Connect with us

Kolom

Filosofi Hidup Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan

Published

on

Spread the love

Oleh: Andi Ulfa Wulandari

Manusia Bugis termasuk dalam ras khusus yang disebut Veddoid. Nama bahasa suku Bugis disebut bahasa Ugi, yang mana pada awalnya merupakan bahasa pengantar dalam berkomunikasi. Bahasa  Bugis mempunyai lambang bunyi atau aksara yang sama dengan aksara Makassar yang disebut dengan aksara Lontara. Aksara lontara telah dimulai sekitar abad ke-XVI, sebelum agama Islam dianut secara umum oleh penduduknya.

Masyarakat Bugis adalah kelompok etnis yang menempati bagian tengah dan selatan Jazirah Sulawesi Selatan sebagai daerah asal dan tempat menetapnya. Menurut Lontara’ Attoriolongnge ri Pammana (buku Sejarah Pammana), pada mulanya suku Bugis masih merupakan bagian dari suku To Luwu’. Di bawah pimpinan La Sattumpugi’, sekelompok itu pindah ke daerah Cenrana (Bone), sebagian pindah ke daerah Pammana (Wajo).

Bagian Bone dinamakan Cina ri Lau’ dan daerah Wajo dinamakan Cina ri Aja’. La Sattumpugi’ menjadi raja pertama dengan gelar Datunna atau Opunna Cina. Sekelompok orang berasal dari Luwu’ itu menyebut diri mereka Ugi atau Ugi to Cina. Nama itu diambil dari akhir kata nama La Sattumpugi. Adapun kepercayaan mereka sebelum menganut Islam, sangat sulit diberikan penamaan, karena tidak ditemukan sejarah yang menegaskan tentang agama leluhur masyarakat Bugis. di samping itu, dalam berbagai Lontara tidak pernah disebut Brahma, Wisnu, Syiwa, Budha, dan sejenisnya. Orang-orang Bugis terkenal sebagai orang yang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi kehormatan mereka bersedia melakukan tindak kekerasan walaupun nyawa sebagai taruhan. Di balik sifat keras tersebut, orang Bugis juga terkenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain, serta sangat menjunjung tinggi solidaritas. Suku Bugis tergolong ke dalam suku-suku Deutero Mealyu, masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia (Yunan).

Dalam masyarakat Bugis terdapat nilai-nilai filosofis yang dipegang kuat, nilai-nilai ini bersumber dari pappaseng atau biasa diartikan pesan-pesan yang berbentuk manuskrip berbahasa Bugis. Pada suku Bugis, nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal tersimpan dalam berbagai media, selain itu juga banyak pappaseng yang tidak tersurat namun tersirat. Falsafah hidup yang tertulis biasanya dituangkan dalam naskah lontara. Dalam lontara inilah orang Bugis menyimpan ilmu dan kebudayaan masa lalu. Naskah lontara tersebut mengandung nilai-nilai pedagogik, seperti nilai religius, nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, nilai kerja keras, bahkan kepedulian terhadap lingkungan.

Sejarah mencatat bahwa yang membuat suku Bugis berdiaspora ke daerah lain adalah semangatnya untuk massompe (merantau). Hal ini telah turun temurun dilakukan, dan setiap kali merantau mereka membawa serta pranata-pranata sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Mereka memiliki falsafah hidup yang disebut “Tellu Cappa” yang berarti tiga ujung, yaitu:

  1. Cappa lila (Ujung lidah)

Yang dimaksud ujung lidah adalah keterampilan berbahasa. Suku Bugis terkenal sangat pandai berbicara dan meyakinkan orang lain dengan bahasa.

  1. Cappa maengeng (Ujung kelamin)

Yaitu menikahi atau dinikahi oleh keluarga yang berpengaruh, misalnya menikah dengan anak pemengku adat, anak pejabat, dan lainnya.

  1. Cappa pammale (Ujung badik)

Maksudnya ialah menggunakan senjata atau pun kekuatan fisik ketika diperlukan, misalnya saat harga diri dan keluarganya terinjak dan cara orang lain memperlakukan tidak wajar. Artinya, ini merupakan pilihan terakhir. Selain falsafah tellu cappa’ di atas, terdapat enam filosofi dasar yang juga menjadi pegangan masyarakat Bugis baik yang hidup di wilayah Bugis maupun yang tengah berada di perantauan. Filosofi tersebut antara lain:

  1. Ininnawa. Dalam memaknai sebuah keindahan, masyarakat Bugis membagi keindahan menjadi dua bagian yaitu keindahan ideal atau ininnawa dan keindahan materi atau berwujud nyata yang disebut watang. Ininnawa adalah bentuk keindahan ideal yang ada dalam pikiran, dan segala bentuk karya seni dianggap sebagai bentuk bayangan nyata dari apa yang ada dalam pikiran seseorang. Filsafat Bugis ini menunjukkan pengetahuan yang dalam
  2. Sitinaja, merupakan konsep kesederhanaan dalam keindahan bagi orang Bugis yang berarti pantas, wajar, atau patut. Maksudnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya. Mampu menempatkan diri sesuai tempatnya, dan tidak mengambil hak orang lain. Falsafah ini menunjukkan bahwa suatu keindahan benar mencapai idealnya ketika ia harmonis dengan lingkungannya.
  3. Siri’ na Pesse. Hidup dengan menjunjung tinggi harkat, martabat, dan harga diri serta memiliki rasa empati ataupun kesedihan terhadap kesedihan orang lain. Berikut bunyi petuah Bugis terkait siri’:“Siri paranreng, nyawa pa lao”Artinya: “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawalah bayarannya.”
  4. Resopa temangingngi namalomo naletei pammase dewata. Maksud dari falsafah ini adalah hanya dengan kerja keras dan ketekunan maka seseorang dengan mudah memperoleh keridaan oleh Tuhan. Demikian orang Bugis pantang menyerah dalam perantauan, karena mereka percaya bahwa untuk memproleh keberkahan dan keridaan dalam hidup, diperlukan usaha maksimal yang menjadi bukti manusia mensyukuri kehidupan ini.
  5. Sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi. Falsafah ini memiliki makna saling mengingatkan, memanusiakan manusia, dan saling memuliakan tanpa merendahkan atau melihat kekurangan pada diri orang lain. Filsafat Bugis mengajarkan kita untuk menjalani peran sebaik-baiknya sebagai manusia dengan memperhatikan aspek humanisme. Sejatinya, hal ini juga menjadi bagian dari ajaran setiap agama.
  6. Taro ada taro gau. Pappaseng terakhir ini menjadi salah satu bukti loyalitas dan komitmen bagi masyarakat Bugis, yang mana bermakna bahwa satu kata satu perbuatan. Bagi masyarakat Bugis, apa yang terucap dengan mulut harus selaras dengan perbuatan, karena dengan begitu orang lain dapat menaruh kepercayaan pada kita.

Hakikatnya, masyarakat lokal di Indonesia memiliki nilai-nilai hidup yang sangat filosofis. Cara mereka memandang kehidupan seakan menembus zaman, hingga pemikiran tersebut masih snagat relevan diterapkan di era kontemporer ini.