Catatan kecil perihal cinta

Oleh: Muhammad Husein Heikal

You can lie and cheat and hurt people

and it’s all okay because you’re in love

— Wallace, What If (2013)

Tak akan pernah ada yang bisa mendefinisikannya. Ia hadir dalam perasaan manusia. Ia diam. Tak bergerak. Senyap. Tapi menggelitiki perasaan. Kita tak tahu mengapa. Cinta bisa muncul tiba-tiba, bahkan lewat sekedipan mata. Tapi secepat ia hinggap, secepat angin pula cinta bisa menghilang. Lenyap. Tak bersuara. Tak ada lagi. Hampa.


CINTA bisa menjadi hal terindah, sekaligus hal paling buruk. Yang awalnya menggelitiki perasaan bisa berubah menjadi cengkeraman. Yang awalnya amat menyenangkan bisa berubah menjadi yang mengerikan.

Cinta pada tiap manusia hadir dengan cara berbeda. Ada lewat pertemuan. Ada lewat suara. Ada lewat pegangan tangan.

Cinta bertumbuh dengan cara berbeda pula. Ada yang bertumbuh perlahan-lahan secara sengaja. Ada yang tidak disengaja. Ada tumbuh menjulang seketika. Ada yang bertahan sebentar. Ada yang bertahan bertahun-tahun. Ada yang abadi.

Seorang manusia yang cinta pada seorang manusia lainnya merupakan peristiwa yang sakral. Cinta diungkapkan satu sama lain.

Cinta tentu saja soal kata-kata. Tapi juga tak lepas dari sikap dan perbuatan.

Cinta yang diungkap kata-kata belum tentu sejalan dengan cinta dalam bentuk perbuatan. Cinta penuh dengan kerumitan. Tapi kita selalu berusaha memenuhi apapun itu, bahkan mencari dan berupaya keras menemukannya.

Itu semua atas nama cinta.

Atas nama cinta pula pernikahan dilangsungkan. Fungsinya tentu saja menegaskan cinta. Pernikahan adalah ikrar suci. Tapi cinta tidak.

Cinta terkadang sangat kotor. Melalui pernikahan cinta disucikan kembali. Diikat. Disahkan kembali. Dilahirkan kembali. Bentuknya bisa jadi sama, tapi juga bisa berubah.

Ketika sepasang manusia menikah atas nama cinta, bukan berarti cinta bertahan dan abadi. Tidak. Justru lewat pernikahan cinta itu semakin diuji.

Sangat sulit menemukan orang yang sudah menikah mengatakan, “Aku berbahagia.” Apakah itu menandakan cinta telah memudar atau bahkan lenyap? Bisa jadi.

Seusai menonton Marriage Story (2019) saya bertanya sendiri, apakah pernikahan adalah momen di mana cinta berakhir dan kebencian bermula?

Pasangan yang baru menikah biasanya tampil dengan senyum bahagia. Seraya berpelukan dan saling mengucapkan kata-kata mesra.

Namun berselang waktu hal-hal semacam itu memudar. Banyak penyebab yang berbeda-beda tentu saja.

Saya curiga, apakah putaran waktu mampu mengikis cinta? Tentu saja tidak selalu. Sebab ada pasangan yang masih saling mencintai hingga usia keduanya berakhir. Sekalipun kita tak ada memastikan sebesar apakah cinta semacam itu. Sebab cinta memang tak punya ukuran. Tak berwujud.

Saya pernah menyimpulkan bahwa cinta yang sebenarnya bernama “pemaafan”. Tapi itu terjadi ketika saya masih mencintai. Lantas saya merenung, bagaimana nanti, bila saya sudah tak mencintai seseorang itu lagi, apakah saya masih dapat memaafkannya?

Pandangan umum menyimpulkan cinta sebagai kasih sayang. Cinta sering dianalogikan dengan hal-hal yang indah, cantik, lembut. Walau ini tak selalu benar.

Ada orang kasar yang bisa merasa cinta. Ada pula orang baik mengungkapkan cintanya secara kasar.

Tak mudah dimengerti memang. Sulit sekali memahami cinta. Begitulah ia.

Catatan Kecil Perihal Cinta

Photo by Fabrizio Verrecchia on Unsplash

–––

When you love someone, you open up your heart

When you love someone, you make rules

— Lukas Graham, Love Someone (2018)

Oh ya, pernah pula saya menyimpulkan cinta sebagai “penerimaan”. Mencintai berarti menerima segala apa pun yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh seseorang yang kita cintai. Tapi saya merasa, terkadang saya tidak dapat menerima sepenuhnya orang yang saya cintai.

Misalnya ia memiliki hobi yang tidak saya sukai. Saya mengatakan padanya saya tak menyukai kegiatan semacam itu. Tapi ia tak menghiraukan. Lantas saya masih saja tidak bisa menerimannya, namun di sisi lain saya mencintainya.

Karena itulah barangkali cinta memerlukan aturan. Bukankah love is a gift?

Memang cinta adalah anugrah. Namun dalam sebuah hubungan percintaan, aturan tak bisa terelakkan. Meski sebenarnya cinta tak mengenal aturan. Cinta yang memiliki aturan dikehendaki dapat bertahan. Tapi tak sedikit yang tak berhasil dengan metode seperti ini.

Tidak suka terkekang ialah salah satu sifat alami manusia. Manusia tidak suka diatur-atur. Dalam pandangan saya seharusnya melalui cintalah aturan-aturan itu dapat ditanggalkan. Akan tetapi memang yang terjadi justru sebaliknya.

Saat mencintai seseorang, maka kita turut pula mengaturnya.

Saya tak mengakhiri tulisan ini dengan kesimpulan. Ini sekadar catatan kontemplatif memandang cinta. Bagi yang pernah mengalaminya, tentu mengerti kompleksitas cinta. Bagi yang belum, bersiap-siaplah menghadapi konsekuensi cinta. 🙂

 

Leave a Reply