[Puisi] Kanya Prasetyo; Membaca, Mengeja

Membaca, mengeja

 

Aku ingin mengeja namamu
Lalu menyunggingkan senyum di bibirmu
Aku ingin mengeja hatimu
Lalu tersirat pesan untukmu
Aku ingin membaca pikirmu
Lalu meletakkan anganku di matamu
Aku ingin membaca dirimu
Lalu berteduh di sudut hatimu

Aku ingin segera sampai
Merajut kasih yang tak usai
Merengkuh peluk yang berbalas
Enggan berpisah di jam duabelas

 

Aku Meletakkan Rindu di Tepian

Aku meletakkan rindu di tepian
Kau bagiku angan-angan
Dibawa angin, berlayar jauh dari tujuan
Membuang sauh di lautan

Buih-buih air mata bercucuran
Melagak melengkapi kesendirian
Kata rindu mengapung di perairan
Merebak kapalku nun jauh di pelabuhan

Aku gentar mengingkari takdir
Mengingkari kau yang tak ingin
Sampai hati berlindung di balik gigir
Sampai nanti jasadmu dingin

 

Aku Adalah Puisi

Aku adalah puisi yang tak lagi kau baca
Rangkaian kalimat yang tak lagi bercerita
Barisan-barisan kata yang tak lagi kau cerna
Huruf-huruf alfabet yang tak lagi kau eja

Aku adalah puisi yang kembali dari ruang kosong di hatimu
Jemariku hampa, lidahku kelu
Pesanku berujung keluh
Berakhir di tong sampah WhatsApp-mu

Aku adalah puisi yang sempat membikin iri
Yang mengundang tawa, kemudian membangun asumsi
Padahal ia tak pernah menaruh arti
Hatinya bukan untukku sendiri

 

Kanya Prasetyo lahir di Malang 27 tahun lalu dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota kelahirannya. Penulis menyukai dunia kesusasteraan sejak SD dan mulai menulis puisi sejak SMP.

Leave a Reply