Peristiwa
Tudang Sipulung Instanusantara Makassar Menyalakan Kembali Kreativitas Visual
Makassar, 25 Juli 2025 — Di tengah senja yang mulai jatuh di Anjungan Pantai Losari, suara tawa dan klik kamera terdengar menyatu. Komunitas fotografi Instanusantara Makassar kembali menunjukkan denyutnya lewat sebuah pertemuan hangat bertajuk “Tudang Sipulung”, yang secara harfiah berarti “duduk bersama” dalam budaya Bugis-Makassar. Namun lebih dari sekadar duduk, ini adalah upaya kolektif untuk menghidupkan kembali semangat berkarya melalui fotografi.
Dengan moto “Satu Meja, Satu Semangat”, kegiatan yang digelar di Makassar Creative Hub ini tidak hanya menjadi ruang berbagi teknik dan teori, tapi juga menjadi titik temu lintas generasi fotografer — dari yang baru memulai, hingga yang sempat lama vakum. Sebanyak 20 peserta hadir dalam suasana informal namun produktif, penuh diskusi, kopi, dan kamera.
Shandy Hadi Saputra, salah satu pengurus sekaligus OPPO Ambassador, membuka acara dengan refleksi jujur: “Kita sedang menghadapi masa surut dalam industri visual kreatif. Tapi lewat momen seperti ini, kita bisa kembali menyalakan rasa dan gairah.” Ia menekankan pentingnya komunitas sebagai ruang tumbuh bersama, bukan sekadar ajang pamer karya.
Puncak acara menghadirkan Fandi dari komunitas Makassar Strobist, yang membawakan sesi Basic Lighting Class. Dengan pendekatan santai namun penuh substansi, Fandi menjelaskan pentingnya memahami karakter cahaya dan prinsip dasar segitiga eksposur. Sesi ini bukan hanya tentang angka dan pengaturan kamera, tapi tentang melihat — tentang memahami bagaimana cahaya berbicara pada subjek.
Usai sesi teori, suasana langsung berubah dinamis saat peserta dibagi ke dalam sesi praktik lapangan. Dalam sesi hunbar (hunting bareng), para peserta memotret model sambil bereksperimen dengan ambient light, arah bayangan, dan komposisi visual — semuanya sambil tetap saling berdiskusi dan belajar dari satu sama lain.
Dukungan dari berbagai pihak, seperti Makassar Creative Hub, Mie Sedaap, TOP Coffee, dan Aquviva, membuat acara ini terasa lebih dari sekadar workshop. Ia menjadi ruang yang hidup — ruang yang mengingatkan bahwa di balik setiap jepretan, ada semangat kolektif yang ingin terus menyala.
Menjelang malam, acara ditutup dengan sesi foto bersama dan secangkir harapan: semoga ruang seperti ini terus hadir, memberi napas bagi semangat fotografi dan persaudaraan di kota ini. Bagi banyak peserta, Tudang Sipulung bukan hanya soal belajar teknik. Ia adalah tentang kembali terhubung — dengan cahaya, dengan kamera, dan yang terpenting, dengan sesama. [bisot]


