MIWF di UIN Alauddin Makassar

WARNASULSEL.com Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2019, hadir kembali dengan nuansa yang berbeda. Di mana yang menjadi tema pada Festival kali ini adalah “People.”

Alasan direktur MIWF memilih tema tersebut ialah dikarenakan Indonesia baru-baru saja melaksanakan agenda politik yang amat besar yakni pemilihan presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun kedepan.

Agenda MIWF yang dimulai dari tanggal 26-29 Juni 2019 ini memiliki berbagai macam susunan acara yang diselenggarakan di berbagai tempat. Salah satunya di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), namun kegiatannya tetap berpusat di Fort Rotterdam.

Makassar International Writers Festival

Makassar International Writers Festival

Pada hari pertama, Rabu (26/06/2019) acara berupa Talk Show diadakan di UINAM tepatnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Acara di UINAM pada hari pertama ini dihadiri oleh sutradara muda Indonesia, Yandy Laurens. Yandy membawakan materi yang sangat baik tentang Prinsip Dasar Penulisan Naskah. Katanya dalam penulisan naskah ada empat tahap: 1). Teori Dasar, 2). Sumber ide, 3). Penerapan, dan .4). Desain dan Bereaksi.

Baca juga : Kekuatan Jiwa

Selanjutnya pada hari kedua, Kamis (27/06/2019) MIWF kembali mengadakan acara di UINAM dan bekerjasama dengan jurusan Bahasa dan Sastra Ingrish (BSI) dalam hal ini acara seminar internasional dengan tema “Minority/Majority managing the Harmony.”

Menghadirkan lima pembicara dari berbagai kota. Pembicara tersebut adalah Joko Pinurbo dari Jawa Barat, Mario F. Lawi dari NTT, William Letford dari luar negeri dan Maria Pankrati dari Flores serta Askar Nur dari Bone yang masih berstatus mahasiswa di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Masing-masing dari mereka membahas tentang minoritas dan mayoritas.

Pendapat dari kelima pemateri ini sepertinya menghasilkan kesimpulan yang sama, bahwa minoritas dan mayoritas itu tidak ada dalam sastra dan literasi.

MIWF di UINAM

MIWF di UINAM

Joko Pinurbo berpendapat bahwa, “Sejatinya dalam sastra kata minoritas dan mayoritas tidak ada dalam sastra karena sastra dan literasi sebagai media perekat dan sebagai media yang memanusiakan.”

Baca juga : Budaya kita cuma paham menutupi tubuh, tetapi hobi menelanjangi privasi orang lain

Selain itu, mnurut pemateri kedua, Mario F. Lawi, “Minoritas dan mayoritas bukanlah tentang jumlah tapi siapa yang berkuasa, seperti pada pemilihan pemimpin, yang memilih banyak dari masyarakat awam namun yang membuat kebijakan adalah penguasa. Dan seperti pada acara ini juga, kami pembicara hanya empat orang (minoritas) dan pendengar lebih banyak (mayoritas) namun yang menjadikan mayoritas (pendengar) ada adalah karena adanya minoritas (pembicara).”

Acara diakhiri dengan diskusi bersama antara peserta dan pemateri.(*)

Laporan Jurnalis Mahasiswa : Ika Isra Ayu

Leave a Reply