Puasa Mendidik Meneladani Allah dalam Sifat-Sifat-Nya

Oleh Mardan

Al-Asmâ al-Husnâ Allah adalah nama-nama-Nya yang terbaik dan agung, yang sekaligus sebagai sifat-sifat-Nya, yang jumlahnya 99 nama terbaik.

Dalam HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda, yang terjemahnya “sesungguhnya Allah swt. mempunyai nama-nama yang terbaik dan agung sebanyak 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang mengetahui dan mengamalkannya, ia masuk surga.”

Sehubungan dengan hal itu, dalam al-Qur’an manusia diperintahkan untuk berdo’a kepada-Nya melalui nama-nama-Nya yang agung tersebut.

Allah berfirman dalam QS al-A’râf,7:180, yang terjemahnya “hanya milik Allah al-asmâ al-husnâ, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asmâ al-husnâ itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka telah kerjakan).

Usaha meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya

Puasa adalah ibadah yang bermula dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak bercampur dengan pasangan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Mukmin berpuasa, yang tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan dan memberi hidup bagi sesamanya lewat berinfak dan bersedekah, pada hakekatnya, sudah meneladani Allah swt. dalam sifat-sifat-Nya berkaitan dengan puasa, Yang tidak makan dan tidak minum, akan tetapi Dia juga senantiasa memberi makan dan kehidupan bagi makhluk-makhluk-Nya lewat menganugerahkan aneka rezeki, sebagaimana firman-Nya dalam QS al-An’âm/6:14, yang terjemahnya seperti berikut, “Katakanlah: apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan”.

Pada sisi lain, Allah swt. menegaskan dalam QS al-An’âm/6:101, yang terjemahnya seperti berikut, “bagaimana Dia (Allah) memiliki anak padahal Dia tidak memiliki teman (pasangan).”

Dua ayat di atas menekankan bahwa di samping Dia (Allah) tidak makan dan tidak minum, akan tetapi Dia juga senantiasa memberi makan dan kehidupan bagi makhluk-makhluk-Nya lewat menganugerahkan aneka rezeki kepada mereka; juga menyatakan bahwa Allah swt. tidak beristeri dan tidak beranak, meskipun Dia senantiasa memperkembangbiakkan makhluk-makhluk-Nya yang tiada putus-putusnya.

Hal itu semua juga tergambar dalam perilaku hidup sehari-hari mukmin yang berpuasa, tentu sesuai kemampuannya meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya, bahwa ketika berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, di samping tidak pernah melakukan hubungan badan dengan pasangannya di siang hari puasa, ia pun juga tetap terus tanpa henti-hentinya berinfak dan memberi hidup dan kehidupan terhadap sesama tanpa memilah muslim dan/atau non-muslim, terutama terhadap para tetangga dan mereka para korban PHK akibat Pandemi Covid-19 yang tidak sedikit jumlahnya, yang memang sangat membutuhkan keberpihakan, suppor, serta perhatian khusus dari mereka dalam memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari, seperti yang terjadi dan kita saksikan secara langsung saat ini.

Model muslim (orang yang menyandang sifat damai) yang berpuasa seperti di atas, paling tidak dituntut, bahwa bila ia belum dapat memberi manfaat kepada selainnya, maka jangan sampai ia mencelakakannya.

Kalau ia belum mampu untuk memberi, maka paling tidak ia tidak mengambil hak-hak orang lain. Kalau ia belum mampu menggembirakan pihak lain, maka paling tidak ia tidak meresahkannya, dan kalau ia belum mampu memujinya, maka minimal ia tidak mencelanya.

Sikap seperti inilah paling tidak yang diharapkan dari muslim berpuasa, sebagai salah satu model meneladani Allah swt. dalam sifat-sifat-Nya. Model kedamaian inilah yang dinamai oleh Fazlur Rahman al-salam al-salbi (damai pasif).

Nanti setelah itu, ia meningkat ke al-salam al-ijabi (damai positif), yakni sudah mampu memberi sesuatu.

