Connect with us

Peristiwa

Tiga Mahasiswi UNM Bawa Gagasan “MACCA” dan Pulang dengan Medali

Published

on

Spread the love

WARNASULSEL.com – Malang, 19 April 2026 — Di tengah derasnya arus informasi digital, tiga mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM) memilih jalan yang tidak biasa: mengajarkan anak-anak untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga berpikir.

Lewat ajang National Essay Competition (NESCO) 2 yang digelar pada 18–19 April 2026 di Malang, mereka membawa pulang Silver Medal pada subtema pendidikan.

Ketiganya adalah Nur Afni Alfiani, Innayah Azis, dan Nur Halisa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan UNM.

Karya yang mereka usung berjudul “MACCA: Modern Analytics & Critical Content Awareness”. Sebuah konsep yang sederhana, tetapi menyasar persoalan besar: rendahnya kemampuan literasi kritis di kalangan siswa sekolah dasar.

Alih-alih hanya fokus pada kemampuan membaca, MACCA mengajak siswa untuk memahami, menganalisis, dan menyaring informasi sejak dini. Ide ini lahir dari kegelisahan mereka melihat banyaknya informasi digital yang beredar tanpa filter, termasuk yang mudah diakses anak-anak.

“Anak-anak sekarang cepat sekali menerima informasi, tapi belum tentu bisa memilahnya. Di situlah MACCA kami hadir,” ujar Nur Afni Alfiani, ketua tim.

Konsep MACCA dikembangkan melalui tiga pendekatan utama: ruang baca analitis (Analytical Reading Zone), penyaringan konten kritis (Critical Content Filtering), dan platform digital interaktif bernama LIDISERU. Ketiganya dirancang agar literasi tidak lagi terasa kaku, tetapi dekat dengan dunia anak-anak.

Kompetisi NESCO 2 sendiri diikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ajang ini diselenggarakan oleh Pusat Riset Siswa, Mahasiswa, dan Akademisi (PRISMA) bersama sejumlah kampus di Malang, dan mengangkat tema besar tentang peran pemuda dalam mendorong daya saing global.

Di tengah persaingan yang ketat, gagasan dari tim UNM dinilai menonjol karena tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga realistis untuk diterapkan di dunia pendidikan.

Dosen pembimbing, Ainun Najib Alfatih, menyebut capaian ini sebagai langkah awal, bukan akhir.

“Yang penting bukan hanya menang lomba, tapi bagaimana ide ini bisa benar-benar dipakai di sekolah,” ujarnya.

Bagi tim, medali ini bukan sekadar penghargaan. Lebih dari itu, ini adalah dorongan untuk terus mengembangkan gagasan agar bisa menjawab tantangan nyata di dunia pendidikan.

Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga mampu membaca masalah di lapangan—lalu menawarkan solusi yang masuk akal.

Di tengah banyaknya wacana tentang literasi, MACCA hadir sebagai pengingat sederhana: membaca itu penting, tapi memahami jauh lebih penting.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan