Peristiwa
Gowa Movie Society & RAKIT Gowa Gelar Nobar Film Little Big Master: Menghidupkan Kembali Makna Perjuangan Guru
WARNASULSEL.com – Gowa — Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025, Gowa Movie Society berkolaborasi dengan Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa menyelenggarakan Nonton Bareng dan Diskusi Film dengan menayangkan film edukatif Little Big Master, Selasa (25/11/2025).
Kegiatan ini berlangsung di Rumah Belajar Kita Gowa, Jalan Dahlia, Batangkaluku, Kabupaten Gowa, dan diikuti oleh berbagai komunitas literasi serta pegiat taman baca.
Acara ini menghadirkan sejumlah perwakilan komunitas, seperti Ilmi dari Perpustakaan Gowa, Siti Mujadilah dari Gowa Book Party, Firdaus dari Rumah Cerdas Bajeng, Fauzi, seorang pegiat lingkungan yang juga mahasiswa Universitas Hasanuddin, Asrianto dari TBM Balla Baca, Hasrullah dari TBM Makmurullah, Arief Muhammad selaku inisiator Gowa Movie Society, serta M. Galang Pratama dari Forum TBM Sulawesi Selatan.
Film Inspiratif yang Mengangkat Kembali Makna Guru
Arief, inisiator Gowa Movie Society, menjelaskan bahwa pemilihan film Little Big Master bukan tanpa alasan. Film ini dirasa sangat tepat diputar pada Hari Guru karena mengangkat perjuangan seorang kepala sekolah yang berusaha mempertahankan pendidikan bagi lima anak di tengah keterbatasan. Kisah ini dianggap representatif dengan realitas pendidikan di beberapa daerah di Indonesia.
Arief menilai bahwa kegiatan seperti ini penting, terutama karena semakin sedikit komunitas yang memperingati Hari Guru dengan membahas sisi lain perjuangan guru.
“Banyak kegiatan Hari Guru lebih fokus pada seremoni. Padahal, perjuangan dan nilai keteladanan guru adalah hal yang harus diingat dan didiskusikan. Kami ingin menjaga agar makna ini tidak hilang begitu saja,” ujar Arief Muhammad.
Ia juga menegaskan bahwa literasi tidak sebatas pada kegiatan membaca buku.
“Literasi bukan hanya soal membaca, tapi juga menonton. Menonton adalah bagian dari literasi visual yang juga penting dalam pendidikan. Dengan menonton film edukasi, kita bisa membuka ruang diskusi yang lebih luas,” tambah Arief.
Arief juga berharap kegiatan serupa dapat direplikasi oleh komunitas lainnya.
“Nonton bareng seperti ini bisa dilakukan di TBM lain atau bahkan di gedung layanan Perpustakaan Gowa. Ini bisa menjadi agenda rutin untuk memperkaya kegiatan literasi,” ujarnya.
Diskusi Film: Dari Tantangan Guru hingga Potensi Literasi Gowa
Usai pemutaran film, para peserta melakukan diskusi terbuka mengenai pesan moral yang terkandung dalam film, khususnya tentang dedikasi guru di tengah keterbatasan. Firdaus dari Rumah Cerdas Bajeng menyoroti pesan utama film tersebut.
“Menjadi guru bukan mencari materi, tetapi menjadi teladan bagi orang lain,” ungkap Firdaus, menegaskan kembali nilai inti film.
Diskusi kemudian berkembang pada kondisi pendidikan dan literasi di Kabupaten Gowa saat ini, termasuk tantangan yang dihadapi guru, minimnya fasilitas di beberapa daerah, hingga pentingnya peran masyarakat dalam mendukung ekosistem pendidikan.
Melahirkan Ide Baru: Pariwisata Literasi Kabupaten Gowa
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi untuk guru, tetapi juga tempat lahirnya ide-ide baru. Salah satu gagasan yang muncul adalah mengangkat potensi pariwisata literasi di Kabupaten Gowa melalui lokasi-lokasi bersejarah yang selama ini belum digarap secara maksimal.
Salah satu lokasi yang dibahas adalah titik nol Kabupaten Gowa, sebuah tempat yang memiliki nilai historis penting, namun belum dikenal luas sebagai destinasi wisata edukasi.
Para peserta meyakini bahwa dengan pengemasan yang tepat, titik nol ini bisa menjadi destinasi wisata literasi yang menarik dan potensial, terutama bagi pelajar dan komunitas literasi.
Gerakan Literasi yang Lebih Hidup dan Inklusif
Kegiatan nobar dan diskusi ini memperlihatkan bahwa literasi dapat hadir dalam berbagai bentuk—tidak hanya membaca buku, tetapi juga menonton, berdiskusi, dan berkolaborasi antar komunitas. Gowa Movie Society dan RAKIT Gowa berharap kegiatan seperti ini akan terus memperkuat gerakan literasi dan menjadi jembatan bagi komunitas-komunitas di Kabupaten Gowa untuk saling terhubung.
Dengan semangat Hari Guru Nasional, kegiatan ini mengajak kembali masyarakat untuk merenungi makna guru, menghidupkan nilai keteladanan, dan memperluas ruang belajar di luar batas kelas.(*)




