Connect with us

Kolom

Pengaruh Video Pendek Terhadap Pemahaman Akidah Gen Z

Published

on

Spread the love

Oleh: Jusman 

(Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Alauddin Makassar)

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang serba cepat, Generasi Z tumbuh dengan kebiasaan mengonsumsi informasi dalam format yang singkat, instan, dan visual. Melalui platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebagai sumber belajar, termasuk dalam hal keagamaan (H et al., 2025).

Fenomena ini melahirkan kecenderungan baru pada Gen Z, banyak anak muda lebih memilih menonton video pendek berisi potongan ceramah, kutipan ayat, atau penjelasan akidah yang disajikan dalam durasi singkat, ketimbang mengikuti kajian lengkap atau menonton video panjang yang mendalam (Fauzi, 2025). Sebagaimana hasil interview dengan beberapa Gen Z, salah satunya menyatakan bahwa:

“Saya merasa jenuh ketika melihat kajian atau ceramah secara langsung atau menonton video panjangnya di youtube, saya lebih nyaman menonton video yang berdurasi pendek di TikTok, Instagram dan Short Youtube karena lebih mudah diakses, simpel dan tidak membosankan.”

Tidak dapat dipungkiri Gen Z cenderung lebih suka menyaksikan video pendek yang berdurasi kurang dari tiga menit, karena mudah di akses dan bisa memberikan kepuasan instan. Hal ini membuat video pendek menjadi populer dan banyak dikomsumsi oleh publik (Fauzi, 2025). Namun, perubahan ini juga mempengaruhi cara Gen Z memahami ilmu agama salah satunya dapat membuat pemahaman akidah dangkal karena terjadi misinterpreasi dan informasi yang diteima tidak lengkap. Salah satu penelitian dalam sebuah jurnal menunjukkan bahwa semakin banyak Gen Z yang salah memahami akidah melalui informasi di media sosial tanpa pengkajian lebih lanjut.

Dari sisi psikologis George Miller (1920-1012) menunjukkan bahwa banyaknya informasi yang diterima Gen Z dengan beragam informasi yang berbeda membuat otak sulit menyusun pemahaman yang utuh yang di mana kondisi ini dikenal sebagai cognitive overload (Haqi, 2023). Selain itu, Gen Z juga cenderung mencari dan menonton konten yang menikuti kepopuleran, yan disebut confirmation bias. Hal tersebut membuat Gen Z sulit menerima pandangan lain dan memperkuat pemhaman yang belum jelas kebenarannya.

Di satu sisi, hal ini memang memudahkan akses terhadap pengetahuan agama. Namun, di sisi lain, kandungan akidah yang kompleks dan sistematis berisiko tereduksi menjadi sekadar “soundbite” atau potongan tanpa konteks (Saili, 2025). Akibatnya, pemahaman yang terbentuk sering kali bersifat parsial, dangkal, dan rentan terhadap terjadi misinterpretasi (Wahyuddin, 2025).

Konten yang dikemas menarik namun tanpa penjelasan utuh dapat menimbulkan pemahaman yang dangkal terhadap konsep ketuhanan, takdir, atau syariat. Lebih jauh, algoritma media sosial cenderung menciptakan “echo chamber” atau ruang gema, di mana pengguna hanya disuguhi satu perspektif tertentu, sehingga mempersempit wawasan keagamaan dan berpotensi memicu sikap fanatisme tanpa dasar ilmu yang kokoh.

Menghadapi realitas tersebut, pemikiran kalam modern muncul sebagai kerangka responsif yang mampu menjembatani kesenjangan antara kedalaman akidah dan budaya digital yang serba cepat. Dengan pendekatannya yang rasional dan dialogis, Kalam Modern tidak serta-merta menolak medium video pendek, melainkan menawarkan cara untuk memaknainya secara kritis.

Pertama, melalui penekanan rasional, kalam modern mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menyerap konten secara pasif, tetapi juga aktif merenungkan, mempertanyakan sumber, dan melengkapi informasi dari video pendek dengan pengkajian lebih lanjut dan menyeluruh.

Kedua, Kalam Modern mendorong dialog interdisipliner antara teolog, psikolog media, dan komunikasi digital untuk merancang konten video pendek yang tidak hanya menarik, tetapi juga substantif misalnya dengan menyertakan konteks, argumentasi, dan referensi yang dapat ditelusuri (Ahmad, 2012).

Ketiga, dengan semangat kontekstualisasi, Kalam Modern membantu menyajikan prinsip akidah dalam bingkai yang relevan dengan kehidupan kekinian Gen Z, seperti mengaitkan tauhid dengan tanggung jawab sosial di dunia digital atau menjelaskan takdir dalam kerangka motivasi dan ikhtiar.

Dengan demikian, Kalam Modern berperan sebagai filter keimanan yang mengajak Gen Z untuk tetap kritis dengan selalu menyaring informasi dan pemahaman yang didapatkan di media sosial serta bersifat terbuka dalam memahami akidah. Dengan begitu Gen Z dapat memanfaatkan teknologi secara bijak untuk memperkuat, bukan melemahkan, pondasi keyakinan mereka.

Kehadiran teknologi digital dan media sosial termasuk video pendek merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari, kehidupan manusia di era modern ini tidak bisa lepas akan kebutuhan penggunaan teknologi dan perlu untuk selalu beradaptasi dengan perubahan dinamika kehidupan yang dihadapi. Namun terlebih dahulu perlu dipahami perbedaan antara “beradaptasi” dengan “hanyut”. Terkadang seseorang merasa sedang beradaptasi terhadap perubahan atau sesuatu yang baru, namun kenyataannya mereka malah hanyut atau terbawa arus dengan hal tersebut. Terlebih lagi jika sudah menyentuh aspek keagamaan yang bersifat sensitif.

Jadi, permasalahannya bukan pada teknologi atau media sosialnya, tetapi bagaimana cara individu pengguna teknologi itu bisa memanfaatkannya dengan bijak, mampu menyaring dan mendalami informasi yang diperoleh melalui media sosial, tidak menerima dengan mentah-mentah sehingga manusialah yang mengontrol teknologi bukan malah sebaliknya teknologi yang mengontrol kita.

Oleh karena itu, ke depannya, diperlukan upaya kolaboratif antara para teolog, pendakwah, pakar media, dan generasi muda sendiri untuk menciptakan ekosistem konten keagamaan digital yang sehat. Dengan semangat kalam modern yang rasional, dialogis, dan adaptif kita dapat menjaga keimanan tetap kokoh, sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan kedalaman dan autentisitas pemahaman agama. Pada akhirnya, tujuan utama bukan hanya memahami akidah dengan benar, tetapi juga menghidupkannya dalam praktik keseharian yang penuh dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.