[CERPEN] Muhammad Lutfi; Kalah

Oleh: Muhammad Lutfi

PERANG Baratayuda telah pecah. Pasukan Kurawa dan Pandawa saling menumpahkan darah di Kurusetra. Tegal luas itu kini menjadi telaga darah untuk para prajurit bangsa Arya. Bangsa yang terkenal akan keberanian dan kemampuannya menaklukan itu.

Arjuna dan Krisna masih berdiri dengan kuda putihnya di atas tumpukan mayat-mayat yang telah berkalang tanah. Arjuna meminta Krisna untuk memacu kuda lebih cepat lagi.

“Begawan Krisna, pacu kuda ini lebih cepat!”

“Lakukan tugasmu Raden Permadi!”

Arjuna semakin menggila. Dia lepaskan panah menembus dada musuh-musuhnya. Para prajurit Kurawa semakin berkurang. Kesaktian Arjuna sang Ksatria pilih tanding itu tak ter-atasi. Hanya Karna lah, yang dapat mengimbangi kesaktian Raden Permadi itu.

Adipati Karna sementara ini masih tertahan tak dapat ikut perang. Begawan Bisma masih mencegah dia ikut dalam medan peperangan. Apabila Adipati sakti itu berani melangkah dan lompat ke Kurusetra, maka Begawan Bisma akan membunuhnya seketika.

Siapa pula yang tidak tahu Bisma. Orang tua yang memilih hidup menjadi petapa tanpa pujaan hati. Dia puja dirinya sendiri. Dia telah semakin sakti, tapi semakin kehilangan cinta. Bisma telah kehilangan cinta dari para Kurawa dan Pandawa.

Pandawa saat ini telah menjadi musuh yang harus dia lawan. Tetapi tak ada keinginan dalam hatinya untuk memusnahkan para Pandawa itu. Dia anggap para Pandawa itu sebagai cucu-cucunya sendiri.

Sementara Kurawa, hanya memperalat Bisma menjadi ujung tombak baja yang tak terkalahkan untuk kKurawa. Para Kstariya Kurawa hanya ingin Bisma membunuh Permadi dan Bima.

Kakek sakti itu yang telah menjadi murid Begawan Parasurama. Kesaktiannya tidak terkira dan sudah mendunia.

Bisma juga semakin menjadi-jadi. Dia lepaskan kesaktian anak panahnya menghancurkan prajurit-prajurit Pandawa. Para prajurit itu semakin mundur dan mati sia-sia.

Raden Permadi semakin mendekat pada Bisma. Dia kuatkan tali busurnya, bersiap melawan Bisma.

“Begawan Bisma, lawanmu adalah aku!”

“Kamu bukan lawanku, Permadi!”

“Kamu musuhku!”

“Aku keluargamu.”

“Kamu sudah membunuh prajurit-prajurit terbaikku. Aku tidak akan tinggal diam. Ini penghinaan bagi Pandawa.”

“Kalau kamu mau mencoba melepaskan panah padaku, maka busurku pun akan melepaskan anak panahnya padamu!”

“Mari kita buktikan!”

Arjuna melepaskan panah-panahnya tertuju pada Bisma. Begawan yang sakti dan tidak terkalahkan itu hanya membiarkan panah-panah itu menuju dadanya. Dia biarkan panah itu lepas landas menuju padanya. Tetapi anak panah itu tidak bisa menembus badan Begawan Bisma.

Dia memang sakti luar biasa. Tubuhnya Begawan Bisma bagaikan baja yang sulit ditembus senjata lawan.

Begawan Bisma adalah seorang sakti mandraguna. Dia dianugrahkan umur panjang dan memiliki ilmu pengracutan: ilmu yang bisa memanggil kematiannya sendiri.

Kapan pun Bisma masih ingin hidup, maka dia akan tetap hidup. Dia bagaikan Dewa bagi Wangsa Barata. Para kaum Barata memujanya.

“Permadi, kesaktianmu sia-sia di hadapanku!”

“Tidak ada yang sia-sia. Permadi akan mencari jalan mengalahkanmu!”

Arjuna atau yang dikenal sebagai Permadi, semakin dibuat malu oleh Begawan Bisma. Dia tak bisa melukai orang tua itu sedikit pun. Arjuna kembali memanggil senjata saktinya. Ajian-ajian dia keluarkan untuk membunuh kakeknya tersebut. Sia-sia saja. Semua senjata dan ajian Permadi musnah di depan Begawan Bisma.

Bisma bagaikan Dewa yang layak dipuja dan diagungkan. Dia pecundangi Permadi hanya dengan duduk di atas kereta kuda tanpa perlawanan.

“Begawan Krisna, aku telah kalah!”

“Belum, Raden Permadi!”

“Aku telah kalah telak dari orang tua itu!”

“Kamu belum kalah, Raden Permadi. Buktinya kamu masih hidup.”

“Aku tak bisa memberikan luka sedikitpun pada tubuhnya yang sudah tua itu. Ilmu milikku belum seberapa dibandingkan dia. Pengetahuan dan waswasannya lebih dalam dan luas daripada aku.”

“Panggil Pasopati!”

“Pasopati?”

“Itu salah satu jalan untuk mengalahkannya.”

“Senjata Dewa itu?”

“Yang mana lagi…”

“Batara Guru memberikan padaku senjata itu bukan untuk membunuh orang yang tidak bersalah.”

