Connect with us

Kolom

Dampak TPA Tamangapa Antang Terhadap Lingkungan Masyarakat Sekitar: Paradigma Kalam Modern

Published

on

Spread the love

Oleh: Ismi Ramadhani

(Mahasiswi Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Alauddin)

Tamangapa adalah lokasi pembuangan sampah terbesar di Kota Makassar dan berfungsi sebagai tempat pengelolaan akhir. Serta menawarkan banyak manfaat untuk pengelolaan sampah kota, seperti mengurangi volume sampah di daerah permukiman, memudahkan proses daur ulang, dan memberikan peluang kerja serta peluang ekonomi bagi pemulung. Namun, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah yang dihasilkan juga meningkat, kelebihan kapasitas TPA Antang telah menyebabkan berbagai efek negatif, termasuk bau menyengat dan polusi udara yang mempengaruhi kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat disekitarnya.

Dengan menempatkan manusia sebagai makhluk bermoral yang memiliki tanggungjawab terhadap alam, kalam modern menawarkan perspektif teologi yang dapat memperkuat kesadaran dan tanggung jawab manusia atas kerusakan lingkungan, termasuk penumpukan sampah berlebihan di TPA Tamangapa. Artikel ini bertujuan untuk mengedukasi pembaca mengenai dampak TPA Tamangapa terhadap lingkungan sekitarnya serta kaitannya dengan ilmu kalam (teologi Islam) modern, untuk mendorong kesadaran masyarakat dan pemerintah agar lebih bijak dalam pengelolahan sampah.

Meskipun sampah warga makassar telah dialokasikan ke TPA Antang (Tamangapa), penting bagi kita untuk menyadari bahwa penumpukan sampah tersebut telah menciptakan beban berat bagi masyarakat sekitar yang harus berhadapan langsung dengan krisis ekologi. Masyarakat di Kota Makassar dan sekitarnya, setiap hari menyerahkan plastik sampah ke petugas kebersihan, terdapat rasa legah, karena bagi mereka masalah selesai dan rumah kembali bersih, bahkan aroma tidak sedap hilang dari dapur. Mereka percaya bahwa sampah telah pergi ke tempat yang semestinya yaitu TPA Antang.

Di pinggiran kota Makassar, TPA Antang tidak lagi sekedar tempat pembuangan tapi ia juga sering diibaratkan seperti fenomena gunung es yang puncaknya mungkin terlihat biasa saja dari kejauhan, namun didasarnya menyimpan tumpukan penderitaan masyarakat sekitar yang jarang kita bicarakan.

Dibalik kenyamanan kota Makassar yang bersih, ada warga sekitar TPA yang harus menghirup bau menyengat setiap detik. Hasil wawancara dengan Pak Syamsul mengatakan bahwa TPA berada di kawasan terbuka, dekat dengan saluran air, dan dekat dengan pemukiman serta dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dari emisi gas metana dan rembesan lindi. Hasil wawancara dengan Ibu Intan selaku warga setempat, bagi beliau, keresahan terhadap polusi di Tamangapa adalah luka batin sebagai penduduk asli. Ketika orang bertanya mengapa ia tidak pindah, jawabannya sederhana, beliau sejak kecil sudah tinggal disana sebelum TPA itu dibangun pada tahun 1992. Bukan beliau yang mendatangi sampah, tapi sampahlah yang datang dan mengepung ruang masa kecilnya hingga sekarang.

Sampah di TPA Antang bukan lagi sekadar tumpukan, melainkan gunung raksasa setinggi 50 meter yang setiap harinya dipaksa menelan tambahan 1.000 hingga 1.300 ton kiriman sampah baru. Keresahan warga bukan tanpa alasan; mereka hidup di bawah bayang-bayang bom waktu ekologis di mana lahan seluas 20,20 hektar ini sudah lama dinyatakan overload, namun tetap dipaksa bekerja demi kenyamanan warga kota lainnya.

Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab dalam menjaga lingkungan. Tumpukan sampah di TPA seharusnya kita sebagai umat muslim terlebih lagi pemerintah, memastikan bahwa sampah dikelola menjadi kompos atau bahan daur ulang, serta mencegah pencemaran tanah, air, dan udara.

Dengan menunaikan amanah ini, setidaknya masyarakat sekitar TPA Antang tidak terlalu berisiko terkena dampak negatif. Sebagaimana kalam Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah/2: 205 “Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam- tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan”.

Dapat disimpulan bahwa TPA Antang memang memiliki peran penting dalam pengelolahan sampah kota, namun juga menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya, seperti pencemaran udara akibat bau tidak sedap, dan risiko pencemaran air, serta rusaknya ekosistem di sekitar TPA. Akibatnya dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup dan memperparah krisis lingkungan yang terjadi, seperti kerusakan alam dan ancaman terhadap kesehatan manusia. Sebagaimana permasalahan lingkungan hidup berakar pada peran manusia sebagai wakil atau khalifah Allah SWT di bumi, Allah telah memberikan manusia amanah untuk mengurus bumi. Dan perlu kita ketahui bahwa krisis lingkungan berakar pada krisis etika. Sama halnya dengan penumpukan sampah TPA yang overload dapat mengancam kesehatan manusia. “Ketika manusia lalai dalam menjaga alam, alam akan memberikan peringatan dengan caranya sendiri.”

Sebagai penulis sekaligus warga yang tinggal di sekitar TPA Tamangapa, dampak keberadaan TPA ini bukan sekedar cerita, melainkan kondisi nyata yang saya rasakan sendiri sebagai warga. Oleh karena itu ayo kita bersama-sama menjaga bumi kita, karena setiap sampah yang kita kelola dengan bijak adalah langkah kecil menuju lingkungan yang lebih lestari. “Bumi menangis bukan karena bencana, tetapi karena kelalaian manusia.”