Connect with us

Peristiwa

Lantunan Dakwah Pemuda Pemudi Islam Sebagai Pilar Utama Memajukan Peradaban Islam dan Mempertahankan Kebenaran di Akhir Zaman

Published

on

Spread the love

Oleh : ALFINA RIYANTI HARIS

Pada zaman modern seperti sekarang ini, tentu kita semuanya sudah tak asing lagi dengan kata generasi muda. Generasi muda atau yang lebih dikenal oleh pemuda pemudi masa kini sebagai generasi Z atau young generation merupakan kumpulan anak-anak muda yang memiliki jiwa patriot dan semangat yang tinggi dalam rangka memajukan pembangunan Bangsa Indonesia dengan upaya mencerdaskan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Menurut Widiyono, 2019 kata generasi muda berasal dari 2 kata yang memiliki makna majemuk, makna dari kata kedua adalah sifat atau kondisi dalam suatu kelompok individu yang masih berusia muda dengan tanggung jawab dan amanah yang dibebankan kepadanya berbagai aktivitas kemasyarakatan dalam rangka membangun Bangsa menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang (Widiyono, 2019). Generasi muda menjadi harapan sebuah Bangsa dalam mewujudkan cita-cita dan sebagai pemegang nasib dari suatu Bangsa sebab mereka yang seharusnya meneruskan estafet kepemimpinan dan perjuangan para generasi kita terdahulu.

Untuk mewujudkan Bangsa yang sejahtera maka generasi penerus harus dibekali dan dilandasi dengan ilmu dan ajaran Islam yang kokoh. Pemuda pemudi Bangsa Indonesia diharapkan layaknya menjadi sebuah permata yang tetap berperan sebagai penerang dan pelita dalam menyuarakan kebenaran menurut ajaran Islam ditengah suramnya kehidupan anak muda zaman sekarang yang banyak berkaitan dengan pergaulan bebas.

Hendaknya para muslim dan muslimah dapat menahan diri dari segala godaan di zaman sekarang yang dapat membuka jalan bagi mereka untuk masuk dalam pintu kemaksiatan. Untuk membentuk insan dan pribadi yang sholeh dan sholehah tentu dapat diterapkan sejak dini oleh keluarga terkhususnya para orang tua dalam mengajarkan ilmu agama yang sempurna pada anak-anaknya.

Sebab, di zaman sekarang banyak terjadi kebobrokan moral yang terus menerus menggerogoti para remaja yang sejatinya ini merupakan pengaruh budaya-budaya barat yang sengaja untuk membunuh karakter para pemuda dan remaja Indonesia saat ini sehingga sangatlah mungkin untuk menghancurkan pemuda Islam yang pada akhirnya dapat menyimpang dari aturan Islam yang ada.

Apabila dibandingkan dengan kemurnian ajaran Islam di zaman dahulu sangat disakralkan akan tetapi, sekarang malah terkesan biasa-biasa saja. Hal inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab para generasi muda Islam penerus Bangsa Indonesia bersatu padu dan berupaya untuk menangguhkan kebenaran serta membangun kembali peradaban yang lebih baik, Tentunya hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai upaya salah satunya adalah dengan jalan berdakwah.

Menurut Daulay & Handayani, 2020 dilihat dari segi etimologinya, menurut para ahli dakwah berasal dari kata da’a-yad’u-da’watan yang memiliki arti memanggil atau menyeru, dengan artian ajakan, seruan, undangan, panggilan. Sedangkan secara termologis, dakwah diartikan dengan mengajak atau mengundang manusia untuk berada di jalan Allah SWT. Pemuda islam di era millennial ini dapat menjadi pemrakarsa lahirnya gerakan-gerakan dakwah tentang ajaran Islam di tengah maraknya kehidupan akhir zaman yang dipenuhi dengan kehidupan yang serba mewah dan remajanya yang lebih suka berfoya-foya dibanding menghadiri kajian-kajian tentang Islam di masjid.

Gerakan-gerakan dakwah yang dipelopori oleh anak-anak muda Islam di Indonesia hendaknya mengikuti trend perkembangan zaman agar masyarakat tidak menganggap dakwah yang diperdengarkan terlalu klasik sehingga mereka tidak tertarik untuk mengikutinya. Di era modernisasi sekarang ini, kemajuan teknologi sangat pesat sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh generasi muda untuk mengemas sebuah dakwah menjadi tausiyah yang lebih modern namun tetap berpedoman pada ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Selain mengadakan kegiatan dakwah yang berlangsung secara langsung, dakwah para anak muda zaman sekarang dapat didukung oleh media sosial seperti Youtube, Instagram, dan lain sebagainya yang dapat memuat video berdurasi panjang yang berisi terkait dengan ajaran Islam berupa perilaku atau perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT serta anjuran untuk melakukan perintah Allah SWT.

Mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh sang pendakwah adalah hal yang tidaklah mudah namun kalau bukan generasi muda Islam di zaman sekarang yang melakukannya sejak dini siapa lagi yang akan melakukan seruan di jalan yang lurus dan tetap kokoh pada kebenaran di era millennial.

