Peristiwa
Tim PKM UNM Latih Guru SDN 12 Parepare Kembangkan Kartu Kwartet PAI sebagai Alternatif Pembelajaran Tanpa Layar
WARNASULSEL.com – Parepare — Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar melaksanakan pelatihan pengembangan permainan kartu kwartet berbasis hands-on activity bagi guru UPTD SD Negeri 12 Kota Parepare, Rabu, 17 September 2026.
Kegiatan ini menghadirkan alternatif media pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang interaktif, kolaboratif, dan tidak bergantung pada penggunaan layar.
Pelatihan yang berlangsung pukul 08.00–13.00 WITA tersebut dipimpin oleh Dr. H. Lukman S.,S., M.Ag. sebagai ketua tim. Kegiatan turut melibatkan Iyan, S.Or., S.Pd., M.Pd. dan Sriwidayani Syam, S.Pd., M.Ed. sebagai anggota dosen, serta mahasiswa Arinil Hidayah dan Aisyah Ramadhani.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Tim PKM dan perwakilan sekolah. Dalam pengantarnya, Lukman menjelaskan bahwa pembelajaran PAI di sekolah dasar perlu disajikan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa. Media pembelajaran tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berinteraksi, berdiskusi, bekerja sama, dan menghubungkan nilai-nilai agama dengan kebiasaan sehari-hari.
Pelatihan memuat dua materi inti. Materi pertama membahas media pembelajaran PAI dan cara mengajarkan PAI di sekolah dasar melalui tahapan concrete, pictorial, dan abstract atau CPA.
Pada tahap konkret, siswa memperoleh pengalaman melalui benda, gerakan, praktik, maupun situasi yang dapat diamati. Pengalaman tersebut kemudian diperkuat melalui gambar atau representasi visual sebelum siswa mempelajari istilah dan konsep yang lebih abstrak.
Pendekatan CPA dapat diterapkan pada berbagai materi PAI, seperti tata cara berwudu, praktik salat, adab sehari-hari, nilai kejujuran, sikap tolong-menolong, dan kisah keteladanan. Melalui tahapan tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar menghafal istilah, tetapi memahami hubungan antara pengetahuan agama, praktik, pembiasaan, dan perilaku.
Materi kedua membahas penggunaan board game dan card game dalam pembelajaran, kelebihan permainan kwartet, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial dan Canva Code dalam pengembangan media. Para guru diperkenalkan pada prinsip penyelarasan mekanisme permainan dengan tujuan pembelajaran sehingga permainan tidak hanya menjadi kegiatan hiburan.
Permainan kwartet dipilih karena memiliki struktur yang sederhana dan mudah diterapkan dalam kelompok kecil. Dalam permainan ini, siswa meminta, membaca, mencocokkan, dan mengumpulkan empat kartu yang berada dalam satu kelompok konsep. Proses tersebut dapat mendorong komunikasi, pengulangan informasi, kemampuan mengelompokkan konsep, kerja sama, kejujuran, dan kesabaran.
Tim PKM juga memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan artifisial sebagai alat bantu penyusunan ide, deskripsi singkat, pertanyaan, dan rancangan ilustrasi. Guru tetap memiliki peran utama dalam memeriksa ketepatan materi, penggunaan bahasa, kesesuaian ilustrasi, sumber ajaran agama, dan karakteristik usia siswa. Sementara itu, Canva Code diperkenalkan sebagai salah satu pilihan untuk mengembangkan media menjadi permainan digital setelah versi fisiknya dapat digunakan dengan baik.
Produk awal yang dikembangkan dalam program ini terdiri atas 32 kartu yang dibagi menjadi delapan kelompok. Kelompok tersebut meliputi Nilai Akhlak, Kisah Teladan, Praktik Ibadah, Dasar Agama, Adab Sehari-hari, Kitab-Kitab Allah, Kalimat Tayyibah, dan Hari Besar Islam. Setiap kelompok terdiri atas empat kartu yang saling berhubungan.
Sebagai contoh, kelompok Nilai Akhlak memuat kartu Jujur, Amanah, Sopan Santun, dan Tolong-menolong. Setiap kartu dilengkapi nama kelompok, nama kartu, ilustrasi, deskripsi singkat, dan daftar anggota dalam kelompok kartu tersebut. Struktur ini memungkinkan guru menyesuaikan isi permainan dengan tujuan pembelajaran, tingkat kelas, dan kebutuhan siswa.
Selama kegiatan, para guru mengikuti pemaparan materi, mengamati contoh media, serta mendiskusikan kemungkinan penerapan kartu dalam pembelajaran. Media tersebut dapat digunakan untuk kegiatan pembukaan, penguatan konsep, pengelompokan informasi, diskusi kelompok, maupun refleksi setelah permainan.
Pelaksanaan program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan media pembelajaran PAI yang lebih interaktif dan dapat digunakan berulang. Media fisik seperti kartu kwartet diharapkan menjadi alternatif aktivitas belajar yang mengurangi ketergantungan siswa pada perangkat digital tanpa meniadakan pemanfaatan teknologi dalam proses perancangannya.
Melalui program ini, sekolah memperoleh prototipe permainan kartu kwartet PAI dan panduan awal penggunaannya. Tim PKM selanjutnya mendorong guru untuk mengadaptasi materi, mencoba kartu dalam kelompok kecil, serta mencatat keterbacaan, waktu penggunaan, interaksi siswa, dan kemungkinan miskonsepsi sebagai bahan penyempurnaan.


