Budaya kita cuma paham menutupi tubuh, tetapi hobi menelanjangi privasi orang lain

WARNASULSEL.com – Semalam, perjalanan dari Polman-Makassar dengan mobil angkutan umum antar daerah, saya mendengar basa-basi yang paling basi antara dua lelaki dewasa.

Kali ini bukan tentang pelecehan seksual, diskriminasi atau, rasis. Ini benar-benar obrolan dua orang lelaki dewasa untuk mengisi kekosongan mereka.

Saya tengah mengumpulkan mood karena mual nyaris membuat saya tidak bertahan lagi (lagu patah hati yang diteriakkan lewat kerongkongan bikin saya mual. Lagu-lagu yang diputar supir kendaraan umum memang selalu bikin saya sakit kepala, entahlah, ini sepertinya tidak ilmiah).

Dan saya mendengar seorang di antara mereka bertanya dengan nada agak keras, “Jadi, gajimu di sana berapa?”

Omaigat! Pertanyaan paling basi itu diajukan setelah tahu kalau salah satu di antara mereka adalah pekerja di Arab Saudi. Dengan agak canggung, dia menjawab “Yaaa, sekitaran inilah ***, Pak.”

Dia bertanya kepada seseorang yang baru saja dia kenal beberapa menit yang lalu tentang gaji, jenis pekerjaan, detail pekerjaan, dll. Meskipun niatnya mungkin hanya untuk memperoleh informasi, sebaiknya bukan saat itu waktu dan tempatnya apalagi tanpa meminta izin atau mengutarakan niat baik sebelum bertanya.

Oke, bagi sebagian orang, bertanya gaji adalah pertanyaan paling wajar. Tetapi karakter setiap orang berbeda, banyak di antara kita yang menyimpan privasi sedalam-dalamnya dan menganggap perihal pendapatan adalah urusan personal yang hanya boleh diketahui oleh dia dan perusahaan (dan pemerintah, of course).

Uang kan selalu sensitif, membicarakan kondisi keuangan dengan orang yang tepat, yang menurutmu bisa jaga rahasia dan untuk keperluan tertentu saja.

Saya rasa bukan urusan kita untuk tahu seberapa banyak mereka bisa dapat uang dalam waktu sebulan dengan pekerjaan sejenis itu. Kecuali, lawan bicara kita memang menginfokannya terlebih dahulu.

Sering sekali orang-orang bertanya kepada saya, “Gajinya berapa?” Jika saya memiliki relasi romantis dengan seseorang, misalnya. Dan mereka ingin tahu seberapa kuat dia memperoleh uang.

Saya cuma jawab, “Saya tidak tahu, saya tidak pernah tanya soal gaji dan detail pekerjaannya.”

Meskipun saya mungkin sekali waktu memang tahu, tetapi informasi semacam itu bukan sesuatu yang layak untuk dibagikan kepada mereka yang hanya kepo dengan kehidupan seseorang.

Yaaa, untuk urusan privasi saya memang suka gaya Barat. Budaya kita cuma paham menutupi tubuh, tetapi hobi menelanjangi privasi orang lain.

Leave a Reply