Remaja saat ini yang adalah remaja di kehidupan akhir zaman yang kehidupannya banyak yang jauh dari agamanya sendiri (Islam) akibat tidak dibekali dengan ilmu agama yang kuat. Misalnya saja tontonan yang mereka lihat menyuguhkan drama-drama percintaan yang jauh sekali dengan ajaran Islam yakni adanya larangan berzina atau berpacaran sementara dalam drama tersebut di pertontonkan adegan-adegan yang tidak selayaknya dilakukan oleh kedua orang yang belum memiliki hubungan suami istri dan pada akhirnya banyak yang menjadikan hal pacaran sebagai hal yang normal saja dan akan ditiru dalam kehidupan nyata.

Generasi muda saat ini dijadikan sebagai objek propaganda sekaligus objek pasar sebab pemuda sekarang banyak terpengaruh dari budaya mulai dari segi food, fashion, dunia barat yang banyak bertentangan dengan Islam. Sehingga inilah pentingnya para pemuda dibekali ilmu agama yang kuat serta berlandaskan iman dan taqwa yang tangguh untuk melantunkan dakwah-dakwah mereka bahwa pedoman hidup kita yakni Al-Qur’an yang mulia menunjukkan bahwa semua perkara yang dilarang oleh Allah SWT dalam Islam pasti membawa kepada keburukan dan kerusakan, sebagaimana semua perkara yang diperintahkannya pasti membawa kepada kebaikan, kedamaian, kesejahteraan dan kemaslahatan. Para muslim dan muslimah inilah yang memiliki peran besar untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai pegangan bahwa hal-hal yang telah disebutkan di dalamnya baik itu larangan maupun perintah tidak perlu lagi melibatkan pendapat manusia untuk menentukan apakah sesuatu itu haram atau halal.

Kemurnian islam di akhir zaman juga tampaknya mulai memudar sebab misalnya jika anak-anak muda yang melakukan dakwah mereka biasanya dianggap bahwa orang yang berdakwah hanya boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki kedudukan dan ilmu yang tinggi seperti para kiai sepuh, ulama, habib dan lain sebagainya. Dan saat ia sadar bahwa ia tidak termasuk dari golongan tersebut, ia merasa tidak pantas untuk berdakwah, sehingga godaan dan bisikan ini membawa seorang pemuda Islam berada pada perasaan rendah diri sehingga merasa enggan melakukan dakwah.

Sebagai generasi muda yang masih memiliki semangat tinggi kita tak perlu malu menyampaikan atau menasehati dengan cara yang baik orang yang bertentangan dengan Islam. Selain berikhtiar teruslah memanjatkan doa agar anak-anak muda Islam saat ini diberi pertolongan dan perlindungan oleh Allah SWT dalam mengajak orang lain menegakkan kembali peradaban Islam yang sakral dan murni seperti dahulu kala. Kaum muslimin di era millennial dituntut untuk berusaha memurnikan kembali ajaran agama kita dan membersihkannya dari kotoran dan noda-noda yang telah melekat lama di tubuhnya. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan upaya tashfiyah (memurnikan).

Pemuda pemudi Islam saat ini jangan mudah terbuai dengan perilaku-perilaku yang dianggap biasa namun malah hal itu menjadikan kita hamba Allah yang terjerumus dalam kemaksiatan. Sebab, kita semua tengah hidup di akhir zaman kita tidak akan pernah tahu kapan dunia dan segala isinya ini akan berakhir. Sehingga manfaatkanlah waktu muda sebagai masa-masa emas kita dalam menyerukan dan menggemakan lantunan dakwah Islam di seluruh penjuru tanah air. Jadikan pemuda zaman now sebagai penopang kemajuan peradaban Islam yang memiliki rasa kepekaan yang besar untuk memperbaiki kondisi masyarakat (terutama dalam masalah agama) secara hikmah, serta mampu memecahkan problema yang dihadapi masyarakat (problem solver).

Seperti kata-kata yang diungkapkan oleh Dawuh Buya Yahya, “Orang yang berdakwah sejatinya ialah mengajak orang lain pada Allah, maka hendaknya ia harus mengenal Allah. Jika ia tidak mengenal Allah, maka saat berdakwah ia hanya sedang mengajak orang lain pada dirinya sendiri, bukan kepada Allah swt.” Jadi sebelum kita berdakwah penting untuk generasi muda membekali dirinya dan memiliki ilmu serta menyadari takaran ilmu yang dimiliki, sehingga kita tidak berdakwah di luar kapasitasnya, yang malah sejatinya hanya akan menjauhkan orang lain dari Allah swt, wal’iyyâdz billâh.

Bahan Bacaan
Aisyah, N., & Rofiyah, S. 2022. Dakwah Modern Pada Era Konvergensi Media: Studi Kasus Youtube Pondok Pesantren

Nurul Jadid. Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, vol. 8, no. 2, hh. 110-126.

https://www.ejournal.iaisyarifuddin.ac.id/index.php/dakwatuna/article/view/1632 [diakses tanggal 28 Desember 2022].

Widiyono, S. 2019. Pengembangan Nasionalisme Generasi Muda di Era Globalisasi. Jurnal Populika, vol. 7, no. 1, hh. 12-21.

http://ejournal.widyamataram.ac.id/index.php/populika/article/view/24 [diakses tanggal 28 Desember 2022].

Baca juga : Sleep Hygiene, Cara Ampuh Terhindar dari Insomnia

*ALFINA RIYANTI HARIS, asal Jurusan KESEHATAN MASYARAKAT, Universitas Hasanuddin
ANGKATAN 2020.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *