Kolom
Colliq Pujie: Sang Pengukir Kisah Abadi Warisan Sastra Bugis (Sureq I Lagaligo)
Oleh: Rosmayasari
“Negara yang hebat, adalah negara yang mampu menjaga peradabannya”. Seseorang pernah mengatakan kutipan tersebut, sehingga sering terngiang dipikiran saya. Saya sangat sepakat, di mana peradaban suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari warisan masa lalu. Salah satu yang menjadi warisan negeri ini adalah berupa sastra yang mampu mengabadikan nilai-nilai luhur dan sejarahnya. Di Indonesia, salah satu mahakarya sastra yang paling megah dan penting adalah I Lagaligo, sebuah wiracarita Bugis yang bahkan lebih panjang dari epos Mahabharata dan Ramayana. Namun, di balik kebesaran naskah ini, ada nama seorang perempuan bangsawan yang tak kalah hebat. Dialah Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa. Perannya sebagai penyalin naskah bukanlah sekadar pekerjaan menyalin biasa, melainkan sebuah aksi penyelamatan budaya yang heroik, memastikan kisah leluhur Bugis tetap hidup hingga kini. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa kecerdasan, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya dapat menjadi kekuatan yang abadi, melampaui zaman.
Setelah membaca artikel dari media sosial Desa Pancana. Saya memperoleh informasi mengenai biografi Colliq Pujie, “Sang Intelektual dan Pejuang dari Tanete. Dia adalah sseoranuratu yang bernama Retna Kencana Colliq Pudjie dengan nama lain Aisyah yang lahir pada abad ke 19 di Pancana. Colliq Pujie diberi gelar Arung Pancana Toa Matinro Ri Tucae. Bila diurai satu-satu arti nama itu, maka “Retna Kencana” adalah nama Melayu yang diberikan oleh orang tuanya sejak kecil, “Colliq Pujie” berarti pucuk daun yang terpuji, sedangkan “Arung Pancana Toa” adalah gelar jabatannya sebagai Raja Tua di Pancana. Setelah meninggal dunia ia diberi gelar anumerta “Matinro Ri Tucae” yang berarti tertidur di Tucae. Tucae adalah nama salah satu tempat di Lamuru tempat Colliq Pujie meninggal. Dia ratu yang bukan hanya sekedar punya cita rasa sastra yang tinggi namun juga penulis naskah terpanjang didunia. Naskah yang sekarang dikenal dengan sebutan LAGALIGO. Ratu ini harus perawan, baik saat diangkat hingga dalam masa jabatannya. Dia harus suci dari hayatnya hingga maut menjemputnya.
Lahir pada tahun 1812 di Tanete, Sulawesi Selatan, Colliq Pujie adalah sosok yang jauh melampaui zamannya. Ia tumbuh sebagai seorang bangsawan yang memiliki kecerdasan luar biasa dan kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, terutama sastra dan sejarah. Di tengah dominasi patriarki pada abad ke-19, ia membuktikan bahwa perempuan pun bisa menjadi seorang intelektual, sejarawan, dan sastrawan yang ulung. Ketekunannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya sering menghabiskan waktu di perpustakaan kerajaan, mendalami berbagai naskah dan tradisi lisan.
Namun, hidupnya tidak hanya diisi dengan buku. Colliq Pujie juga dikenal sebagai seorang pejuang yang menentang kolonialisme Belanda. Ia memiliki pandangan politik yang tajam dan tidak ragu-ragu untuk menyuarakan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Keberaniannya ini membuatnya harus menghadapi masa pengasingan, sebuah periode yang justru menjadi babak penting dalam hidupnya. Di masa inilah ia bertemu dengan B.F. Matthes, seorang misionaris dan ahli bahasa Belanda yang juga memiliki ketertarikan besar pada budaya Bugis. Kolaborasi unik ini menjadi kunci utama dalam upaya penyelamatan I Lagaligo.
Kejeniusan Colliq Pujie tidak berhenti di situ. Selama masa pengasingannya, ia menciptakan sebuah aksara rahasia yang disebut Aksara Bilang-bilang. Aksara ini merupakan hasil modifikasi dari aksara Bugis dan Arab yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan para pengikutnya dan menggerakkan perlawanan dari balik jeruji. Aksara Bilang-bilang ini menjadi bukti lain dari kepintaran, ketelitian, dan semangat perlawanan yang tak pernah padam dalam diri Colliq Pujie, menjadikannya seorang pahlawan tidak hanya dalam dunia literasi, tetapi juga dalam perjuangan kemerdekaan.
