Peristiwa
Apakah Filsafat Buddhisme Mengajarkan Sikap Apatis?
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
(Dosen Filsafat UIN Alauddin)
“Kalau Siddhartha meninggalkan anak dan istrinya untuk ke hutan bertapa, bukankah itu berarti ia masa bodoh terhadap orang lain di sekitarnya?” Pertanyaan seorang mahasiswa itu terasa mengusik, dan memang layak diusik. Saya sangat mengapresiasi percikan ide seperti itu, hingga akhirnya tulisan ini lahir. Perkuliahan 3 SKS, diadakan sekali saja dalam sepekan, berlangsung pada jam terakhir ketika energi mahasiswa sebentar lagi akan habis, dan dengan pembahasan Filsafat Timur yang begitu luasnya membuat saya harus mengatur kelas dengan seefisien mungkin. Terasa tidak pernah cukup, tapi bagaimana kita memaksimalkan kesempatan yang tersedia.
Kali ini, perkuliahan menjadi semakin reflektif dan menguji kesabaran mereka, karena di tengah kantuk dan lapar, listrik juga padam. Sehingga penderitaan mereka semakin bertambah dengan cahaya yang remang disertai perasaan gerah dalam ruangan. Tapi di sanalah intisari filsafat Buddhism menjadi lebih hidup. Seakan-akan pembelajaran tentang dukkha menemukan ruangnya untuk dieksekusi secara langsung. Saya suka skenario semesta yang satu ini.
Saya melanjutkan perkara apatis tadi. Kisah awal Buddhisme sering dibaca sebagai kisah seorang pencari kebenaran yang pergi meninggalkan keluarganya. Dari sudut pandang hari ini, tindakan itu dapat tampak seperti pengabaian tanggung jawab. Lalu, apakah Buddhisme mengajarkan kita untuk menjauh dari kehidupan dan menerima segala sesuatu tanpa kritik?
Pertanyaan itu sebaiknya tidak dijawab dengan membela Siddhartha begitu saja. Perlu melihat secara jernih berbagai sisi, termasuk sisi historis dan kulturalnya. Keputusan meninggalkan keluarga memang menimbulkan persoalan etis dan sensitif. Kita bisa memahami kisah tersebut dalam konteks zamannya dan tujuan spiritual yang kemudian dikaitkan dengannya, tetapi pemahaman historis bukan berarti semua orang harus menganggap tindakannya sebagai teladan tanpa cela. Mengakui ketegangan itu justru membuat pembacaan kita menjadi lebih jujur. Tapi yang menarik dari sini dan perlu dipahami juga adalah gagasan besar yang berada di kepala Siddhartha. Dia tidak hanya memikirkan perih hatinya meninggalkan keluarganya, tidak hanya pada kerinduannya, tidak juga sebatas memikirkan anak istrinya. Dia memikirkan seluruh makhluk, sehingga cita-cita pembebasan itu muncul lebih kuat. Saya membayangkan, jika anak dan istrinya tidak hidup dalam keberlimpahan harta dan rasa nyaman di istana, apakah ia akan tetap pergi meninggalkannya? Ataukah memang dia mantap meninggalkan keluarganya karena segitu yakinnya bahwa keluarganya akan baik-baik saja.
Namun, kisah tersebut juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Buddhisme mengajarkan sikap masa bodoh. Dalam ajaran Buddhis, melepaskan kemelekatan bukan berarti berhenti peduli. Yang hendak dilepaskan adalah keterikatan yang membuat kita dikuasai oleh keinginan, ketakutan, atau ego, bukan kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Welas asih dan kebijaksanaan merupakan nilai penting dalam banyak tradisi Buddhis, hingga terdapat meditasi khusus yang disebut meditasi cinta kasih. Dalam tradisi Buddhis Mahayana, misalnya, cita-cita bodhisattwa secara eksplisit mengarahkan praktik spiritual pada kesejahteraan semua makhluk.
Pada sesi perkuliahan ini, saya mengamati dan mencatat banyak poin. Salah satu pertanyaan lagi yang ingin saya bahas, ketika mahasiswa yang berbeda mengajukan tanya tentang, “Apakah Buddhism memang mengajarkan kita untuk menerima saja tanpa nalar kritis?”
Mari kita lihat. Dalam filsafat Buddhism, justru perhatian pada sebab-akibat dapat mendorong sikap kritis. Jika penderitaan memiliki sebab, kita dapat bertanya: kondisi apa yang melahirkannya, siapa yang terdampak, dan bagaimana kondisi itu bisa diubah? Kritik yang lahir dari kejernihan dan kepedulian mungkin tidak selalu berupa kemarahan, tetapi tetap dapat menjadi tindakan nyata. Karena Buddhism mengajarkan magga (jalan tengah) maka sebelum memutuskan untuk berucap atau bertutur, akan ada pertimbangan matang, yang oleh filsafat kita kenal sebagai sikap kebijaksanaan. Buddhism tidak mendoktrin kita untuk pasrah saja dan menerima. Tapi melatih kita untuk hidup penuh kesadaran dan kebijaksanaan. Artinya, ada cara-cara bijak untuk menyampaikan kritik, dan ada waktu yang tepat untuk bereaksi terhadap sesuatu. Tidak serta-merta menuruti tuntutan emosional semata. Maka, bukan sekadar menerima, namun melihat lebih jernih.
