Kampus
Kemitraan Strategis Amerika Serikat dan Australia dalam Teknologi Global: Infrastruktur Kabel Bawah Laut dan Komputasi Awan
Oleh: Wisna Kiki Tonapa, Rista Paseru, Kurnia*
Amerika Serikat dan Australia memperkuat kerja sama dalam teknologi global, terutama terkait pengembangan infrastruktur kabel bawah laut dan komputasi awan. Fokus utama kemitraan ini adalah memastikan manfaat teknologi seperti komputasi awan dapat dirasakan secara optimal, sambil memitigasi risiko geopolitik dan ancaman keamanan digital. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diplomasi teknologi yang lebih luas untuk menciptakan dunia digital yang aman, terbuka, dan tangguh.
Perlunya Inovasi dan Keamanan Teknologi
Amerika Serikat memimpin upaya global dalam pengembangan teknologi maju seperti 5G, semikonduktor, dan komputasi awan. Namun, persaingan dari negara-negara otoriter semakin meningkat. Untuk mempertahankan keunggulannya, Amerika Serikat dan mitranya berkomitmen membangun ekosistem teknologi yang kuat dengan memanfaatkan infrastruktur strategis seperti kabel serat optik bawah laut, yang membawa lebih dari 95% lalu lintas data digital dunia.
Gangguan pada infrastruktur ini dapat memengaruhi keamanan nasional dan stabilitas ekonomi global. Untuk itu, Amerika Serikat, bersama Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Taiwan, berinvestasi dalam proyek kabel bawah laut guna menghubungkan hingga 100.000 orang di Kepulauan Pasifik. Proyek serupa juga dikembangkan di kawasan Amerika Selatan, Afrika, dan Indo-Pasifik.
Memperluas Kolaborasi di Komputasi Awan
Di bidang komputasi awan, Amerika Serikat memprioritaskan kerja sama dengan penyedia tepercaya, mengecualikan penyedia dari negara-negara yang tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi. Ini bertujuan untuk mencegah potensi pengawasan massal dan penyalahgunaan teknologi yang dapat mengancam hak privasi.
Penguatan Rantai Pasok Global
Upaya memperkuat rantai pasokan teknologi juga terus dilakukan, terutama dalam hal semikonduktor dan mineral kritis. Melalui Kemitraan Keamanan Mineral yang melibatkan 14 negara dan Uni Eropa, Amerika Serikat ingin mendiversifikasi sumber daya untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada wilayah tertentu. Undang-Undang CHIPS dan Sains juga menjadi langkah besar dengan investasi $53 miliar untuk meningkatkan kapasitas manufaktur semikonduktor domestik.
Transformasi Diplomasi Teknologi
Diplomasi Amerika Serikat kini diarahkan untuk mengantisipasi dan membentuk lanskap strategis global. Dengan meluncurkan Biro Keamanan Siber dan Kebijakan Digital, serta memperkuat kedutaan besar dengan personel digital terlatih, pemerintah AS memastikan kesiapan menghadapi tantangan teknologi masa depan. Teknologi seperti AI generatif dan pembelajaran mesin mulai diterapkan untuk mendukung tugas diplomasi dan meningkatkan efisiensi operasional.
Mendukung Demokrasi Global
Kerja sama ini juga mencerminkan komitmen Amerika Serikat terhadap dunia yang lebih demokratis. Dukungan kepada Ukraina dalam menghadapi hambatan digital menjadi contoh kolaborasi global yang berhasil.
Sebagaimana revolusi teknologi sebelumnya seperti mesin cetak Gutenberg, langkah ini diharapkan mampu membawa dampak besar bagi kemajuan sains, demokrasi, dan stabilitas global. Amerika Serikat bersama mitra internasionalnya percaya bahwa dengan memanfaatkan peluang teknologi secara kolektif, masa depan yang lebih aman dan sejahtera dapat diwujudkan.(*)
*Mahasiswa Bosowa

