Buku
Buku Secangkir untuk Renungan karya Hamzah Telah Terbit, Buruan Pesan
Berangkat dari kegelisahan dan perenungan tersebut, buku sederhana ini ditulis. Ide awal penulisan buku ini, bermula dari saat saya menemukan kembali catatan kecil berupa esai yang disunting dari berbagai sumber tentang beberapa pokok pikiran yang pernah saya tulis ketika baru selesai di bangku kuliah.
Baca juga: [Wawancara] Syamsul Alam, pembangkit literasi dari Biringbulu
Keyakinan dan keberanian menulis buku ini juga terinspirasi oleh pesan salah seorang kyai dan guru besar pakar hadis yang mengatakan; lã tamûtunna illã wa antum kãtibûn (janganlah kalian mati, kecuali telah menulis buku).
Sejak itu, saya mulai berfikir untuk mengulas lebih dalam lagi dan saya kembali mengumpulkan beberapa referensi yang berkaitan dengan pokok pikiran tersebut.
Testimoni
Salah satu pembaca yang juga Kepala Madrasah Aliyah Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat, Ilham Sopu menuliskan testimoni atas buku Secangkir untuk Renungan ini di dinding facebook miliknya.
Melihat judul buku ini, secangkir untuk renungan, tentu akan sangat menarik, untuk menelaah lebih jauh tentang isi buku ini, disini penulis buku ini, akan menyajikan secangkir bahan-bahan untuk direnungi, tentu saja bahasa secangkir, bukan berarti renungan renungan di sini bermakna dangkal karena memakai bahasa secangkir. Dan sangat tergantung apa yang ada di dalam cangkir itu. Kalau melihat covernya yang tertuang adalah copi.
Di sini, kita sudah bisa menebak bagaimana isi dari buku ini, tentu akan sangat menarik. Simbol kopi di sini bisa jadi adalah lambang kenikmatan. Ketika kita menikmati kumpulan tulisan dalam buku ini, ibarat kita menikmati kopi yang harum.


