Sastra
[Cerpen] Ainun Jariah; Kekuatan Jiwa
Aku melempar pandanganku keluar mobil. Banyak kendaraan yang berdempetan. Ternyata macet. Mendengar keluhan mahasiswa tadi ikut menambah kekhawatiranku, sebab aku masuk pukul 09.00. Sedangkan dosen yang akan mengajar hari ini tidak segan-segan memberi alpa bagi mahasiswa yang datang terlambat. Sementara jarak antara kampus dan posisiku sekarang masih lumayan jauh.
Aku baru tiba di kampus pukul sembilan lewat dua puluh menit. Berarti aku sudah terlambat dua puluh menit. Dengan cepat aku lari menuju kelas yang terletak lumayan jauh dari parkiran. Apa yang aku takutkan di mobil tadi, terjadi juga. Dosen sudah mengabsen lima menit sebelum aku datang. Ini adalah kali ketiga aku datang terlambat karena macet. Kalau begini siapa yang akan disalahkan, dosen atau sopir pete-pete?
***
Aku menghela napas dalam-dalam. Air mataku mulai merembes membasahi pipiku. Rasanya ingin menyerah saja. Jika terus-terus seperti ini, aku bisa gila dan nilaiku bisa eror. Hampir setiap hari bolak-balik 20 kilometer kampus satu ke kampus dua sudah membuatku frustrasi, ditambah lagi jika macet di jalan Hertasning yang membuatku terlambat seperti ini.
Sebelumnya, tidak pernah terbayangkan jika aku akan berlangganan dengan pete-pete.


Pingback: MIWF di UIN Alauddin Makassar
Pingback: Kisah Kita Terbatas
Pingback: Passampo Siri'