Sastra
[Cerpen] Ainun Jariah; Kekuatan Jiwa
Naik pete-pete adalah rutinitas baru yang harus aku jalani semenjak memasuki semester lima, tempat kuliahku yang awalnya di kampus dua Samata dipindahkan ke kampus satu Alauddin. Ini disebabkan karena ruangan yang terbatas di kampus dua.
Sementara itu tempat tinggal dan tempat untuk praktikum tetap berada di kampus dua. Hal ini menuntutku mau tidak mau harus bolak-balik naik pete-pete setiap hari.
Baca juga : Rahasia Hamidah
Aku yang tidak terbiasa naik angkot sering kali merasa pusing dan merasa sesak karena duduk berdesakan. Hal inilah yang membuatku sering sakit belakangan ini.
***
Satu bulan telah berlalu. Hampir setiap hari aku melihat nenek tua yang berjalan dengan tongkat dan karung yang ia bopong di belakangnya. Aku tidak habis pikir dari mana ia mendapatkan tenaga untuk bekerja begitu keras di usianya yang telah renta dan dengan tubuhnya yang telah membungkuk.
Sore ini setelah pulang dari kampus, aku sengaja turun di tempat biasa aku melihat nenek itu berjalan dengan tongkatnya. Tidak lama aku menunggu, nenek yang aku maksud sudah ada di dekatku dengan karung yang telah terisi botol dan sampah gelas plastik bekas. Aku menyapanya dan meminta agar aku saja yang membawakan karung itu.
“Nek, bisa aku bantu? Biar aku saja yang membawakan karung nenek?” pintaku.
Nenek itu menoleh ke arahku. Mungkin dia kaget melihatku.
“Ah tidak usah, Nak. Nenek masih bisa. Lagian rumah nenek sudah dekat. Itu di depan sana.” Nenek itu menunjuk sebuah rumah kecil tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Kalau begitu aku bisa ikut ke rumah nenek?”
“Tentu saja,” jawab nenek itu sambil menyodorkan senyum.
Sesampai di rumahnya, nenek mempersilakan aku masuk. Dengan senang hati aku melangkahkan kakiku memasuki rumahnya. Rumah yang sangat sederhana, di dalamnya hanya ada tikar, bantal, alat salat dan beberapa peralatan masak. Bagiku ini sangat kurang. Tidak ada kasur empuk, TV, kipas, dan perlengkapan lainnya yang menurutku sangat penting. Nenek itu duduk di sampingku setelah menaruh karung yang dia bawa.
“Apa yang membawamu ke sini, Nak?” tanya nenek itu.
*Untuk membaca kelanjutan cerpen ini silakan memesan bukunya pada admin.


Pingback: MIWF di UIN Alauddin Makassar
Pingback: Kisah Kita Terbatas
Pingback: Passampo Siri'