Sastra
[Puisi] Wirajuddin; Indonesia di waktu siang
Indonesia di waktu siang
Waktu Siang itu, pukul empat belas tepat
Seorang anak SMK pulang dari sekolah
Katanya, ia datang hanya makan dan lanjut ke sekolah utk latihan pramuka persiapan acara 17 agustusan
Raut wajah yang memerah karena panas cuaca memerahkan inginnya untuk ikut berpartisipasi dalam 17 agustus
Ia mungkin tak sadar kalau merah darah semangat mengalir padanya
Ia berpikir, betapa semangatnya itu tak tahu hendak kemana
Sebab ia berpikir…
“katanya Indonesia adalah rumah, sedang dia melihat rumah di kota-kota dihancurkan, katanya Indonesia punya banyak budaya, masihkah ia berbudaya? katanya Indonesia kaya alam dan hutan, saking kayanya, ia dililit hutang.”
Cahaya menggelapkan hidup
Adalah kau cahaya yang menerangi mereka,
namun cahayamu tidak sampai kepada kami,
kami tetap gelap.
Kau bertanya, “mengapa bisa begitu?”,
sebab kau hanyalah cahaya yang menerangi kelompokmu saja,
seperti cahaya lampu yang menerangi satu kamar saja.
Kapasitasmu sangat kecil,
ruang tamu mestinya kau terangi,
karena ruang itu akan dikunjungi.
Kami muak dengan kapasitas cahayamu,
kami ingin cahaya yg besar, yang menerangi semua, seperti cahaya matahari yang menerangi bumi dan menyuburkannya, agar kami bahagia dan tak tertindas.

