[Puisi] Dini Ibrahim; Mimpi yang Indah

Mimpi yang indah

Begitu jelas
Kau berlari ke arahku dengan pasti.
Merentangkan tangan kecilmu dengan rambut ikalmu yang berayun ditiup angin.
Tebal, sedikit pirang dan berombak.
Kau sudah sangat pandai berlari.

Ternyata masih sangat terasa.
Walau sangat indah, namun begitu perih ketika terbangun.
Mengapa baru hari ini kau datang? Atau mungkin menurutmu baru sekarang waktu yang tepat untuk kembali bertemu?
Apa kau rindu? Kau fikir dengan segala kesibukanku membuatku lupa?
Tentu saja tidak.
Berkali kukatakan kau akan selalu menjadi yang pertama.
Kau, pangkal dari segala rindu yang kumiliki.
Cinta yang tak pernah menyakiti.
Peredam segala amarah, benci dan dendam yang saat itu melingkupi
Guru sekaligus sahabat yang selalu menemani.
Amat sangat singkat namun sangat memberi arti.

Seluruh rindu yang ibu miliki saat ini hanya untukmu.
Terima kasih masih sudi hadir, di saat kau telah memiliki tempat yang jauh lebih baik dari kami di sini.

Pangkep, 12 Mei 2020

Jangan

Jangan berjalan mendekat jika niat hanya untuk sekedar singgah lalu pergi menghilang.
Jangan tersenyum hangat jika kelak hanya air mata yang kau berikan.
Jangan menceritakan kisah jika hanya simpati yang kau tawarkan.
Karena..
Di sini sangat rentan untuk merasa namun terlalu lemah untuk melupakan.

ya, ini hati

Tak sabar menanti pagi.
Setidaknya ada sedikit keramaian datang bersamanya.
Terlalu sunyi begini.
Sehingga sangat terasa.

Bukan.
Bukan fisik yang harus disibukkan.
Namun fikir.

Terlalu banyak pecahan.
Tidak di sana maupun sini.

Ya..
Ini hati.
Trus mau bagaimana lagi?

Dini Ibrahim, lahir di Pangkep, 16 Desember 1991. Ibu Rumah Tangga yang punya hobi membaca, menulis, dan musik. Kunjungi IGnya @dini_ibrahim.

Baca

Leave a Reply