“Dia adalah orang yang sangat bersalah!”

“Dia tak bersalah!”

“Dia sangat bersalah sekali, Permadi! Dia lebih bersalah daripada para Kurawa dan Sengkuni. Jika saja dia mau menjadi Raja dan tidak buta pada pengabdian dan politik, maka rakyat akan baik-baik saja. Sebab dia tahu bagaimana cara menjalankan pemerintahan dengan benar.”

“Tetapi itu hanyalah pengandaian!?”

“Ini bukan pengandaian. Tetapi ketepatan. Seandainya jika dia tepat pada kebenaran, maka dia pasti tahu mana yang harus di bela. Dia hanya tepat jika berada di bawah politik. Kamu harus paham apa yang kumaksudkan!”

“Begawan…”

“Lepaskan Pasopati! Bunuh dia di saat yang tepat ini! Aku sudah melihat arwah Nyai Amba bersemayam di ujung Pasopati itu. Panah!”

“Kakek…”

Permadi benar-benar akan melakukan itu. Dia sudah memanggil Pasopati berada di tangannya. Dia siapkan Pasopati itu untuk menerjang dada Bisma. Arwah Dewi Amba yang penuh dendam kepada Bisma, melayang-layang merasuki Pasopati. Amba masih menghantui pikiran Bisma.

Bisma mulai merasakan alam bawah sadarnya memanggil-manggil. Nyai Amba muncul di depannya sebagai sebuah kabut. Dia berbicara kepada Begawan Bisma dengan penuh dendam.

“Bisma, sekarang kematianmu telah tiba!”

“Nyai Amba…”

“Sekarang kamu akan bersemayam denganku di kayangan. Anak panah yang telah menembus badanku sehingga membuat aku mati itu, harus kamu terima juga rasa dan tragedi kematian yang seperti itu, Bisma! Aku menjemputmu. Lepaskanlah nyawamu, hilangkan kesaktian yang akan menghalangi jalannya dirimu untuk moksa.

Pasopati akan menjadi tangan Batara Guru untuk mengantarkanmu sampai pada kesempurnaan. Aku sudah siap menantimu di Kayangan!”

Bisma teringat beberapa puluh tahun yang lalu, ketika tanpa sengaja anak panahnya menembus badan Nyai Amba dan membuatnya meninggalkan dunia. Nyai Amba tidak mau meninggalkan dunia sebelum Bisma menemaninya ke Nirwana. Amba menjelma menjadi kabut. Setelah berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada Bisma, kabut itu pudar dan menghilang.

Bisma meneteskan air mata. Sebagai seorang Begawan dan Panglima yang sakti tanpa tandingan, kini dia harus merasakan kekalahan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Bisma. Tetapi, kini Nyai Amba telah menjemputnya.

Bisma harus menerima kenyataan, jika memang dia harus dikalahkan dengan caranya sendiri.

Bisma mulai melepas baju besi di dadanya. Dia lepaskan segala kesaktian dan ilmunya kembali ke tanah. Dia terduduk kembali dan meneteskan air mata.

Air mata dari seorang Panglima sakti yang akhirnya menerima kekalahan. Kekalahan yang baru kali ini dia rasakan sebagai seorang juara sejati.

Permadi dan Krisna sudah melihat tanda akhir hidup dari Bisma. Krisna tak ingin Permadi terbawa suasana dan menyia-nyiakan Pasopati begitu saja.

“Permadi, jangan kamu sia-siakan Pasopati! Itu senjata Dewa yang harus kamu gunakan dengan baik dan benar!”

“Aku pasti merasa berdosa.”

“Kamu tidak berdosa. Kamu hanya menjalankan kewajibanmu. Apakah kamu ingin melihat, korban bertambah banyak dari kemarahan Bisma? Apakah kamu tidak ingin menghentikan pertumpahan darah?

“Pasopati, lakukan tugasmu!”

Arjuna akhirnya melepaskan Pasopati. Dia perintahkan Pasopati untuk menembus dada Begawan Bisma. Nyai Amba yang sudah siap menjemput Bisma, mengubah wajah Pasopati menjadi wajahnya yang selalu diingat Bisma.

Bisma melihat Pasopati dengan cahaya biru sudah dilepaskan Permadi. Senjata itu sudah melesat menuju pada dadanya. Yang dilihat Bisma bukanlah Pasopati, tetapi Nyai Amba yang melesat padanya dan ingin memeluknya. Nyai Amba berlari ingin memeluk Bisma. Bisma membuka pelukan untuk Nyai Amba yang dia rindukan itu.

Pasopati akhirnya menembus badan Bisma. Bisma terbaring ke tanah. Dari badannya tertumpah darah ke Tegal Kurusetra.

Yang dilihat Bisma bukanlah Pasopati, tetapi Nyai Amba yang memeluknya. Bisma menangguhkan kematian sekali lagi, dia meminta kematiannya jika Baratayuda sudah selesai. Dan ingin melihat siapakah yang memang benar. Dia berbaring di Kurusetra setelah menerima kekalahan, ditemani Amba di sisinya.

Pati, 2020

 

*Muhammad Lutfi, Sastrawan Indonesia dari Jawa Tengah. Karya-karyanya dapat dicari di toko buku dan internet.

 

Baca juga:

 

Leave a Reply