Sastra
[Cerpen] Beni Setia ; Perasaan Zombie
GERIMIS hanya tipis saat akan turun dari truk (jemputan) pabrik, lantas ménuruni tangga belakang, setengah melompati undakan terakhir, dan berlari ke celah warung tenda pinggir jalan —sambil teriak menyuruh jemputan jalan. Bersipergokan dengan Yatno, satpam Kelurahan, yang sedang memungut retribusi menjajakan makan, pada Natsir.
“Ada rokok ’nganggur, om?” katanya, lucu, seakan ada rokok yang tersia dan pantasnya diabaikan. Aku tersenyum, me-ngeluarkan bungkus rokok, ŷang hanya tersisa dua, dan menyerahkannya padanya setelah meng-ambil sebatang. ”Penyempurna makan,” kataku. Yatno tertawa—”Betul!”
Aku berteriak kepada Marni, istri Natsir, minta disiapkan menu biasa makan malam—se-piring nasi, sekerat tempe dan sekerat tahu dengan dua senduk kuahnya dan juluran bihunnya yang tersenduk; dan teh panas. Sesaat kemudian Natsir berteriak memanggil—aku menenggok, dan sesaat terlihat bercakäp dengan tamunya, orang asing yang baru terlihat dan sedang menung-gu segelas kopi ŷang diantar Natsir.
“Ini ada temannya,” teriak Natsir—aku mengernyit, apakah aku mengenalnya, apa ia pernah ke sini dan diperkenalkan pädanya? Aku mendekat, meneliti—wajah yang asing—, dan tersenyum sambal mengulurkan tangan. Bersalaman. ”Siapa ya?” kata-ku. ”Pangling?” katanya, ”—aku Gandi. Kita satu SMP. Di Grontolia, 35 tahun lampau.” Aku perlahan menganguk—terbayang, ia anak Camat sehingga bisa nyaman ke PT; sēdang aku harus puas dengan ijazah SMP, lalu ménganggur meski ingin lanjut, lalu kerja di pabrik, menikah, punya anak dan bercerai, menikah lagi dan punya anak lagi dan bercerai lagi, menikah lagi dan punya anak lagi dan bercerai lagi, dan tetap jadi buruh dengan ketakutan di usia semakin tua ini: dipensiun sebagai reruntuk tidak berguna, bahkan tanpa bisa membiayai lagi makan sehàri-hari.
“Mili yang cerîta, bahwa sepulang kerja kamu pasti makan di sini.”
“Duda—bujangan tua. Sekalian pulang ke kamar kos—dan boleh ’ngutang.” kataku, ”—ini menu akhir bulan, menu ngebon, baru sételah gajian bisa pesan telur bundar, telur dadar, atau mujair goreng.” Gandi tersenyum. Melambai memanggil Marni, dan memesan telur semur, ayam goreng—dalam dua piring yang minta didahulukan—, dan sepiring nasi dengan sambal. Dan mempersilahkan begitu itu tiba. ”Ayo—àku yang traktir,” katanya. Aku mengucapkan terima kasih—meski agak ragu karena itu akan mengganggu kebiasaan rutin ekonomi makan—, mengambil telur, gizi tambahan yang diperlukan orang di usia tua.
“Kamu sekarang di mana?” kataku. Gandi tersenyum, ia bilang jadi ASN di Srababu, dan mutasi ke provinsi untuk promosi sambil mengambil S2. ”Sebelum pensiun,” katanya. Aku tersenyum—dan mengangguk. Menyalakan rokokku yang sebatang—menolak tawaran rokoknya, dan tawaran tambahan makan mesti masih lapar, karena aku terbiasa berhenti (makan) sebelum kenyang.
“Kita mau reuni. Datang, ya?”
Aku mengepulkan asap rokok—terbayang masa indah 35 tahun lalu, terbayang kalau kami itu ada 4 kelas dengan masing-masing terdiri dari 34 siswa. Aku memenjam, hanya berapa teman bisa ditemui lagi dalam 35 tahun ini—bahkan Ahmad, teman akrabku, yang tidak pernah tersua lagi karena pergi ke Brivta.
Aku menghela nafas—apa yang bisa dibanggakan dari hidupku, apa yang bisa mereka banggakan dari hidupku? Nol! Tapi, meski begitu, aku tetap tersenyum. Menganggukkan kepala dan gaîrah bertanya ini dan îtu—bahkan menyertakan alamat surat, nomor HP, dan minta taksiran biaya—”Aku harus ’nabung,” kataku. Gandi tertawa senang—aku menañgis dalam batin, haruskah kegagalan hidup dipertontonkan, haruskah kepahitan dipertun-jukkan? Aku memenjam. Lantas rokok habis. Aku menyambung dengan rokok Gandi—rokok mewäh, yang bîsa diisap secara gratis. Mengantar Gandi ke celah pintu warung tenda. Berdadah-dadah, dan menangis. dalam sepi—sendiri dan selalu sendirian.****
Pengarang: BENI SETIA
E-Mail: [email protected]
Ilustrasi : www.freepik.com

