Peristiwa
Membaca Nyaring, Menghidupkan Imajinasi Anak dari Rumah Belajar Kita Gowa
WARNASULSEL.com – Di sebuah ruang sederhana yang penuh dengan rak buku di Batangkaluku, Gowa, tawa anak-anak dan semangat orang tua berpadu pada Minggu pagi, 21 September 2025. Di situlah, Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa kembali menghadirkan kegiatan literasi yang menghangatkan hati: Workshop Membaca Nyaring (Read Aloud).
Bukan sekadar kegiatan membaca, membaca nyaring adalah seni menghadirkan cerita dengan suara, ekspresi, dan intonasi. Narasumber kali ini, Madia S Nura (Nurmadia Syam), seorang pendongeng, penulis, sekaligus editor, membagikan ilmu sekaligus pengalaman tentang bagaimana membaca bisa menjadi jembatan kasih sayang antara orang tua dan anak.
“Kalau kita membaca dengan suara, anak-anak bukan hanya mendengar kata, tapi juga merasakan cerita. Di situlah tumbuh imajinasi dan kedekatan emosional,” jelas Madia dengan penuh semangat di depan peserta.
Suara yang Mengubah Cara Pandang
Bagi Erniati Mustafa, salah satu peserta, workshop ini seperti membuka pintu baru. Dengan mata berbinar, ia berkata,
“Saya sangat senang karena sudah paham apa itu baca nyaring. Mulai sekarang saya akan sering meminjam buku di TBM Rakit ini dan membacakan buku kepada anak saya sesuai jenjangnya.”
Senada dengan itu, Mega Krisdayani juga mengungkapkan kesan positifnya.
“Workshopnya seru, menyenangkan, dan fasilitas-fasilitasnya juga bagus. Terima kasih sudah memberikan tambahan ilmu dan pengalaman,” ujarnya.
Peserta lainnya, Maryam, seorang ibu dua anak, merasa senang bisa terlibat dalam kegiatan ini.
“Alhamdulillah senang bisa menghadiri workshop membaca nyaring yang diadakan oleh Rakit Gowa. Pematerinya keren dan interaktif bersama kami sebagai peserta,” ucapnya.
Sementara itu, Fitri Magfirah, seorang guru di UPT SMPN 9 Makassar, melihat manfaat membaca nyaring yang lebih luas.
“Sebagai guru SMP, saya mendapatkan banyak wawasan baru dari workshop membaca nyaring (read aloud) RAKIT GOWA. Salah satu yang paling berkesan adalah dalam membaca nyaring anak-anak dibiarkan berimajinasi sesuai dengan cerita yang dibacakan dan tidak membatasi imajinasi anak dengan pesan moral di akhir cerita. Membaca nyaring juga tidak hanya bermanfaat bagi anak usia dini, tetapi juga efektif menumbuhkan minat baca dan meningkatkan pemahaman literasi siswa SMP. Kegiatan ini sangat inspiratif dan ke depannya akan saya usahakan untuk diterapkan di kelas,” ungkapnya.
Antusiasme yang Tak Terduga
Dua puluh tujug peserta yang hadir, sebagian besar para ibu, tampak begitu antusias mengikuti setiap sesi. Dari simulasi membaca, hingga tips memilih buku yang tepat, semua dibawakan dengan interaktif.
Ketua Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa, Ainun Jariah, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik. Antusiasme peserta luar biasa. Kami berterima kasih kepada Badan Bahasa Kemendikdasmen atas dukungannya. Semoga kegiatan selanjutnya bisa lebih baik dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya penuh harap.
Relawan Ikut Merasakan Dampaknya
Tak hanya peserta, relawan pun ikut mendapat pengalaman berharga. Sukma Sarzain, mahasiswa DKV yang terlibat sebagai relawan, merasakan pengalaman baru.
“Sebagai anak DKV yang lebih sering berhadapan dengan desain dan nirmana, ikut jadi relawan di workshop membaca nyaring di Rakit Gowa bikin saya sadar kalau gambar dan cerita itu bisa saling melengkapi. Senang bisa menambah sedikit pengalaman sambil belajar hal baru. Semoga ke depan makin banyak kegiatan seperti ini, agar budaya literasi bisa tumbuh lewat cara-cara kreatif,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Workshop
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sesi teori. Peserta juga dibekali dengan seminar kit, kudapan, dan biaya transportasi. Namun yang terpenting, mereka pulang membawa bekal pengetahuan dan semangat baru: menjadikan buku sebagai sahabat anak-anak di rumah.
Di tengah gempuran gawai dan hiburan digital, membaca nyaring hadir sebagai oase. Sebuah upaya sederhana, tapi penuh makna, untuk menghidupkan kembali budaya literasi sejak dini.
Dan di sebuah sudut Gowa, Rumah Belajar Kita (RAKIT) membuktikan, bahwa mimpi mencetak generasi literat bisa dimulai dari suara orang tua yang membacakan cerita.(*)


