Manusia yang diusir hutan

ADA SUARA-suara aneh di dasar jurang. Ada gelora-gelora bergejolak di hutan. Ada pohon-pohon pinus berteriak semacam macan. Padahal di sana semu. Tak ada orang. Tak ada rumah. Seakan mereka hidup dengan mesra sampai lupa bahwa dunia ini tak bisa jadi miliknya.

Dunia ini adalah kefanaan yang menjadikan manusia sebagai hewan pemangsa jabatan. Dan siapa tahu mereka bermaksud mencari esensi kehidupan. Jauh dari keramain, keriuhan, kegisruhan, keonaran bahkan penindasan. Mereka bermaksud membangun dunia baru. Tanpa perkelahian perebutan pemimpin. Mereka tak ingin mencontoh dunia ini; Dunia kebohongan yang hanya mesra oleh individu.

“Kita harus buat tembok,” kata pohon beringin.

“Kalau begitu aku akan membantumu membuat adonan semen.”

“Aku mengangkut batu di gunung.”

“Aku mengambil pasir di sungai.”

Aku… Aku….

Seperti kawula yang berbakti pada tuannya; akar, rerumputan, lumut, bunga kecil, semut dan binatang lainnya berbondong membangun sebuah tembok yang dijaga dua pohon beringin yang menancap di jiwa hutan dengan akar menjalar menyundul permukaan dengan bebatuan yang disusun tinggi serupa goa yang menjadikannya pintu. Batang pohon merambat menutupi langit dengan daun-daun rambun yang menyeka cahaya.

“Perhatian! Sebentar lagi istirahat, segera selesaikan pekerjaan kalian.” Suara yang lantang dari balik pohon pinus.

“Makanan kalian akan datang tujuh menit lag!” Masih dengan suara yang sama.

“Aku akan segera kembali,” bayang manusia terlihat besar di balik pohon pinus. Dia membahu cangkul dengan tangan kanan menenteng ember, air di dalamnya berjatuhan membasahi sandal. Dia tetap berjalan di atas tanah kerontang bersenandung syair-syair Ibnu Arabi kemudian berhenti di bawah pohon beringin yang menjaga goa penghubung ke tembok perbatasan.

“Minumlah,” dia menyirami air ke pohon beringin bergantian. “Segarkan,” serunya dengan senyum berkembang. “Jangan terlalu tegang kalian cukup berjaga dan bila ada manusia datang, halau-jangan sampai dia masuk. Mengerti?” kedua pohon beringin mengangguk. “Beri tahu aku kalau ada masalah. Aku akan buat jebakan di dekat sini.” Dia pun pergi membawa cangkul, ember dia tinggalkan dekat pohon beringin.

Hari menjadi gelap pohon-pohon terlelap langit menghitam dan bintang mengilap. Dengkuran panjang harimau menjagakan lelaki di sampingnya. Dia bangkit dan beranjak pergi kemudian hilang dimakan gelap.

“Mau ke mana malam-malam begini?” tanya pohon pinus.

“Aku mau mengintai keadaan luar,” pohon pinus mengerti-mengangguk.

“Besok kalian bekerja seperti biasanya aku akan kembali besok siang sekalian membeli makanan,” pohon pinus kembali mengangguk.

“Selamat malam.” Terdengar pelan namun dia sudah hilang di antara pohon-pohon yang terlelap.

Di trotoar tampak orang-orang berjalan tergesa. Wajah mereka pucat-pasi seolah ada yang mereka cemasi namun mereka tidak bisa menikamnya. Kemudian mereka berlari ke arah gedung yang sudah dijaga polisi. Terdengar salah satu dari mereka berteriak melempar batu atau apa saja yang ada di hadapannya.

Kemudian, sebagian dari mereka berlari jauh sebagian, hanya menjerit kesakitan. Lalu dari sayap kiri datang seorang lelaki membawa bendera merah putiih yang dikenakannya sebagai bukti kesetiaan NKRI tidak jauh darinya manusia berjibun bersorak mengibarkan bendera yang sama juga spanduk demokrasi.

Ya, saat itu sedang terjadi revolusi demokrasi. Entah apa yang terjadi selanjutnya tidak ada yang tahu.

Karena sedang terjadi demo jalan utama sementara dialihkan ke jalan Pahlawan. Kendaraan menumpuk di sana-sini tidak ada polisi yann bertugas. Semua nampak waspada menahan demonstran.

Tiba-tiba, suasana makin pekak saat peluru polisi mengenai mobil di jalan Pahlawan. Semua keluar dari mobil dan berhamburan ke mana-mana.

“Ke perbatasan,” ujarnya pada tukang Ojel setelah duduk di belakangnya. Motor itu melaju meninggalkan kemacetan melewati jalan kecil seperti gang yang hanya diketahui para sopir ojel. Jalan tikus kata orang. Setibanya di tempat dia memberi satu lembar uang dan segera pergi ke perdesaan. Di sana dia menemui keresahan penduduk yang sama terjadi di kota, tidak wanita, laki-laki-tua, muda-mereka cemas. Mungkin ada kerabat yang juga ikut berdemo atau mereka sudah mendengar berita terkini tentang penembakan brutal.

