Pak Wib dan sepotong cerita tentang polisi

Ilustrasi cerpen Kakanda Redi

MENYANDAR di kursi ini rasanya enak sekali. Sebuah salon kecil. Sederhana. Namun punya banyak pelanggan yang setia. Tentu saja salah satunya adalah aku.

Salon ini tak pernah sepi, meski juga tak pernah selalu ramai penuh sesak. Setiap hari selalu ada saja yang datang. Untuk potong rambut pastinya. Sebab hanya itu yang ditawarkan di salon kecil ini. Kalau aku?

Aku lebih suka menikmati adegan sebelum potong rambut. Duduk dulu di kursi ini seraya menyandarkan tubuh. Rasanya nikmat sekali. Apalagi sebelum rambutku dipotong, kepalaku akan dipijit-pijit terlebih dahulu. Aku yang selalu minta begitu. Kepada pelanggan lain, tak pernah terjadi yang seperti ini.

Pak Wibisono. Aku cukup memanggilnya Pak Wib. Tukang cukur langgananku sejak kurang lebih delapan tahun terakhir. Orangnya pendiam tapi ramah. Jarang mau memulai bercerita lebih dulu tapi selalu asyik jika diajak berbincang. Apa saja. Tentang banyak hal.

Kerjanya cepat. Cekatan. Hasilnya pasti rapi. Tak pernah kudengar sekalipun pelanggannya komplain soal salah potong atau apalah. Pasti puas.

Kepalaku mulai dipijit. Aku selalu senang. Selalu menikmati. Potong rambut yang sepaket dengan pijit kepala sebentar dan dengan harga yang biasa selalu membuatku merasa nyaman. Bukan aku tak mau memberi harga lebih. Pak Wib yang selalu menolak.

“Tak mengapa. Toh tidak semua pelanggan minta dipijit dahulu. Nanti, kalau pijit kepala ini sudah jadi bagian dari potong rambut, baru saya naikan harganya,” kata Pak Wib sembari tersenyum, dulu, mungkin sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu.

Bibirnya senantiasa tersenyum saat berbincang, dengan siapa pun.
Aku memejamkan mata. Kunikmati setiap pijitan tangannya di kepalaku. Sungguh, rasanya enak betul. Capekku hilang. Pusingku juga. Apalagi sebelum ke sini tadi, aku ditilang polisi. Polisi itu, ah… sialan betul.

“Tadi saya ditilang polisi, Pak Wib. Padahal saya sudah bilang kalau surat-surat saya lengkap. Tapi masih ditilang juga. Ah…” aduku pada Pak Wib. Tidak tidak, bukan mengadu. Aku hanya ingin bercerita. Kata orang, dengan bercerita, masalah kita bisa sedikit berkurang bebannya. Dan, bebanku masih sama seperti saat aku belum mengatakan apa-apa tadi.

“Saya tidak membawa STNK tadi,” imbuhku sesaat kemudian. Pak Wib tersenyum. Aku melihat senyumnya dari kaca besar di depanku.

“Tentu saja ditilang, Pak. Pak Josi ini kok ya ada-ada saja.” Tangannya masih cekatan. Kepalaku masih merasa nyaman. Pijitannya masih berlanjut.

“Tapi, tapi, caranya itu loh, Pak Wib. Kok ya tidak sopan begitu. Mereka itu penegak hukum. Tapi kok rasanya seperti tidak berpendidikan. Seenaknya saja. Cuma cari duit razia saja.”

Aku ceritakan kisahku saat ditilang juga, kapan hari itu. Waktu itu surat-suratku memang lengkap dan kubawa semua. Saat itu, polisi-polisi sialan itu manis sekali memintaku menunjukkan kelengkapan berkendaraku. Begitu lengkap, surat-suratku dikembalikan seenaknya. Nyaris dilempar. SIM-ku jatuh. Aku marah-marah. Kenapa saat kita lengkap kok perlakuannya kasar begitu? Lantaran aku marah-marah, justru aku ditilang beneran. Terang saja aku semakin emosi ketika itu.

Polisi yang razia itu cuma mau ambil uangnya saja. Uang panas itu. Saya rasa mereka juga tidak semuanya punya surat tugas untuk menggelar razia. Liar. Begitu itu kalau masuknya saja sudah salah. Pakai sogok. Lewat belakang. Begitu sudah pakai seragam, maunya balik modal dulu secepat mungkin. Bener kan, Pak Wib?”

Dari kaca, kulihat Pak Wib tersenyum lagi. Kali ini rambutku sudah dipotong.

“Ya tidak semua begitu lah, Pak Josi. Itu kan kebetulan saja.”

“Setiap razia pasti begitu, Pak Wib. Pak Wib saja yang jarang menemui.”
Giliran Pak Wib yang bercerita. Dulu, dia punya tetangga seorang polisi. Polisi tetangga Pak Wib itu orangnya lurus. Jujur. Pantang terima suap meski peluang untuk itu besar sekali. Polisi tetangga Pak Wib itu bagian razia juga.

Aku membalas. Tetap saja aku maki-maki semua polisi itu. Yang lurus itu paling cuma satu di antara seribu. Sambil aku bilang kalau aku punya anak laki-laki, aku haramkan masuk polisi.

Pak Wid senyum lagi. Tugasnya hampir selesai.

“Tarman mana, Pak Wib? Kok tidak kelihatan?” Tarman itu anaknya Pak Wib. Sepulang sekolah, biasanya dia membantu Pak Wib. Dia bertugas menyapu lantai yang penuh dengan rambut di ruangan ini.

“Sedang pendidikan, Pak Josi.”

Oh.

“Pendidikan? Sudah selesai SMA ya? Astaga. Saya lupa. Bulan lalu kan sudah pengumuman.”

Sepi.

“Pendidikan di mana, Pak Wib?”

“Masuk polisi, Pak Josi. Maunya Tarman begitu. Saya dan ibunya ngikut saja lah. Yang penting dia tidak nganggur. Dan, masuknya tidak nyogok kok, Pak Josi.” Pak Wib tersenyum lagi.

Aku?

Rasanya aku ingin mengubur diriku saat ini juga.

Mempawah, Juni 2019

*Kakanda Redi, lahir di Jembrana, Bali, 13 Maret 1985. Menulis cerita pendek, novel, dan sajak. Saat ini berdomisili di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Kontak WA: 0895 34 660 6003.

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

2 weeks ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

2 weeks ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

3 weeks ago