Buku perdana alumni FH UNHAS 2019, M Aris Munandar dibedah di Makassar

WARNASULSEL.com – Buku adalah karya abadi bagi insan yang menulisnya. Nalar yang terkungkung mampu diterjang melalui buku, sebab inti dari menulis buku adalah kecintaan terhadap panorama ilmu pengetahuan.

Hal itulah yang jadi poin sentral yang dibahas pada kegiatan Bedah Buku berjudul “Menilik Konsepsi Hukum, HAM, dan Keadilan (Suatu Refleksi Teoretis)” karya M Aris Munandar.

Kegiatan itu digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (BEM FH UNHAS), Kamis, (11/4) di Kampus Kedua Cafe, Jl. Perintis Kemerdekaan 14, Makassar.

Buku perdana M. Aris Munandar yang dibedah oleh Muslim Haq dan dipandu langsung oleh Muhzir Suyufullah dari BEM FH berhasil memeriahkan banyak penonton. Bedah buku ini juga dirangkaikan dengan bazar inaugurasi angkatan Amandemen 2019 FH UNHAS.

Penulis bersama Bukunya (Foto Kiri)

“Pada kegiatan ini dibahas secara komprehensif terkait filosofi dari buku tersebut, mulai dari konsep-konsep hukum, HAM, hingga keadilan,” kata Nandar, panggilan akrab penulis buku yang juga alumni Fakultas Hukum Unhas 2019 itu.

Menurutnya, kajian yang dibahas dalam bedah bukunya sangat memikat para peserta diskusi.

“Antusiasme peserta juga sangat aktif, mengingat kajian dalam buku itu membahas hal-hal yang merupakan kajian utama dalam duni ilmu hukum dan ilmu sosial pada umumnya,” ujar Nandar yang juga sekretars jenderal KAMMI Komisariat Soshum UNHAS itu.

Muslim Haq selaku pembedah mengungkapkan bahwa buku yang diterbitkan oleh Jariah Publishing, salah satu penerbit lokal di Sulawesi Selatan ini, sangat layak dijadikan referensi bagi para mahasiswa atau akademisi hukum.

“Buku ini sangat layak digunakan dalam tataran dasar-dasar ilmu hukum. Bagi kalangan mahasiswa ini bisa digunakan pada mata kuliah pengantar ilmu hukum,” kata Muslim.

“Isi buku ini juga memuat aspek yang sangat prinsipiel dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga sangat disarankan dijadikan sebagai referensi, mengingat penulis juga adalah fresh graduate sehingga isi bukunya juga masih cukup aktual dan patut dijadikan bahan diskusi,” jelasnya.

Baca juga: Talkshow edukasi SMSG: anak-anak kita krisis pendidikan karakter

Penulis, kelahiran Bulukumba 11 September 1997 itu membahas bukunya secara rinci tapi padat.

“Buku ini memiliki eksposisi untuk menjabarkan aspek-aspek yang bersifat mendasar dalam dunia ilmu hukum. Khususnya dalam kajian terhadap dikotomi HAM dan keadilan yang acap kali diperdebatkan pada kalangan mahasiswa maupun akademisi,” ujar Nandar menilai isi bukunya.

“Selain memuat hal-hal yang prinsipiel, buku ini juga membahas hal yang bersifat futuristik yakni pandangan penulis tentang keberadaan hukum di masa yang akan datang serta pendapat-pendapat yang tentunya menambah khasanah literasi sehingga mampu menambah minat membaca bagi semua kalangan,” terangnya.

Kegiatan yang diakhiri dengan acara bagi-bagi buku kepada peserta teraktif, menjadi satu dokumentasi tersendiri buat penulis dan kepada mahasiswa pada umumnya agar kesadaran berliterasi tetap hadir di kalangan intelektual kampus.

“Harapan kegiatan ini agar dapat memunculkan kesadaran dari elemen-elemen mahasiswa untuk kembali kepada marwahnya sebagai kaum intelektual yakni dengan menciptakan kecintaan terhadap literasi secara komprehensif,” tutup Nandar. (mgp)

Leave a Reply