“Mau ke mana, Pak?” lelaki bercaping cokelat dengan wajah yang ditundukkan tangan kiri mengapit rokok-memberi senyum.

“Mau ke ladang, Mas,” jawabnya datar.

“Semua orang di sini tidak beda jauh dari kota.” Terlihat keningnya melipat setelah membuka caping.

“Mereka sama cemas dan gelisahnya terhadap demo hari ini,” lelaki itu yang ternyata masih muda itu tertawa-bahak.

“Kau begitu muda untuk memahami itu semua. Tapi aku tidak tertarik lagi dengan politik!” Dia masih tertawa dan berhenti lalu memakai capingnya kembali. “Duduklah dulu.” Mereka duduk di tepi sawah-lelaki itu menyulut sisa rokok dan asap mengepul di wajahnya. “Aku sudah sangat lama sekali tidak mengikuti politik dulu aku sering terlibat demo dan sering bertengkar dengan petugas. Hal seperti itu sudah biasa di negara ini. Yang tidak terbiasa ketika semua manusia diam saja. Namun kini aku sudah tidak tertarik denga politik,” dengan mengisap dalam rokoknya dia melanjut obrolan. “Apa kau tertarik?” Dia menggeleng. “Politik?” suaranya sedikit ditekan.

“Tidak! Aku tidak tertarik dengan negara ini. Aku lebih tertarik membangun negaraku sendiri-tidak ada kerusuhan yang ada hanya kedamaian.”

“Tentu semua orang ingin tapi, mustahil,” lelaki itu melempar rokoknya yang sejari.

“Aku sudah menemukan negara itu sebentar lagi akan selesai menjadi negara baru-penuh aroma pepohoonan, air, bunga dan kedamaian.” Dia bangkit dan hendak pergi.

Lelaki itu berlari mendekatinya berusaha berjalan beriring. “Apakah aku boleh ikut?” dia tidak langsung menjawab-melihat wajah lelaki yang baru ditemuinya memohon, dia tidak bisa mengabaikannya. “Aku harap kau seperti yang aku pikirkan, mari.”

Pohon beringin memberi jalan, bebatuan melonggar serupa pintu otomatis-mereka masuk. Tembok yang dibangun sudah hampir selesai. Terlihat bunga-bunga sudah mulai bermekaran dan buah-buah berjatuhan di dekat mereka. Hewan duduk bersandar pohon pinus, batang-batang pohon melayu. Salah satu lelaki itu memanggil seseorang nampak kera-kera menghampiri. “Ini makanan yang kujanjikan. Jangan terburu-buru kita tidak kerja pada manusia. Mengerti?” Kera-kera itu mengangguk lalu menyirami semua pohon tidak kecuali beringin yang ada di luar.

“Luar biasa.” Lelaki bercaping berkomentar datar.

“Aku tidak akan ke luar lagi,” serumya pada pohon. “Cukup banyak masalah di sana-hidup yang sulit ditambah sulit.” Pohon-pohon kembali mengembang. “Kalian akan hidup damai di sini, aku lihat di sana banyak kerabat kalian menderita sebab polusi bahkan dari mereka mati. Yang tersisa hanyalah tanaman palsu yang tidak kenal musim berbunga.” Lelaki yang bersamanya duduk di sebelahnya dan ikut menyimak. “Oh, kenalkan ini temanku.” Pohon-pohon mengangguk dan memberi salam. “Dia akan membantu kita.”

“Selamat datang semoga kau tidak sama seperti manusia di luar sana.” Pinus menjabatnya. Tangan lelaki itu bergetar, matanya redup, alisnya menurun, tubuhnya menggigil. “Kenapa?” lelaki itu tidak menjawab seolah tidak mendengar sesuatu.

“Mungkin dia lelah,” dia menjawab pertanyaan yang tidak harus dia jawab. Pohon-pohon mendengus dan kembali bekerja.

Esok harinya. ada suara-suara aneh di dasar jurang. Ada gelora-gelora bergejolak di hutan. Ada pohon-pohon pinus berteriak semacam macan. Padahal di sana semu. Tak ada orang. Tak ada rumah. Seakan mereka hidup dengan mesra sampai lupa bahwa dunia ini tak bisa jadi miliknya. Dunia ini adalah kefanaan yang menjadikan manusia sebagai hewan pemangsa jabatan. Dan siapa tahu mereka bermaksud mencari esensi kehidupan. Jauh dari keramain, keriuhan, kegisruhan, keonaran bahkan penindasan. Mereka bermaksud membangun dunia baru. Tanpa perkelahian perebutan pemimpin. Mereka tak ingin mencontoh dunia ini; Dunia kebohongan yang hanya mesra oleh individu.

Dua lelaki berjalan lunglai di hutan, wajahnya buram tidak tahu persis mereka tersenyum atau manyun, jalannya pun berjauhan.

Benar, manusia merasa benar sendiri dan tidak pernah menyadari kesalahannya.(*)

Patriot, 11/06/2019

Muhammad. R, lahir di Potoan Sampang Madura, saat ini tinggal di Bekasi cerpennya tersiar di media cetak maupun digital. Anda dapat menghubunginya di nomor 082310398926.

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

2 weeks ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

2 weeks ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

3 weeks ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

3 weeks ago