Connect with us

Kolom

Tiba-tiba di Jogja

Published

on

Tiba tiba di Jogja
Spread the love

Oleh: Muh Agung Kurniawan

Senin Pagi 9 Desember 2024 sekitar pukul 05.25 Wita saya dibangunkan oleh alarm. Rencananya saya akan lari pagi karena saya tidak ada jadwal kuliah. Akan tetapi, di luar terjadi hujan dan saya memutuskan kembali tidur.

Tak lama setelah saya tertidur, ada panggilan masuk dari kakak saya. Saya kira itu mimpi. Saya mencoba bangun lebih sadar. Mencoba melakukan eksperimen mendasar untuk membuktikan apakah saya benar benar terjaga atau masih berada dalam bunga tidur. Saya lalu melompat tinggi. Yap benar. Saya kembali mendarat ketika sudah melompat. Ini benar, nyata. Ini bukan mimpi!

Di balik telepon dia tiba tiba bilang dengan singkat “Dek siap siap ke Jogja. Nanti kuinfokan lagi sebentar jam 6.”

Di saat itu, perasaan saya yang darinya ngantuk tiba-tiba bahagia, tapi hati kecilku mengatakan jangan terlalu berharap pada apa yang belum pasti. Di luar hujan sangat deras. Sambil menunggu kepastian, saya berniat untuk pergi mandi dulu saja. Setelah saya mandi, tiba-tiba ada telepon masuk, dan ternyata dari kakak saya. Dia mengatakan, “Assalamualaikum, tidak ada ji kuliahmu 4 hari ke depan? Jadi siap-siap otw bandara… kutunggu di bandara.”

Setelah mendengar informasi itu, saya sangat bahagia sekali dan bergegas packing. Walau hujan, saya tetap terobos ke bandara naik motor bersama kakak saya.

Tiba di Jogja

Saya tiba di Yogyakarta International Airport sekitar pukul 12.45 WIB, kami disambut oleh bus-bus yang siap mengantar ke tempat tujuan pertama, yaitu Perpustakaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perpustakaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pandangan saya pertamakali sangat luas dan bersih, di tengah-tengahnya terdapat bolongan yang dijadikan sebagai taman.

Sepanjang perjalanan menuju tujuan berikutnya, yaitu Rumah Belajar Komunitas, saya masih tidak menyangka bahwa saya berada di kota yang di mana banyak sekali orang ingin berkunjung ke sini.

Sampai di Rumah Belajar Komunitas, hari mulai gelap, matahari telah terbenam, tempatnya berada dalam gang-gang sempit sehingga kita harus berjalan sekitar 100 meter.

Tapi itu tidak memadamkan semangat para Pegiat Literasi yang datang ke sini, setelah melihat suasana dan susunan buku yang berada di Rumah Belajar Komunitas, kami kompak mengatakan, “Wowww…” seperti menemukan harta karun.

Salah satu yel-yel Rumah Baca Komunitas yaitu Membaca, Menulis, Menanam.

Malam sudah tiba, rembulan sudah naik ke peraduannya. Kami pun akhirnya pulang dari kunjungan sehari ful, kami lanjut check-in hotel.

Hari yang berat bagi kita pegiat literasi yang sudah satu hari belum mandi. Setelah mandi dan bersih-bersih, Zikir, teman kamar saya, mengajak saya turun dan keluar dari hotel untuk nongkrong menikmati indahnya malam di Kota Jogja. Saya rasa, malam ini akan benar benar jadi malam yang panjang.

Perjalanan ke InsistPress dan Obelix

Keesokan harinya, Selasa, 10 Desember 2024. Kami sarapan dan memulai perjalanan selanjutnya ke InsistPress. Tempatnya sangat indah, sejuk, dan banyak buku tentunya. Insist ini sangat MEWAH, mepet sawah maksudnya, kata Pak Roem Topatimasang (Owner Insist) waktu itu. Di Insist kami disediakan kopi dan teh tapi dengan syarat ambil sendiri dan cuci sendiri.

https://www.instagram.com/p/DDZEbgOy1Ne/

Setelah diskusi panjang dan makan siang, kami lanjut ke tujuan selanjutnya, yaitu Obelix. Tempatnya indah, berada di atas gunung di pinggir pantai, yang menakutkan adalah perjalanan naiknya, tanjakan sangat curam.

Pemandangan di Obelix

Pemandangan di Obelix

Singkat cerita, keesokan harinya saya berlari ke Tugu, jaraknya kurang lebih 2,5km dari hotel Grand Kangen Jogja tempat saya menginap. Jadi untuk lari pagi itu hari pulang pergi berjarak kurang lebih 5km.

Lari Pagi di Jogja

Lari Pagi di Jogja

Meski hanya menggunakan sandal hotel, saya rasa, hobi lari saya harus tetap tersalurkan di mana pun saya berada. Apalagi mumpung saya lagi di Jogja!

Setelah bersih bersih kemudian sarapan kita melanjutkan perjalanan ke toko grosir batik, lalu ke Candi Prambanan. Di saat itu, saya baru tahu kalau ada tiga Candi di Prambanan, yaitu Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Vishnu. Dan bahwa candi prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia. Tiga candi utama ini disebut Trisakti, yang berarti “tiga kekuatan” atau “tiga kekuatan suci” dalam Bahasa Sanskrit.

Pulang dari Candi Prambanan, kami lanjut ke toko bakpia, di toko bakpia pengunjung yang masuk diberikan testi bakpia masing-masing satu dan saya berpikir untuk mencoba masuk dalam toko itu sebanyak dua kali agar mendapatkan 2 bakpia, hehe.

Di Malioboro

Lanjut menuju Malioboro. Tujuan yang paling saya tunggu akhirnya sampai juga. Di Malioboro, ternyata dekat dengan lintasan kereta api, dan saat pertama itu saya melihat secara langsung kereta api lewat di hadapanku.

Masih banyak cerita di balik perjalananku di Jogja. Intinya semua ada pembelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan dan tidak bisa saya lupakan begitu saja. Teman baru dan pengetahuan baru.

Sampai saat ini saya masih belum terasa yakin bahwa saya pernah dan tiba tiba berada di Jogja. Maka, melalui coretan sederhana ini saya merasa berdosa apabila tidak menyebut Kak Muhammad Fausan Basir, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten Mamuju dan jajarannya. Terima kasih banyak atas kesempatan emas ini. Kepada Samsir, Zikir, Kak Adi Arwan yang hobi menulis berita di mana pun berada, Kak Syafri yang hobi berdiskusi, Sakina, dan lainnya. Terima kasih atas oleh oleh akhir tahunnya.

Yogyakarta, 9-11 Desember 2024

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *