? Duit, honor, respek, antusiasme, perspektif beda, maupun kritik. Itu yang saya harapkan. Saya merasa naif sekali pada diri sendiri. Saya merasa tak manusiawi. Semua yang saya lakukan bukan atas dasar keikhlasan, namun atas dasar ingin mendapatkan hasil.

Alhasil menulis (maupun tak menulis) menjadi siksaan bagi saya. Saat tak hendak menulis, saya dipaksa oleh kekuatan-yang-tak-terlihat untuk menulis.

Saat menulis saya terus-menerus mengharapkan hasil. Apa yang harus saya sesali? Entahlah. Saya pun bingung.  Tapi kira-kira sudahkah kalian pahami, bahwa menulis, sebagaimana yang saya maksud, sesungguhnya ialah suatu pertarungan?

Baca juga:

No Responses

Leave a Reply