Naskah I Lagaligo sebelum disalin oleh Colliq Pujie, adalah tradisi lisan yang hidup dalam bentuk syair dan dendang. Kisahnya terpecah-pecah, tersebar di berbagai wilayah, dan hanya dilafalkan oleh pappaseng (penutur cerita) dalam upacara-upacara adat. Tanpa upaya dokumentasi, epos ini berisiko hilang ditelan zaman. Di sinilah peran Colliq Pujie menjadi sangat krusial. Selama puluhan tahun, ia dengan tekun melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain untuk mengumpulkan fragmen-fragmen I Lagaligo yang tersebar.
Proses penyalinan ini bukanlah tugas yang mudah. Colliq Pujie tidak hanya menyalin, tetapi juga menyunting dan menyusun ulang fragmen-fragmen yang berceceran menjadi sebuah narasi yang lebih utuh dan terstruktur. Keterampilan sastranya yang tinggi memungkinkannya untuk menambahkan pengantar dan petunjuk yang sangat membantu para peneliti di masa depan. Berkat dedikasi tak kenal lelahnya, Colliq Pujie berhasil menyusun naskah yang luar biasa tebal, yaitu 6.000 halaman yang terdiri dari 300.000 baris. Jumlah ini menjadikannya wiracarita terpanjang di dunia, jauh melampaui naskah-naskah epik lainnya seperti Ramayana dan Mahabharata. Naskah inilah yang kini dikenal sebagai naskah I Lagaligo versi Matthes yang tersimpan dengan aman di Perpustakaan Nasional Belanda, Leiden. Tanpa kerja kerasnya, kekayaan intelektual ini mungkin hanya menjadi cerita masa lalu yang terlupakan.
Mengapa Naskah I Lagaligo Begitu Penting?
Menurut saya pribadi, naskah yang disalin oleh Colliq Pujie ini bukan sekadar cerita fantasi atau sekadar kumpulan mitos. I Lagaligo adalah ensiklopedia peradaban Bugis. Di dalamnya terkandung mitos penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, silsilah para raja, serta kisah-kisah kepahlawanan seperti petualangan Sawerigading yang penuh tantangan. Naskah ini juga memuat nilai-nilai filosofis dan kosmologi yang mendalam, mencerminkan pandangan dunia masyarakat Bugis tentang kehidupan, kematian, dan hubungan manusia dengan alam. Sehingga sangat penting untuk diketahui oleh semua orang. Inilah menjadi alasan mengapa tulisan ini tercipta.
Lebih dari itu, menurut informasi dari wikipedia. Saya memperoleh bahwa I Lagaligo juga berfungsi sebagai panduan praktis kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terdapat petunjuk tentang tata cara bercocok tanam, upacara daur hidup (seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian), serta hukum adat yang mengatur interaksi sosial masyarakat. Oleh karena itu, I Lagaligo diakui sebagai Warisan Dokumenter Dunia (Memory of the World) oleh UNESCO pada tahun 2011. Pengakuan ini tidak bisa lepas dari jasa Colliq Pujie yang telah menyelamatkan dan mengabadikan naskah tersebut, menjadikannya harta karun budaya yang tak ternilai harganya bagi seluruh umat manusia.
Sudah sepatutnya Colliq Pujie diberikan gelar sebagai Pahlawan Literasi Bugis. Kerja keras Colliq Pujie adalah warisan berharga untuk bangsa Indonesia. Tanpa dedikasinya, mungkin kita tidak akan pernah bisa membaca dan memahami kekayaan I Lagaligo. Kisahnya mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Dengan kecerdasan, keberanian, dan semangat juang yang tak kenal lelah, ia telah mengukir namanya dalam sejarah sebagai pahlawan literasi. Penghargaan seperti Bintang Budaya Parama Dharma adalah pengakuan yang sangat pantas atas jasanya. Warisan intelektualnya akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai, melestarikan, dan bangga dengan kekayaan budaya bangsa. Ia telah menunjukkan bahwa satu individu dengan tekad yang kuat dapat membuat perbedaan yang monumental, dan naskah I Lagaligo yang disalinnya adalah monumen abadi bagi dedikasi dan kecintaannya pada budaya. Kisah Colliq Pujie adalah pengingat bahwa masa lalu adalah kunci untuk memahami masa depan, dan para penjaga warisan budaya adalah pahlawan sejati yang memastikan cahaya peradaban tidak pernah padam.