Tidak melekat pada kemarahan bukan berarti tidak menentang penindasan, tidak melekat pada hasil bukan berarti tidak berusaha memperbaiki keadaan. Tentu, ajaran tentang ketenangan dan penerimaan juga bisa disalahgunakan. Orang dapat memakainya untuk menyuruh korban “bersabar”, membungkam kritik, atau menghindari tanggung jawab sosial. Karena itu, penting membedakan praktik batin yang membebaskan dari tafsir yang membuat orang pasif. Sebuah ajaran layak dinilai bukan hanya dari istilah-istilahnya, tetapi juga dari cara ajaran itu dipraktikkan dan dampaknya terhadap orang lain.
Emosi dapat memberi informasi, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya penentu tindakan. Rasa marah mungkin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah itu, kita dapat bertanya: apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang dirugikan? Apa yang perlu diubah? Bagaimana cara bertindak yang paling mungkin mengurangi penderitaan? Dengan demikian, kesadaran tidak menuntut kita menghapus emosi. Kesadaran mengajak kita mengenal emosi tanpa harus langsung diperintah olehnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembedaan ini dapat terlihat dalam cara kita menghadapi konflik. Misalnya, ketika menyaksikan seseorang diperlakukan tidak adil, kita mungkin merasa marah. Respons yang bijaksana bukan berarti menyuruh diri sendiri untuk tidak merasa apa-apa. Kita dapat menggunakan kemarahan itu sebagai dorongan untuk mencari tahu, mendampingi orang yang terdampak, menyampaikan keberatan, atau mencari bantuan dari pihak yang berwenang. Pada saat yang sama, kita perlu mempertimbangkan risiko, kebutuhan orang yang dibantu, dan kemungkinan akibat dari tindakan kita. Tidak semua tindakan yang tampak berani otomatis membantu. Tetapi kehati-hatian pun tidak boleh dijadikan alasan untuk terus menunda sampai akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Dalam konteks sosial, praktik kesadaran juga dapat membantu kita melihat bagaimana kita sendiri terlibat dalam kondisi yang dikritik. Kita mungkin menolak ketidakadilan secara lisan, tetapi tanpa sadar menikmati keuntungan dari sistem yang sama. Kita mungkin mengkritik sikap apatis orang lain, tetapi mengabaikan penderitaan yang tidak terlihat oleh kita. Kesadaran diri bukan pengganti tindakan sosial. Ia dapat menjadi bagian dari tindakan itu, karena perubahan yang bertanggung jawab membutuhkan keberanian untuk melihat keterlibatan diri sendiri.
Maka, apakah filsafat Buddhisme apatis? Tidak harus. Ia bisa menjadi apatis jika pelepasan dimaknai sebagai penarikan diri dari tanggung jawab. Tetapi ia juga dapat menjadi dasar bagi kepedulian yang tidak semata-mata digerakkan oleh ego dan kebencian. Tantangannya adalah menjaga agar ketenangan tidak berubah menjadi ketidakpedulian, dan penerimaan tidak berubah menjadi pembenaran atas ketidakadilan.
Dalam perkuliahan, saya ingin mahasiswa merasa bahwa mereka boleh bertanya tanpa harus terlebih dahulu memiliki jawaban yang sempurna. Mengajukan pertanyaan kritis bukan berarti memusuhi suatu tradisi. Kadang-kadang, pertanyaan kritis justru menunjukkan bahwa kita menganggap gagasan itu cukup penting untuk diperiksa secara serius. Jika suatu ajaran hanya dapat bertahan dengan melarang pertanyaan, mungkin yang sedang kita lindungi bukan kebijaksanaan, melainkan rasa takut terhadap perbedaan pendapat.
Mungkin karena itu, pertanyaan mahasiswa tentang Siddhartha terasa berharga. Ia tidak berhenti pada kekaguman terhadap tokoh besar. Ia membawa kisah itu kembali ke ukuran yang dekat dengan hidup kita: hubungan, keluarga, tanggung jawab, dan orang-orang yang mungkin menanggung akibat dari pilihan kita. Pertanyaan itu mengajak kita untuk tidak hanya bertanya, “Apa tujuan Siddhartha?” tetapi juga, “Apa dampak keputusannya bagi orang-orang yang ia tinggalkan?” Dua pertanyaan itu dapat hadir bersamaan.
Begitu pula pertanyaan tentang penerimaan. Ia mendorong kita untuk bertanya apakah ketenangan selalu baik, apakah kritik selalu buruk, dan apakah tindakan yang lahir dari kemarahan selalu keliru. Jawaban yang bertanggung jawab tidak cukup berupa slogan. “Terimalah semuanya” terlalu mudah. “Lawanlah semuanya” juga terlalu mudah. Kita perlu memahami keadaan, sebab, posisi kita, serta akibat tindakan yang mungkin diambil.
Pertanyaan mahasiswa itu, pada akhirnya, bukan gangguan bagi pembahasan Buddhisme. Ia adalah pengingat bahwa pencarian kebebasan batin perlu diuji bersama tanggung jawab terhadap sesama. Terakhir, selayaknya ucapan terima kasih untuk mereka yang telah memancing saya untuk menulis tentang ini. Sebuah ide umumnya begitu mudah untuk lahir; dari percakapan di warung kopi, dari pertanyaan dan pernyataan di ruang-ruang kelas, dari sikap manusia yang diamati sepanjang jalan, dan dari siapapun itu. Membincang tentang filsafat, berarti membincang tentang bagaimana cara kita menjalani hidup.

