Sastra
[Cerpen] Ainun Jariah; Kisah Kita Terbatas
Kubuka satu persatu surat itu. Airmataku tak bisa terbendung. Ada sesak yang menyerang dadaku. Sangat sakit. Aku telah salah menilai Ayah. Dia bukannya tidak peduli padaku. Aku mungkin hanya menderita batin. Tapi, Ayah? Ayah menderita batin dan fisik. Dia harus tidur di lantai tanpa selimut, berkawan nyamuk, makan seadanya dan hanya bisa melihat ruang yang sama setiap hari. Tak bisa aku bayangkan penderitaan Ayahku.
“Ummi, aku tahu. Ayah bukan orang jahat. Ayahku tidak jahat. Tapi, siapa yang tega memfitnah Ayah, Ummi?”
*Untuk membaca kelanjutan cerpen ini silakan memesan bukunya pada admin.


Pingback: Passampo Siri'