Connect with us

GEMA

Ekosistem Gerakan Literasi di Sulsel Tumbuh dan Berkembang Sejak Hasan Sijaya Memimpin Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel

Published

on

Spread the love

Ekosistem gerakan literasi di Sulawesi Selatan makin tumbuh dan berkembang sejak Kadis Hasan Sijaya memimpin Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2018 hingga saat ini. Perubahan itu dapat dilihat baik secara fisik maupun dari kegiatan pembinaan perpustakaan yang dilakukan sampai ke pelosok desa dan lorong-lorong.

Pernyataan itu disampaikan oleh Pegiat Literasi Sulsel Bachtiar Adanan Kusuma, S.Sos, M.M yang juga adalah penerima penghargaan Nugra Jasadharma Pustaloka apresiasi tertinggi bagi Insan Literasi dari Perpusnas RI Tahun 2021, dalam pengantar dialognya pada acara Temu Masyarakat Literasi Sulawesi Selatan Dialog Akhir Tahun 2021 dengan tema Tantangan Literasi Menuju Era Digital 5.0 yang dilaksanakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Duta Literasi Digital Sulsel bekerjasama dengan Kabar Grup Indonesai (KGI) Network, Rabu (22/12).

Dialog yang berlangsung secara hybrid, luring di ruang Layanan Umum Perpustakaan DPK Sulsel dan daring disaksikan secara live melalui channel youtube kabarmakassar.com ini dibuka oleh Kepala DPK Sulsel Moh. Hasan Sijaya, S.H, M.H, yang sebelumnya diawali dengan rangkaian acara penandatanganan Perjanjian Kerjasama (MoU) bidang akses informasi dan layanan perpustakaan antara Kadis DPK Sulsel dengan Rektor Universitas Sawerigading Makassar Prof. Dr. A. Melantik Rompegading, S.H, M.H.

Acara Dialog Akhir Tahun yang dipandu Duta Baca Sulsel 2020 Rezky Amalia Syafiin ini, mengadirkan narasumber antara lain Ketua DPRD Sulsel A. Ina Kartika Sari, S.H, M.Si, Kepala DPK Sulsel Moh. Hasan Sijaya, Tokoh literasi Sulsel Bachtiar Adna Kusuma, Budayawan Sulsel  Yudhistira Sukatanya, Duta Literasi Digital Sulsel Upi Asmaradhana, Ketua IPI Sulsel Dr. Muh. Quraisy Mathar, S.Sos, M.Hum, Pendiri Perpustakaan Denassa Darmawan Denassa, Penulis dan Youtuber Idwar Anwar dan Pendongeng Madia Gadafi.

Para narasumber dalam pengantar dialognya umumnya memberi apresiasi positif terhadap capaian kinerja yang telah dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel di bawah kepemimpinan Hasan Sijaya yang dinilai telah mampu membawa perubahan besar dan luar biasa terhadap performance kelembagaan perpustakaan dan kearsipan di Sulsel, serta mendorong pengembangan dan kemajuan gerakan literasi di Sulsel.

Budayawan Sulsel Yudistira Sukatanya menilai berkat semangat kreatifitas, inovatif, kolaboratif dan transparansi yang merupakan empat pilar budaya yang telah ditularkan Kadis Hasan Sijaya termasuk kepada para budayawan dan seniman di Sulsel DPK Sulsel mampu bergerak ke arah yang lebih baik serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, Ketua IPI Sulsel Quraisy Mathar mengungkapkan, keberhasilan Kadis Hasan Sijaya merubah wajah DPK Sulsel termasuk ruang layanan yang kini menjadi ruang layanan yang nyaman dan modern berkat kolaborasi yang dilakukannya. Menurutnya, saat ini tidak ada lagi kegiatan yang dapat kita lakukan sendiri tampa bekerjasama dan berkolaborasi dengan pihak lain.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Upi Asmaradhana Duta literasi Digital 2021-2023,  Di Era digital ini kolaborasi adalah suatu keniscayaan.

Pada kesempatan itu Upi Asmaradhana juga memperkenalkan Simpul Duta Literasi Digital yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Sulsel, yang nantinya akan berkolaborasi dengan Duta Literasi Digital yang merupakan bagian dari DPK Sulsel dalam mengawal gerakan cakap digital di masyarakat, melalui empat hal yang akan dilaksanakan sampai ke kabupaten kota dan kampus-kampus nantinya, yaitu digital skill, digital culture, digital etiket dan digital mindset.

Terkait dengan pengembangan Gerakan Literasi Digital, Upi Asmaradhana mengakui di Indonesia ini, DPK Sulsel menjadi suatu role model bahkan mendahului program Kominfo, dengan mengangkat dan menetapkan Duta Literasi Digital pada bulan Maret 2021 sementara Kominfo meluncurkan programnya pada bulan Juni.

Pendongeng Madia S. Nura dalam pengantar dialognya juga menilai Hasan Sijaya sebagai seorang pejabat yang memiliki kemampuan story telling yang sangat baik. Menurutnya, kemampuan story telling itu dimiliki seseorang yang selalu membuka sambutannya atau menyampaikan pidatonya dengan kata-kata yang menggunakan pola-pola neurolingusitik. Bahasa itu adalah bahasa yang tidak memamerkan kecerdasannya tetapi menunjukkan kekuatan emosionalya dan hanya penutur yang memiliki itu, termasuk kadis Hasan Sijaya.