Lalu damai positif ini pun meningkat hingga mencapai puncaknya dengan nama ihsan, yakni memberi sesuatu lebih banyak dari yang seharusnya diberikan, serta menerima sesuatu lebih sedikit dari yang seharusnya diterima.

Apabila sikap seperti ini sudah mewarnai kehidupan manusia berpuasa Ramadhan di Indonesia, insyaallah, Pandemi Covid-19 akan segera berlalu, dan Bangsa Indonesia dalam waktu tidak lama akan maju tanpa ada penghalang.

Dengan sifat-Nya al-Rahmân (Pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), orang yang berpuasa melatih diri untuk meneladani Allah dalam sifat-Nya al-Rahmân tersebut, dengan memberi kasih kepada sesama dan lingkungannya tanpa kecuali.

Dengan sifat-Nya al-Rahîm (Pelimpah rahmat di hari kemudian), orang yang berpuasa juga meneladani-Nya dengan memberi kasih kepada saudaranya seiman, seraya meyakini bahwa tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya yang di hari akhir itu dapat diraih. Dengan sifat-Nya al-Quddûs (Maha Suci), orang yang berpuasa juga meneladani-Nya dengan menyucikan diri secara lahir dan batin serta mengembangkan diri, sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar.

Dengan sifat-Nya al-‘Afwu (Maha Pemaaf), orang yang berpuasa juga akan selalu bersedia meneladani-Nya dengan memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hati terhadap yang pernah dilukainya. Dengan sifat-Nya al-Karîm (Yang Maha Pemurah), orang yang berpuasa juga akan menjadi dermawan.

Dengan sifat-Nya al-‘Adl (Maha Adil), orang yang berpuasa juga hendaknya menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri, yakni meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama, bukan menjadikannya tuan yang mengendalikan akal dan agama. Karena jika demikian, ia tidak berlaku adil, yakni tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional.

Hikmahnya

ramadan

Meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya yang terbaik menyimpan sejumlah hikmah, di antaranya: (1) dapat menjalin hubungan dengan Allah swt. lebih erat melalui perenungan dan peresapan akan makna dan semangat yang tercakup di balik nama-nama terbaik bagi-Nya; (2) dapat menjadikan kualitas-kualitas Ilahiyah yang terkandung dalam al-asmâ al-husnâ Allah itu sebagai titik pedoman pengembangan berbagai kualitas pribadi menuju terbangunnya akhlak-akhlak mulia;

(3) sebagai salah satu wujud keberagamaan yang benar; (4) berdo’a lewat menyebut nama-nama-Nya yang agung itu sedapat mungkin maqbûl karena perintah langsung dari Allah; (5) dapat menghindarkan diri dari penyalahgunaan nama-nama yang agung itu, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Qur’an di atas, yakni dengan menjadikannya sebagai jimak; (6) Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji tempat bergantung seluruh makhluk. Dalam QS Fâthir/35:15, Allah berfirman, yang terjemahnya adalah “Hai manusia! Kamulah yang butuh kepada Allah; dan Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Terpuji”.

Manusia, betapapun kuasa dan kuatnya, pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan, dan kebutuhan. Memang pada saat kekuatan dan kekuasaan itu menyertainya, banyak yang tidak merasakan sedikit pun kebutuhan akan Allah swt. Akan tetapi ketika kekuasaan dan kekuatan itu meninggalkannya, mereka pun merasa takut dan cemas, dan pada saat yang sama, mereka pun membutuhkan sesuatu dari Tuhan mereka.

Akhirnya, puasa orang-orang mukmin memang memiliki energi yang excellent meneladani Allah swt. dalam sifat-sifat-Nya, sehingga dengan melihat hikmah-hikmahnya di atas, insyaallah bangsa Indonesia ke depan akan segera terbebas dari Pandemi Covid-19 serta maju tanpa ada penghalang, dan keluar menjadi alumni-alumni Ramadhan, yang menyandang predikat sebagai hamba-hamba-Nya yang muttaqin, yang telah dijamin meraih pengampunan dan surga-Nya. Semoga!

No Responses

Leave a Reply