Selang-seling yang saling berebut tempat

SUDAH BACA The Good Earth? Novel apik yang bicara penderitaan sekaligus kesenangan manusia yang diselubungi takdir ini berhasil mengantar Pearl S. Buck kepada Pulitzer dan Nobel.

Dalam novel ini kemiskinan bukanlah perkara ketiadaan uang, melainkan sumber daya makanan. Musim panas membakar perut! Benih-benih tanaman gagal tumbuh, tanah mengerontang, dan kelaparan merajalela. Anak-anak dan orang-orang tua bermatian. Bagi yang hidup menderita bukan main. Anak-anak kurus yang disayangi terpaksa dijual seharga segenggam kacang.

Tapi terjangan ombak pasti berlalu. Kesenangan hadir kepada yang selamat dari penderitaan. Wang Lung––tokoh utama novel ini––berjuang agar dirinya dan keluarganya tetap hidup.

Kegetiran terkadang menempa seseorang menjadi manusia sejati. Ketika kesenangan telah hadir kegetiran masa lalu sulit dilupakan dan menjadi pelajaran. Namun sayangnya kawan, siklus selalu berulang. Penderitaan dan kesenangan ialah selang-seling yang berebut mengambil tempat.

Mari kita bawa kisah ini kepada konteks hari ini. Adakah manusia yang tak pernah menderita? Barangkali ada, yaitu manusia yang hanya hidup beberapa detik saja. Tapi ketika lahir, bukankah setiap bayi akan menangis? Bukan, ia bukan sekadar sedih. Melainkan, setelah berdiang dalam perut ibunya ia merasa damai, ia merasa perih sekali harus dilahirkan ke dunia yang penuh kedurjanaan ini.

Penderitaan mulai mencoba berkunjung. Bayi tersebut menderita sakit, demam misalnya atau ada pula bayi yang ketika lahir langsung menderita. Tidak punya salah satu organ misalnya.

Ya, penderitaan tiap orang sudah tentu berbeda-beda. Tapi sifat penderitaan itu sama: menyakitkan.

Pernahkah Anda terpikir, mengapa penderitaan itu harus ada dalam sejarah hidup manusia? Ah pikiran seperti ini seharusnya tak perlu dihadirkan, bukan? Toh takdir lewat restu Tuhan yang mengendalikan semuanya. Semuanya? Ah tak juga. Hampir semuanya barangkali.

Sebab ada momen-momen di mana Tuhan menyerahkan keputusan buat kita. Misalnya saat kita memutuskan untuk pergi ke masjid atau pergi ke sebuah pub. Di saat itulah kita diuji akan pergi ke mana, tempat mana yang akan kita datangi. Saat itu pula setan dan malaikat saling selang-seling berebut mengambil tempat.

Lalu mari kita bicara kesenangan. Siapa yang tak suka kesenangan? Ah ini pertanyaan yang tak perlu ditanyakan. Yang perlu ialah mengajak seseorang untuk kesenangan.

“Ke Philadelphia yuk. Aku yang bayarin semua!” Wah ini adalah kalimat yang sangat menyenangkan sekali. Orang yang sungguh baik. Tapi akankah semua itu terjadi begitu saja, seperti datangnya hujan di musim hujan? Tentu tidak.

Selang-seling antara penderitaan dan kesenangan itulah yang kita sebut sebagai ke-hidup-an. Itulah yang kita jalani selama ini. Itulah yang kita rasakan, kita nikmati, kita jalani.

 

Tidak akan lahir manusia untuk menjalani semua siklus itu. Di antara selang-seling itulah kita ditempa agar melihat apakah kita berdaya atau menyerah. Berdaya di saat penderitaan datang adalah sesuatu yang tak mudah dilakukan.

 

Ketika Anda harus kehilangan kedua kaki dan tangan secara serentak, apakah Anda akan bertahan atau justru bunuh diri?

 

Saya tak menginspirasi Anda untuk bunuh dari, tapi harus diakui untuk beberapa orang bahwa kadang kematian memang jalan terbaik.

 

Kehidupan tak melulu harus dijalani di dunia, kan? Di alam kematian tetap ada kehidupan. Bedanya tak ada selang-seling yang saling berebut tempat seperti di dunia saat ini.

 

Jika Anda penuh dosa maka di neraka, jika penuh pahala maka di surga. Sederhana sekali.

 

Kompleksitas hanya terjadi di dunia. Dunia adalah tempat kita untuk memilih: ingin berada di mana nantinya sesudah kematian datang.

 

Hidup ini singkat sekali sebenarnya. Seperti sebaris lirik Dream Theater, “Life is to short, the here and the now. And you’re only given one shot.”

 

Ya kesempatan kita cuma sekali, ya di kehidupan ini. Penderitaan dan kesenangan yang berebut mengunjungi kita harus diterima dengan baik selayaknya tamu. Dan tamu yang diperlakukan dengan baik, dengan senang hati akan berkunjung kembali.(*)

 

Baca Hidup memang cuma begini-begini saja

Leave a Reply