Bahkan ditegaskannya, kemampuan bertutur Hasan Sijaya ini juga telah ditularkan kepada pustakawannya. Kemampuan bertutur pustakawannya berhasil menggerakkan masyarakat untuk mengetahui informasi yang ada diperpustakaan. Ia berharap ke depan DPK Sulsel dapat menggandeng para penutur dan melibatkan mereka untuk mengenalkan koleksi yang ada di perpustakaan menceritakan bagian-bagian buku sehingga orang mau datang membacanya.

Lain lagi dengan Darmawan Denassa, Pendiri Perpustakaan dan Rumah Hijau Denassa ini mengapresiasi gerakan mencerdaskan anak bangsa dari desa yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel dengan memberikan bantuan buku, rak buku, komputer, televisi dan sebagainya sebagai upaya untuk meningkatkan dukungan sarana dan prasarana perpustakaan yang ada di desa-desa dan lorong-lorong. Bantuan ini menurutnya sangat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat termasuk yang ada di Perpustakaan Denassa, bukan hanya membantu untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat tetapi juga dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.

Oleh karenanya, penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2021 dari Sulsel ini mengharapkan, di tahun 2022 DPK Sulsel sering mengunjungi para perpustakaan penerima manfaat baik itu perpustakaan desa, perpustakaan lorong, perpustakaan komunitas dan Taman Baca Masyarakat yang jumlahnya sudah lebih dari 260 titik, untuk melihat apa yang telah berubah dari pemberian dukungan tersebut, lalu bagaiman kita berjejaring dan ada pemuliaan bagi mereka supaya lebih bersemangat lagi bergerak mendapat energi baru DPK Sulsel.

Sementara itu, penulis dan youtuber Idwar Anwar dalam pengantar dialognya lebih banyak menyoroti perkembangan kemajuan teknologi yang makin pesat di era 5.0, dan bagaimana peran yang harus dimainkan dalam menyikapi perkembangan tersebut. Untuk itu menurutnya, perlunya terus dilakukan kerjasama dalam menumbuhkan kecerdasan literasi masyarakat utamanya bagi generasi muda. Hal ini sesungguhnya telah dilakukan oleh DPK Sulsel namun perlu terus ditingkatkan lagi di masa-masa yang akan datang.

Menyikapi hal itu, Kadis Hasan Sijaya yang tampil sebagai narasumber terakhir dalam dialog tersebut mengungkapkan bahwa seiring dengan perkembangan zaman.

“Satu pertanyaan, apakah DPK Sulsel mengikuti perkembangan? DPK Sulsel mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya yang disambut aplaus oleh para peserta yang mengikuti kegiatan dialog ini secara luring terbatas di Gedung Layanan Perpustakaan DPK Sulsel.

“Di mindset 259 staf DPK Sulsel terus melakukan inovasi-inovasi baru, update terus dengan perkembangan kemajuan zaman yang ada, dengan dua tugas, tata kelola kearsipan dan memberikan layanan perpustakaan untuk kemajuan gerakan literasi kita, dengan tagline mencerdaskan anak bangsa dari desa,” imbuhnya.

Hasan Sijaya pada kesempatan itu juga menjelaskan apa yang telah dilakukan DPK Sulsel di tahun 2021, Star  sejak Januari. Pertama, secara fisik, terus dilakukan pengembangan di 5 kantor yang dimiliki DPK Sulsel.

“Bagaimana caranya membuat masyarakat ini nyaman, di pikirannya mereka semua ini, perbaiki kantorta, perbaiki gedungta, lengkapi propertinya, lengkapi koleksinya, dan diakhir Desember 2021 ini semuanya sudah dijalankan dengan baik,” paparnya.

Lebih lanjut ditegaskan, di tahun 2021 terkait dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, pengembangan titik penerima manfaat replikasi mandiri terus ditambah, dan jumlahnya jumlahnya hingga akhir tahun ini 264 titik di 24 kabupaten kota. Selain itu, DPK Sulsel juga mereplikasi program unggulan Perpusnas Pojok Baca Digital untuk 10 titik penerima manfaat di 2021, dan program tersebut juga menyentuh ke pesantren- pesantren dan sekolah agama lainnya.

Dan yang terpenting menurutnya,  di tahun 2022 mendatang DPRD akan menghadirkan Perda, yang saat ini masih dalam proses rancangan yang akan membuat DPK lebih luwes lagi di dalam berkegiatan, di dalam berkolaborasi, di dalam memperhatikan apa yang menjadi keinginan para pemustaka dan para masyarakat kita.

“Di ranperda ini, kami sudah sisipkan di situ. Tahun inikan kami sudah bantu berupa barang, mudah-mudahan di tahun depan ada regulasi yang mengikat kita sehingga tidak menjadi temuan ketika kita memberikan insentif kepada para pengelola perpustakaan yang ada. Ini menjadi mimpi saya dan ini menjadi doa dari 259 staf DPK Sulsel,” jelasnya sembari menambahkan, “Supaya apa. Supaya kerja kita terasa. Kita selalu berprinsip DPK ada, DPK Kerja, dan DPK bermanfaat bagi masyarakat.”

Selain itu, DPK Sulsel juga terus melakukan pembinaan dan peningkatan kualitas SDM para pustakawan dan tenaga pengelola perpustakaan melalui berbagai kegiatan bimtek dan pelatihan. * (naz)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *