Connect with us

Peristiwa

Perpustakaan

Published

on

Muhammad Musmulyadi
Spread the love
Oleh: Muhammad Musmulyadi
Berdasarkan riset yang dilakukan Litbang Kompas (2023) di antara 504 responden dari 34 provinisi terkait seberapa sering kunjungan ke Perpustakaan Daerah, hanya 16.2% yang sering berkunjung ke perpustakaan, sisanya kadang-kadang 31.5% dan sangat jarang 52 %. Secara umum, berdasarkan tingkat pendidikan hanya 51% pernah berkunjung ke perpustakaan dari kalangan bependidikan tinggi. Responden dari Tingkat Dasar hanya 16.3% dan menengan sekitar 38.6%.
Dari data di atas menunjukkan bahwa perpustakaan memang merupakan tempat yang terbilang sepi peminta. Meski mereka berpendidikan tinggi, hampir setengahnya tidak pernah berkunjung ke perpustakaan. Tentu ada banyak alasan, mulai dari warga kampus maupun masyarakat memang tidak gemar membaca sampai kepada perpustakaan sendiri yang terkesan pelayanannya kurang baik, fasilitas kurang memadai dan aksesnya hanya di tempat-tempat tertentu. Sebagaiman pengalaman penulis. Tidak semua, tapi kebanyakan.
Ada sekitar 8000 TBM yang terdaftar, sebagai opsi lain kemudah akses bacaan bagi masyarakat karena jauhnya perpustakaan. Tapi membangun perpustakaan berbasis masyarakat bukan hal mudah. Kendala operasional sering menjadi hambatan, pun meski sudah ada, ia tidak bisa berdiri sebagai perpustakaan saja, tapi harus berdiri sebagai ruang berkegiatan dan ruang belajar. Tujuannya menarik masyarakat datang dan terlibat.
Di komunitas kami (FLP Makassar) pernah membangun inisitaif ruang belajar dengan perpustakaan sebagai tempat utama. Semua pengunjungnya adalah anak-anak yang tinggal di sekitar perpustakaan. Tapi lambat laun “bangkrut” karena kontrak dengan pemilik rumah selesai. Hanya bertahan setahun.
TBM dan perpusatakaan tidak bisa berdiri hanya sebagai perpustakaan saja. Perlu ada inisiatif kecil seperti kegiatan-kegiatan pendidikan kepada masyarakat. Di perpustakaan milik senior Galang Pratama Muhammad, Rakit Gowa, tidak sekadar sebagai TBM, tapi tidak jarang mengadakan diskusi, pelatihan, dan bahkan secara professional mengelola penerbitan buku Penerbit Jariah Publishing yang mengasilkan keuntungan ekonomi. Ragam perpustakaan sekaligus bisnis banyak dilakukan oleh perpustakaan-perpustakaan rumahan.
Di China, sebagaimana Yang dan Liu (2021), mereka mendirikan sebuah pusat informasi intelektual bernama Intellectual Property Information Services Centres (IPIS) sebgagai pengembangan nilai guna dan manfaat perpustakaan agar menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Terobosan ini cukup cemerlang karena Masyarakat mengharapakan perpustakaan bisa memperluas layanannya. Seperti ruang berkegiatan, kegiatan kebudayaan, rekreatif, ekonomi, dan sosial (Kompas/Erika,19/05/2023).
Tapi sebelum melangkah jauh, kita harus melihat bagaimana persepsi masyarakat/pengunjung perpustakaan. Sebab hari ini perpustakaan hanya identik dengan tempat penyimpanan buku dan ruangan berdebu. Perpustakwan tidak ramah, ketika pengunjung minta dicarikan buku, itu dianggap menyusahkan. Pustakawan hari ini lebih tepat disebut sebagai penjaga buku (custodian/book keeper). Bahkan di masa silam, perpustakaan menjadi pembuangan untuk para pegawai yang bermasalah di suatu instansi (Maslhaha dan Mahardika, 2020).
Jadi tidak mengherankan jika hari ini kita masih menemui kondisi seperti di atas, pustakawan hanya jadi penjaga buku. Perpustakaan menjadi tempat pembuangan. Ini menandakan bahwa perpustakan tidak terlalu diperhatikan oleh pimpinan instansi. Semoga tidak terjadi di institusi pendidikan, terlebih jika hal itu terjadi di Perguruan Tinggi, Lembaga Pendidikan yang harusnya menjadikan perpustakaan sebagai bahan bakar utama.
Perpustakaan-perpustakaan di Indonesia sebenarnya telah melakukan kerja kolektif seperti di China. Tapi hanya sebatas perpustakaan yang memiliki anggaran besar dan manajemen pengelolaannya cukup profesional. Di Tingkat daerah, ruang berkegiatan sebenarnya ada, hanya saja tidak diinisiasi oleh perpustakaan sendiri, melainkan digerakkan oleh komunitas.
Jadi perpustakaan hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan. Tapi terbatas kepada hal-hal yang bersinggungan dengan pendidikan dan kebudayaan. Untuk mengembangkan perpustakaan agar memiliki nilai guna dan manfaat seperti sosial dan ekonomi masih terbilang jauh. Tapi bukan hal mustahil.
Memang bukan hal mustahil perpustakaan melahirkan inovasi dan produk besar yang memiliki dampak untuk lingkungannya. Mari kita lihat contoh inisiatif-inisiatif kecil yang melahirkan sesuatu hal besar hari ini. Liat saja amazon yang didirikan oleh Jeff Bezos di tahun 1994. Mulanya hanya toko buku daring namun bertransformasi menjadi raksasa teknologi global, yang berfokus pada perniagaan daring. Atau World Wide Web yang mulainya hanya untuk kebutuhan menyusun arsip dari riset-riset miliknya sehingga terpikirakan ide untuk membuat sebuah protokol di internet yang berfungsi sebagai sistem distribusi internet.
Di dalam negeri, ada hal yang besar hari ini yang mulanya adalah sesuatu yang kecil dan sederhana. Sebut saja Bank BRI yang didirikan oleh Raden Aria Wiriatmaja dengan nama De Poerwokertosche Hulpen Spaarbank der Indlandsche Hoofden yang awalnya adalah sebuah pengelolaan dana kas masjid untuk disalurkan kepada masyarakat. Namun hari ini menjadi bank milik negara dengan aset yang besar.
Jika serius, perpustakaan ataupun TBM-TBM di seluruh Indonesia bisa jadi akan melampaui cerita perusahaan-perusahaan besar di atas, dari hal kecil dan sederhana menjadi besar. Bisa saja tidak hanya menjadi pusat pengembangan dan pemajuan literasi di Indonesia, tidak hanya sebagai ruang kegiatan kebudayaan dan pendidikan tapi bisa lebih luas lagi nilai guna dan manfaatnya. Seperti menjadi laboratorium sosial, penggerak ekonomi masyarakat, melahirkan inovasi yang bernilai ekonomi. Atau mungkin menjadi bank besar seperti BRI, dengan nama Bank Syariah Alauddin (BSA), dengan tujuan untuk membangun ekonomi umat yang lagi terpuruk.
Bukan hal yang tidak mungkin. Tapi sebelum memulai langkah besar itu. Saya mau meminjam pertanyaan-pertanyaan Tulus Wulan Juni, Pustawakawan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, (tribun-timur.com, 21/12/2025), apakah Kepala Daerah memperhatikan dan mengunjungi perpustakaan daerahnya? Apakah Kepala Sekolah melaukan supervisi kepada perpustakaan sekolahnya? Dan apakah Rektor memperhatikan perpustakaan dan tenaga perpustakaannya?
***
Cukup ya. Terlalu panjang. Saya mau lanjut memenuhi undangan umat dulu. Jika ada yang maunundang juga, silakan kontak ya haha. Apalagi temanya cocok, misalanya; tip-tip jadi calon menantu idaman tanpa modal baju Korpri. 🤣🤣🤣
Nb: Inisiatif-inisiatif yang ditampilkan dibantu oleh Meta AI
Sumber:

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *