Herd Immunity VS New Normal

Oleh Ade Nur’ Adni

Rabu, 27 Mei 2020 sebanyak 5.698.421 kasus terkonfirmasi positif virus corona dengan 352.475 orang di antaranya meninggal dunia.

Di Indonesia wabah ini mencapai 23.851 kasus terkonfirmasi positif dengan 1.473 orang di antaranya meninggal dunia.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan laju penyebaran Covid-19, mulai dari social distancing hingga pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Kebijakan yang diberlakukan rupanya belum bisa menghentian wabah ini.

Lalu, muncul opsi lain yang cukup kontroversial untuk menghentikan pandemi ini yaitu dengan memanfaatkan herd immunity.

Lalu seperti apa herd immunity yang dimaksud?

Dikutip dalam Euronews, herd immunity atau kekebalan kelompok adalah konsep dalam epidemiologi yang menggambarkan bagaimana orang secara kolektif dapat mencegah infeksi jika beberapa persen populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit.

Semakin banyak orang yang kebal terhadap suatu penyakit, semakin sulit bagi penyakit tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menentang setiap negara untuk menerapkan konsep herd immunity. Sebab menurut WHO herd immunity bukanlah cara yang tepat untuk memutus penyebaran Covid-19. Karena ini adalah konsep berbahaya yang membuat korban semakin bertambah.

Sementara sejak virus ini meyebar hampir ke seluruh negara, hingga kini belum menemukan obat maupun vaksin untuk virus Corona. Para peneliti pun masih berusaha mengembangkan vaksin tersebut.

Covid-19 ini sangat mempengaruhi roda perekonomian, sehingga membuat sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan terkait mobilitas warganya termasuk Indonesia, mulai dari kumpulan orang di depan McD Sarinah yang ditutup padahal sudah ada aturan dilarang berkumpul, mall yang kembali dibuka, belum lagi saat pemerintah mengizinkan pesawat kembali beroperasi hingga bandara Soekarno Hatta bak lautan manusia.

Hal menarik lainnya yang sedang hangat diperbincangkan yaitu Presiden Jokowi menyebut sudah saatnya, masyarakat dapat hidup berdamai dengan Covid-19.

Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan. Selama wabah masih ada, Jokowi juga meminta agar masyarakat juga tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kendati Covid-19 masih terus mengancam, kondisi ini pada akhirnya membawa pada konsep new normal, yang secara bertahap mulai diimplementasikan.

Lantas, apa itu new normal?

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (20/5/2020), Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Meski begitu beredar anggapan kalau new normal ini hanya berujung pada strategi herd immunity atau membiarkan suatu kelompok nantinya terinfeksi Corona dan menciptakan kekebalan sendiri. Apakah benar?

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menjelaskan herd immunity sebenarnya jauh berbeda dengan new normal.

Namun jika masyarakat dibiarkan menjalani new normal saat kasus baru Corona masih tinggi baru bisa dikatakan sama saja dengan mengadopsi strategi herd immunity.

Menurut dr Tri, herd immunity sendiri sangat berbahaya jika diterapkan pada penanganan wabah Covid-19. Banyak yang akan dikorbankan karena syarat capai herd immunity adalah 80 persen dari populasi terinfeksi Corona.

Rencana penetapan New normal menurut pengamat ekonomi adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis dan akan terus menguras uang negara untuk meredam penyebaran virus corona yang semakin sulit dihentikan.

Meski kondisi ini juga berdampak pada perekonomian negara, tetapi hal itu bisa menjadi yang kedua. Sebab bukan hanya Indonesia, negara yang terjangkit virus ini juga mengalami kondisi perekonomian serupa.

Pemerintah sebaiknya menjadikan ekonomi sebagai pertimbangan nomor dua. Roda perekonomian memang sedang diuji. Tetapi hal  itu tidak terjadi di Indonesia saja. Semua negara mengalami hal yang sama. Roda perekonomian bisa dibangun kembali, tetapi apabila nyawa rakyat yang melayang apakah bisa dihidupkan kembali?

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat, angkatan 2017 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Biro Fikriyah Departemen Kemuslimahan UKM LDK AL-JAMI’ 2020. Instagram: @adenradni

Baca

Leave a Reply