[PUISI] Moehammad Abdoe; Hujan Pertemuan

Oleh: Moehammad Abdoe

 

MENGEJA ALAM

sedari hulu sungai mengalir
menyesali sumbu matamu yang perlahan mulai menyela
telah kemudian kautulis namaku pada selembar daun kizib pagi hari
bahagia tercurah
matahari terbit dan siluet bulu mata siang terbakar
juga barangkali awan di langit lazuardi itu lantas berkaca di laut
mengenang kembali wajah ombak
dan namaku
mengeja dua mata angin saling berkarung duka
kapal-kapal busung dalam ceruk renungan
pasir pantai
sementara pigmen barat seperti genangan darah
menggantung di sudut waktu paling sunyi
ayunan menjelang malam

Malang, 21 November 2020.



MUSAFIR

dalam sebuah cermin buram kamar tua
sepotong replika wajah seorang pengembara dari negeri asing:
“kau terduduk serupa patung denganku”
sementara poros telaga bening matamu
terkatup dinding teratai.

barangkali sejenak dapat kuselami di balik wujud siapa dirimu sebenarnya
yang menempuh jalan suluk menuju altar
pengabdian diri dalam rimba
sedang kemilau rona swastamita acapkali menempelkan cumbu rayunya pada kaca.

serupa tempias hujan pelabuhan angin di balik kaca jendela
itu wajahmu semakin tampak menua
mengerut daun telinga sore hari dalam zikir masa berkunjung
larut serta melipat laju bayangmu kian memanjang.

Jakarta, 19 Oktober 2020.



HUJAN PERTEMUAN

suatu ketika hujan menahanmu
di ujung bulu mata panas
kita berdua berteduh mendekap tubuh cuaca
saling menatap beku hulu kenangan
mengalir ke rimba hilir
dan betapa ingin segera kubasuh
garis tanganmu

namun barangkali aku hanyalah angin bagimu
dari satu pohon ke lain daun
melompat dari satu mata ke lain hati
membagi kasih

Jakarta, 23 Oktober 2020.



WANITA JALANG

di bawah terik siang bulu
picing matamu bibir bunga
teduh payung sungai daki
berlinanglah cuaca terbuka

mengalir menyusuri ruang
akar beringin rindang waktu
dan bangku taman kosong
labalaba merajut jaring

bila esok kaujelang wajah baru
mentari di balik rerimbun
kenanglah diriku sampai jauh
bertepi di pelabuhan bunga

Jakarta, 13 November 2020.

 

JATUH CINTA

entah bagaimana mulanya aku mencintaimu
laksana daun gugur yang tidak sempat menyentuh tandus
sebab angin segera membuangnya ke tengah samudra
kemudian memecah bersama gulungan-gulungan ombak
lautan asmara

Pulau Buru, 21 Februari 2018.



Moehammad Abdoe, anggota komunitas Dari Negeri Poci. Pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka (PDM 2015) dengan gerakan yang mengangkat tema-tema sosial dan seni musik jalanan. Karyanya berupa puisi dan cerpen terbit di berbagai media massa Indonesia maupun luar negeri, antara lain: News Sabah Times, Utusan Borneo, Harian Ekspres, Suara Sarawak, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Republika, Koran Merapi, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Riau Pos, Tanjunpinang Pos, serta diabadikan di pelbagai buku antologi bersama. Saat ini, ia masih singgah di sebuah desa kecil di bawah lereng bukit kapur (Kalipare-Malang).  No. Tlp/Whatsapp: 085730551400. Surat elektronik: moehammadabdoe@gmail.com.

Leave a Reply