Vaksin dan imajinasi yang bikin ngeri

Oleh: Muhammad Husein Heikal

 

VAKSIN. Ya, vaksin. Mendengar kata itu membuat saya membayangkan anjing rabies. Anjing yang beringas dan berbahaya karena mengidap virus rabies diberi vaksin agar tenteram. Saya juga pernah membaca di papan pengumuman bandara bahwa hewan yang akan dibawa naik pesawat harus divaksin terlebih dahulu. Tapi kali ini, vaksin bukan lagi untuk hewan. Kini ada vaksin untuk manusia. Saya terpana, sekaligus ngeri.

Tanpa pengaruh selentingan yang beredar belakangan, yakni vaksin yang sudah tiba di Indonesia belum diuji coba, saya sudah duluan merasa takut. Saya ngeri membayangkan bagaimana jarum suntik berisi vaksin diinjeksi ke dalam tubuh saya. Cairan vaksin yang cuma beberapa mili itu menyebar ke seluruh pembuluh darah saya.

Zat dalam tubuh saya merasa aneh. Apakah ini, zat yang berbeda dari biasanya? Apakah organ dan sistem dalam tubuh saya bakal menerima atau justru memberontak? Melakukan perlawanan? Ah, kalau begitu maka terjadilah peperangan dahsyat dalam tubuh saya. Siapakah yang akan kalah? Apakah vaksin yang hanya beberapa mili itu mampu melawan berliter darah dan syaraf saya yang sudah bekerja bertahun-tahun? Bisa jadi. Dan itulah yang saya takutkan.

Saya baca berita. Orang Inggris pertama yang divaksin berumur 90 tahun. Loh, setahu saya yang akan divaksin hanya yang berumur 18-59 tahun, apa berbeda-beda tiap negara?

Sepertinya iya, karena standar hidup orang Indonesia kan rendah, bertahan hingga umur 70 tahun tanpa tergeletak di ranjang, itu sudah ciamik. Begitupun saya jadi curiga sang nenek dari Inggris itu, apakah berdasar keberanian atau justru keputusasaan hingga mau menjadi kelinci uji coba proyek, eh program vaksinasi. Sebab alangkah mulianya hati nenek tersebut. Padahal kita kenali orang Inggris sebagai orang yang sangat berhati-hati sekali, selain pelit. Tak percaya, tengoklah Mr. Bean.

Kabarnya kini vaksin yang sudah tiba di Indonesia, akan diperiksa oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Hasilnya akan keluar pada Januari 2021. Tapi, banyak orang yang menanti fatwa atau persetujuan dari Majelis Ulama Indonesia terlebih dahulu. Mereka ragu vaksin dari China itu halal.

Saya kira, hasil pemeriksaan BPOM-lah nantinya yang akan menentukan fatwa MUI apakah vaksin itu haram atau halal. Sebab MUI sendiri tak punya laboratorium. Jadi MUI sekadar melegitimasi apa yang dinyatakan BPOM nantinya.

Yang membuat saya bingung, beberapa waktu lalu saya baca Ma’ruf Amin berujar bahwa kalaupun vaksinnya tidak halal, ya bisa digunakan karena kondisi kedaruratan. Waduh, ini makin menambah kengerian saya.

Kemarin seharusnya saya berangkat ke Jakarta. Tinggal satu klik lagi untuk memesan tiket pesawat secara online. Namun saya urungkan. Saya cemas harus melakukan rapid test. Padahal saya sehat saja. Yang saya cemaskan bukan rapid test-nya, melainkan hasil rapid test-nya.

Saya bayangkan, seandainya saya divonis reaktif, maka saya akan diisolasi di rumah sakit. Aih! Rumah sakit adalah tempat yang sama-sekali tak menarik dan menakutkan. Saya tak pernah mau di rawat di rumah sakit. Syukurlah hingga kini saya belum pernah mendekam di sana, kecuali saat dilahirkan ke dunia.

Nah, kalau saya reaktif, mau tak mau, atas nama menjaga diri sendiri dan orang-orang lain, maka saya diharuskan bahkan dipaksa isolasi di rumah sakit. Betapa terasingnya saya. Saya pasti akan merasa tertekan sekali.

Itu kalau cuma dirawat saja. Kalau saya langsung dijadikan orang atau golongan pertama yang menerima vaksin, wah makin berabe ceritanya.

Baca juga: Mengapa kita harus pintar?

Imajinasi anjing rabies dan kucing anggora mau naik pesawat yang divaksin berselonjoran dalam kepala saya. Saya benar-benar takut. Saya takut vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh saya justru membuat saya menjadi kejang-kejang, atau bahkan membuat saya rabies.

Saya jadi kehilangan kendali, beringas dan mengancam orang-orang. Bagaimana saya akan melalui hari-hari depan? Apakah saya akan tetap hidup? Atau saya justru diberi obat adiktif penenang atau justru zat mematikan? Toh, apalah arti hidup saya bagi mereka yang tak mengenal dan menyayangi saya.

Ya ampun, sudahlah. Saya ngeri membayangkan semua itu. Saya tak berani di vaksin. Biarkan sajalah saya. Saya tak mengapa. Saya baik-baik saja. Saya sama seperti makhluk-makhluk lainnya yang bakal mati. Tak perlu berupaya keras apalagi sampai memaksa-maksa saya agar divaksin. Gratis saja saya tak mau, apalagi bayar.

Satu yang mau saya anjurkan begini. Silakan para pejabat saja yang duluan divaksin, kan mereka orang-orang penting yang mengurus kepentingan negara, rakyat dan segala tetek-bengeknya. Mereka layak diprioritaskan. Kita sebagai rakyat mawas diri saja, sadar kita cuma rakyat. Apalah kita dibanding mereka yang penting dan agung itu.

Muhammad Husein Heikal - Vaksin

Sebagai rakyat, kita cuma berdoa mudah-mudahan vaksin yang disuntikkan dapat mematikan virus-virus kerakusan dalam tubuh mereka. Mudah-mudahan berhasil.

Baca juga: Hidup memang cuma begini-gini saja

Leave a Reply